PROLOGMEDIA – Sejak pertama kali biji kopi ditemukan ratusan hingga ribuan tahun yang lalu, kopi telah berkembang jauh melampaui sekadar minuman pengusir kantuk. Kopi menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan tradisi sejumlah masyarakat di dunia. Ia tak hanya hadir dalam cangkir, tetapi juga menyimpan kisah panjang perjalanan manusia—dari hutan liar di Afrika hingga ke dataran tinggi Indonesia. Di antara berbagai varietas dan jenis kopi yang ditemukan, sejumlah jenis kopi tertua masih eksis hingga kini, bahkan tetap dinikmati secara turun-temurun dalam budaya minum kopi masyarakat setempat. Menariknya, dari daftar kopi tertua di dunia itu, tiga di antaranya berasal dari Indonesia, sebuah negara kepulauan tropis yang memainkan peran besar dalam sejarah kopi dunia.
Jejak sejarah kopi tertua ini bermula ribuan tahun lalu di kawasan yang kini dikenal sebagai Ethiopia. Di sini tumbuh varietas kopi yang dikenal sebagai Ethiopian Heirloom, sekelompok varietas kopi yang bukan tanaman hasil seleksi modern, tapi tumbuh secara alami di hutan-hutan Ethiopia. Varietas kopi ini sudah ada sejak abad ke-9 dan dikenal sebagai salah satu kopi tertua di dunia. Ciri utama kopi ini adalah keragaman genetiknya yang luar biasa—banyak dari varietas ini belum sepenuhnya terdokumentasi, dan masing-masing pohon bisa memiliki karakter rasa yang unik. Rasa kopi Ethiopian Heirloom terkenal kompleks, dengan nuansa bunga, buah-buahan tropis, hingga aroma yang menyerupai wine; ini semua tercipta dari kondisi tanah, iklim, dan ketinggian kawasan tumbuhnya yang beragam. Kopi jenis ini bukan hanya sekadar minuman bagi masyarakat Ethiopia, tetapi juga bagian dari tradisi pertemuan dan ritual yang dijalankan turun-temurun, di mana proses menyeduh kopi menjadi simbol persahabatan dan penghormatan.
Selain varietas liar dari Ethiopia, dunia kopi mengenal pula Yemen Mocha, varietas kopi yang berasal dari wilayah pegunungan Yaman dan sudah dibudidayakan secara tradisional sejak abad ke-15. Nama “Mocha” sendiri berasal dari pelabuhan Mocha di Yaman, yang dulu menjadi pusat perdagangan kopi global. Berbeda dengan pengertian “mocha” dalam minuman modern yang sering mengacu pada kombinasi kopi dan cokelat, Yemen Mocha adalah varietas kopi asli yang dipandang penting dalam sejarah perdagangan kopi dunia. Biji kopi ini ditanam di tanah pegunungan tanpa pemupukan kimia, sehingga banyak yang menganggapnya sebagai kopi organik alami. Karakter rasanya cukup unik: perpaduan antara rasa cokelat yang lembut dan keasaman yang khas, yang kemudian memengaruhi nama sejumlah minuman kopi modern sekalipun.
Setelah melewati jejak panjang dari Afrika dan Arab, kopi akhirnya mencapai Nusantara melalui pedagang-pedagang di masa kolonial. Indonesia menjadi salah satu pusat budidaya kopi sejak abad ke-17 dan memainkan peran penting dalam sejarah kopi dunia. Salah satu jenis kopi tertua di dunia yang berasal dari Indonesia adalah Java Arabica. Bibit kopi Arabika pertama kali dibawa ke Pulau Jawa oleh pedagang VOC pada akhir abad ke-17. Di sana, tanaman kopi berkembang pesat, dan Pulau Jawa menjadi salah satu pusat produksi kopi terbesar di dunia saat itu. Kopi Java Arabica dikenal memiliki body yang tebal dengan karakter rasa klasik berupa cokelat manis, molase, serta nuansa kayu dan rempah. Bahkan sampai sekarang istilah “java” sering digunakan oleh para pecinta kopi di seluruh dunia untuk menyebut secangkir kopi hitam, menunjukkan besarnya pengaruh kopi dari Jawa dalam budaya kopi global.
