Menu

Mode Gelap

Kuliner · 8 Nov 2025 13:04 WIB

MBG: Dari Program Gizi Jadi Berkah Ekonomi Nelayan Kaur


 MBG: Dari Program Gizi Jadi Berkah Ekonomi Nelayan Kaur Perbesar

BENGKULU – Di pesisir Kabupaten Kaur, Bengkulu, angin perubahan berhembus kencang, membawa harapan dan kesejahteraan bagi para nelayan yang selama ini bergulat dengan ketidakpastian ekonomi. Sebuah program bernama Makan Bergizi Gratis (MBG) telah mengubah wajah kehidupan mereka, menjadikan ikan yang dulunya terbuang kini menjadi sumber penghasilan tetap.

Fatmawati, seorang perempuan nelayan, dengan cekatan memisahkan daging ikan tuna dari kulit, kepala, dan tulangnya. Bersama rekan-rekannya, ia bekerja dengan terampil, mengubah ikan hasil tangkapan suami mereka menjadi potongan fillet siap olah.

Aktivitas ini menjadi rutinitas baru bagi mereka, dilakukan beberapa saat setelah ratusan kilogram ikan tuna mendarat di pesisir.

“Kami diminta (menyuplai) dua dapur SPPG di Desa Suka Bandung, Kecamatan Kaur Selatan, dan Desa Tanjung Iman, Kecamatan Tanjung Kemuning. Dua dapur ini satu minggu sekali menghidangkan menu ikan laut untuk ribuan siswa. Kami dipercaya (untuk) memasok kebutuhan ikan laut,” kata Fatmawati, dengan nada bangga.

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) adalah unit yang bertanggung jawab untuk menyediakan makanan bergizi bagi siswa sekolah dalam program MBG. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah, sehingga mereka dapat belajar dan berkembang dengan optimal.

Bagi Fatmawati dan para istri nelayan lainnya, kegiatan ini bukan hanya sekadar rutinitas baru, tetapi juga membuka sumber penghasilan tambahan yang sangat berarti. “Satu kali membersihkan tuna, kami diupah Rp 100.000. Jadi selama seminggu, kami dapat uang Rp 200.000.

Lumayan, dibandingkan selama ini para istri hanya menunggu suami pulang dari laut. Sekarang, kami juga punya pendapatan,” ujar Fatmawati, dengan senyum merekah.

Suami Fatmawati, Martin, adalah seorang nelayan sekaligus Ketua Kelompok Koperasi Nelayan Fajar Kaur Nusantara di Desa Pasar Lama, Kecamatan Kaur Selatan. Kelompok yang beranggotakan 30 nelayan ini, sejak tujuh bulan terakhir, dipercaya memasok 1,5 ton daging tuna dan ikan marlin setiap bulan untuk kebutuhan dua dapur SPPG.

“Kami bersyukur dipercaya memasok ikan untuk program MBG. Jadi, tangkapan kami terserap. Selama ini, kalau ikan melimpah dan pembeli tidak ada, kami bagikan ke warga. Bahkan sering kali ikan membusuk. Limbahnya biasanya kami bakar atau kubur karena tidak ada yang membeli,” cerita Martin, mengenang masa-masa sulit yang pernah mereka alami.

Kini, situasi telah berubah drastis. Para nelayan tidak lagi kesulitan mencari pembeli, justru mereka harus memastikan pasokan ikan tetap mencukupi.

“Kadang sedikit karena badai atau cuaca. Saat tangkapan sedikit, kami menghubungi nelayan di luar kelompok untuk membeli tuna mereka,” ujar Martin, menunjukkan semangat gotong royong yang masih kuat di kalangan nelayan.

Daging fillet tuna dan marlin dibeli oleh dapur SPPG dengan harga Rp 60.000 per kilogram. Dengan pesanan mencapai 1,5 ton per bulan, maka total pendapatan yang mereka peroleh adalah Rp 90 juta.

Program ini tidak hanya membantu menyediakan makanan bergizi untuk anak-anak sekolah, tetapi juga memberikan napas ekonomi baru bagi para nelayan dan keluarga mereka di pesisir Kaur.

“Uang itu mengalir ke nelayan dan keluarganya. Makin lama, pesanan makin bertambah, ke depan, kami harus makin siap serta melibatkan lebih banyak nelayan lagi,” kata Martin, dengan optimisme yang terpancar dari wajahnya.

Martin bercerita bahwa para nelayan di desanya biasanya berangkat melaut sejak dini hari. Sekitar pukul 02.00 WIB, sebanyak 30 nelayan dengan 11 kapal menembus malam menuju tengah laut, sejauh 60 mil dari garis pantai, untuk memancing tuna di rumpon-rumpon milik swasta.

“Pukul 02.00 WIB, nelayan berangkat ke laut. Lalu, subuh pukul 05.00 WIB tiba di lokasi pemancingan rumpon milik swasta. Di sana, kami diperbolehkan memancing tuna. Pukul 11.00 WIB siang, nelayan pulang, maka pukul 17.00 WIB tiba di desa membawa tuna dan ikan marlin yang dipesan oleh dapur SPPG,” tuturnya, menggambarkan rutinitas yang melelahkan namun kini terasa lebih bermakna.

Setibanya di darat, ikan disimpan di storage. Keesokan harinya, tuna dan marlin dibersihkan sebelum dikirim ke dapur-dapur MBG. Di dapur-dapur inilah, ikan-ikan segar tersebut diolah menjadi hidangan lezat dan bergizi untuk disantap oleh ribuan siswa sekolah.

Baca Juga:
Teh Hijau: Rahasia Kesehatan Otak dan Jantung Menurut Ahli Gizi

Kasmi Harasti, perwakilan dari dua dapur MBG di Desa Suka Bandung dan Desa Tanjung Iman, mengatakan bahwa pihaknya menyediakan menu hasil laut setiap hari untuk siswa sekolah. Hal ini memastikan bahwa anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Kisah sukses program MBG di Kaur, Bengkulu, ini menjadi bukti nyata bahwa program yang tepat sasaran dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat. Dari limbah yang tak bernilai, kini ikan menjadi berkah bagi para nelayan, memberikan penghasilan tetap dan meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka.

Lebih dari itu, program ini juga membantu meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah, menciptakan generasi penerus bangsa yang sehat dan cerdas.

Kisah inspiratif dari Kaur ini juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, kelompok nelayan, dan masyarakat dalam menciptakan program yang berkelanjutan. Pemerintah daerah berperan dalam memfasilitasi program MBG dan memastikan bahwa program tersebut berjalan dengan lancar dan efektif.

Kelompok nelayan berperan dalam menyediakan pasokan ikan yang berkualitas dan memastikan bahwa para nelayan mendapatkan harga yang adil untuk hasil tangkapan mereka. Masyarakat berperan dalam mendukung program ini dan memastikan bahwa anak-anak mereka mendapatkan makanan bergizi yang layak.

Keberhasilan program MBG di Kaur juga dapat menjadi contoh bagi daerah-daerah lain di Indonesia yang memiliki potensi sumber daya laut yang melimpah.Dengan mengadopsi model yang serupa, daerah-daerah tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan lokal dan meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah.

Namun, tantangan yang dihadapi dalam menjalankan program MBG juga tidak sedikit. Salah satu tantangan utama adalah memastikan pasokan ikan yang stabil dan berkualitas.

Fluktuasi cuaca dan musim dapat mempengaruhi hasil tangkapan nelayan, sehingga perlu ada strategi untuk mengatasi masalah ini. Selain itu, perlu juga ada upaya untuk meningkatkan kualitas produk perikanan dan memastikan bahwa ikan yang dikonsumsi aman dan sehat.

Tantangan lainnya adalah memastikan distribusi makanan yang efisien dan merata. Daerah-daerah yang terpencil dan sulit dijangkau mungkin mengalami kesulitan dalam mendapatkan pasokan makanan yang cukup. Oleh karena itu, perlu ada sistem logistik yang baik untuk memastikan bahwa semua anak sekolah mendapatkan makanan bergizi yang layak.

Selain itu, perlu juga ada upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi yang seimbang. Masyarakat perlu diberikan informasi yang akurat dan mudah dipahami tentang manfaat mengonsumsi makanan bergizi, khususnya ikan.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, diharapkan mereka akan lebih termotivasi untuk mendukung program MBG dan memastikan bahwa anak-anak mereka mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi.

Lebih jauh lagi, program MBG dapat dikembangkan menjadi program yang lebih komprehensif yang tidak hanya menyediakan makanan bergizi, tetapi juga memberikan edukasi tentang gizi dan kesehatan.

Anak-anak sekolah dapat diajarkan tentang pentingnya mengonsumsi makanan yang seimbang dan berolahraga secara teratur. Mereka juga dapat diajarkan tentang cara mencegah penyakit dan menjaga kesehatan diri.

Dengan demikian, program MBG tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Program ini dapat membantu menciptakan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, dan produktif.

Kisah sukses program MBG di Kaur, Bengkulu, adalah contoh bagaimana inovasi, kolaborasi, dan komitmen dapat mengubah kehidupan masyarakat. Program ini menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan semangat gotong royong, kita dapat mengatasi tantangan dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua.

Program MBG bukan hanya tentang memberikan makanan bergizi, tetapi juga tentang memberikan harapan dan kesempatan bagi anak-anak Indonesia untuk meraih impian mereka.

Baca Juga:
Jembatan Kewek Yogyakarta Kritis, Lalu Lintas Dialihkan ke Jalur Alternatif

 

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pasar Kue Subuh Senen: Denyut Ekonomi dan Tradisi Kuliner Jakarta yang Tak Pernah Tidur

26 Desember 2025 - 19:57 WIB

Rahasia Singkong Goreng Merekah dan Empuk Tanpa Air Es

26 Desember 2025 - 19:08 WIB

Kreativitas Kuliner Nusantara: Ragam Camilan dan Olahan Unik dari Daun Pepaya

26 Desember 2025 - 18:24 WIB

Wajib Tahu, Ini Bagian Udang yang Aman Dimakan dan Sebaiknya Dihindari

25 Desember 2025 - 02:07 WIB

Waspada Saat Terbang, Ini Makanan yang Sebaiknya Dihindari di Pesawat

25 Desember 2025 - 01:52 WIB

Ayam Panggang Bumbu Pedas yang Meresap, Daging Empuk dan Juicy

23 Desember 2025 - 18:37 WIB

Trending di Kuliner