Baca Juga:
10 Makanan Sehat Redakan Asam Lambung: Bebas Perih, Kembali Nyaman!
Tidak hanya Java, Indonesia menyumbang lebih banyak lagi varietas kopi tua yang hingga kini tetap dinikmati. Salah satunya adalah kopi Mandheling dari Sumatra Utara. Dinamai dari suku Mandailing yang menjadi pelopor penanamannya, kopi ini mulai dibudidayakan di era kolonial Belanda sekitar tahun 1830-an. Kopi Mandheling memiliki tubuh yang penuh dan tekstur yang kental, dengan cita rasa earthy yang khas serta aroma rempah yang kuat. Metode pengolahan tradisional yang dikenal sebagai giling basah turut memberikan karakter unik pada biji kopi ini, membuatnya berbeda dari kopi-kopi lain yang diproses dengan cara yang lebih modern.
Di Pulau Sumatra juga berkembang varietas kopi Gayo dari dataran tinggi Aceh. Biji kopi Gayo tumbuh di lereng perbukitan dengan ketinggian yang cukup tinggi, di atas 1.100 meter di atas permukaan laut. Tanah vulkanik yang kaya mineral, iklim tropis yang lembap, serta metode pengolahan tradisional yang digunakan oleh petani lokal, semuanya memberikan karakter tersendiri bagi kopi Gayo—kelembutan rasa, asam seimbang, dan sentuhan aroma buah. Kopi Gayo bahkan mendapat pengakuan internasional berupa sertifikasi Indikasi Geografis, menunjukkan statusnya sebagai komoditas kopi berkualitas tinggi dari Indonesia.
Jenis kopi tertua lainnya yang berasal dari Indonesia adalah Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kopi masuk ke wilayah ini sejak abad ke-16 melalui pedagang Arab dan kemudian dikembangkan secara lebih luas oleh para penjajah Belanda pada abad ke-19. Dataran tinggi Toraja yang terletak di pegunungan dengan tanah vulkanik subur, serta ketinggian yang ideal untuk pertumbuhan kopi Arabika, menjadikan kawasan ini salah satu wilayah produksi kopi unggulan di Indonesia hingga sekarang. Kopi Toraja dikenal memiliki tubuh kopi yang kaya dengan keasaman rendah, rasa yang dalam, serta nuansa cokelat hitam, kacang, dan buah matang. Selain itu, cara-cara tradisional dalam memanen dan mengolah biji kopi yang masih dipraktikkan oleh banyak petani lokal menjadikan kopi Toraja sebagai pilar penting dari budaya kopi Indonesia yang dihargai di pasar internasional.
Menengok kembali sejarah panjang perjalanan kopi dunia, kita dapat menyaksikan bagaimana minuman ini telah melintasi benua dan zaman, membawa serta cerita-cerita tentang eksplorasi, perdagangan, budaya, dan adaptasi. Dari hutan liar Ethiopia hingga ke perkebunan di pulau-pulau Nusantara, kopi menjadi saksi bisu atas hubungan panjang antara manusia dan alam. Setiap varietas kopi tua tak hanya menyimpan rasa dan aroma yang khas, tetapi juga kisah tentang bagaimana kopi itu sampai di cangkir kita sekarang—melibatkan pedagang kuno, petani gigih, hingga perkembangan teknologi pertanian yang terus berubah.
Baca Juga:
Rahasia Kulit Sehat: Pilih Sabun Wajah Sesuai Jenis Kelamin?
Dalam setiap tegukan secangkir kopi tua, ada jejak sejarah yang mengalir. Ada cerita tentang ibu-ibu di lereng pegunungan Aceh yang menanam biji kopi setiap musim, tentang buruh perkebunan di Jawa yang menanam dan memanen kopi Arabika yang sama yang pernah diekspor ke Eropa, dan tentang bagaimana biji kopi yang tumbuh liar di Afrika akhirnya dikenal di seluruh penjuru dunia. Itulah kekuatan kopi: ia bukan hanya minuman, tetapi juga representasi dari sejarah panjang peradaban manusia yang terus dinikmati hingga hari ini.









