Menu

Mode Gelap

Berita · 8 Nov 2025 16:31 WIB

Resah, Warga Jombang Keluhkan Fenomena Manusia Gua di Hutan


 Resah, Warga Jombang Keluhkan Fenomena Manusia Gua di Hutan Perbesar

JOMBANG – Di jantung pedalaman hutan Jombang, di antara rimbunnya pepohonan dan tebing-tebing terjal Pegunungan Anjasmoro, tersembunyi sebuah gua bernama Anggas Wesi. Gua ini bukan hanya sekadar formasi geologis biasa, melainkan juga rumah bagi sekelompok orang yang memilih gaya hidup unik dan kontroversial: manusia gua.

Fenomena ini, yang telah berlangsung selama beberapa dekade, kini menjadi sumber keresahan bagi warga sekitar. Selain menyebabkan gua menjadi kumuh dan tidak terawat, keberadaan orang-orang ini juga menimbulkan pertanyaan tentang asal-usul mereka dan tujuan mereka tinggal di dalam hutan.

Pasangan suami istri Sakri (76) dan Poniyem (50), yang tinggal di dekat Gua Anggas Wesi, adalah beberapa di antara warga yang merasa resah. Rumah mereka, yang terletak di Hutan Watuseno, Desa Sumberjo, adalah yang terdekat dengan gua tersebut.

Untuk mencapai gua dari rumah mereka, dibutuhkan perjalanan yang cukup menantang, melewati jalan setapak berliku di dalam hutan jati yang lebat, jalur yang curam dan licin, serta medan yang sangat curam sekitar 50 meter dari tempat parkir sepeda motor.

Sakri menuturkan bahwa keberadaan Sudarmaji alias Mbah Darmaji, yang telah puluhan tahun menghuni Gua Anggas Wesi, membuat gua tersebut menjadi kumuh.

Menurutnya, pihak Perhutani pernah menegur dan bahkan merelokasi Sudarmaji dari gua, namun permintaan tersebut tidak diindahkan.

“Oleh mandor, mantri Perhutani (Sudarmaji) sudah dilarang di situ, karena lokasinya kotor dan bau, sehingga tamu menjadi berkurang,” kata Sakri.

Gua Anggas Wesi dulunya merupakan destinasi wisata religi yang populer, menarik banyak pengunjung yang datang untuk melakukan ritual. Namun, seiring dengan semakin kumuhnya gua tersebut, jumlah wisatawan semakin berkurang. Sakri mengaku terakhir kali mengantarkan tamu ke gua sekitar dua tahun lalu.

Baca Juga:
Rahasia Langsing Alami: Daftar Sayuran Kaya Serat yang Bikin Kenyang Tanpa Kalori!

Poniyem menambahkan bahwa Sudarmaji adalah orang yang “rumit” dan “menjengkelkan”. Ia mengandalkan pemberian tamu untuk makan, dan seringkali menggerutu jika tamu tidak membawa apa-apa.

Pengamatan di lokasi menunjukkan bahwa ruangan pertama Gua Anggas Wesi cukup luas, sekitar 7×5 meter persegi. Di sisi kiri terdapat tempat tidur Sudarmaji, yang tampak kotor dan bau apek. Di sebelah kanan terdapat lorong setinggi 1 meter menuju ruangan untuk semedi, di mana terdapat dua arca berdiri dan peralatan ritual.

Di samping kanan gua, kondisi semakin kumuh dengan banyaknya panci, ember, dan galon di bawah tetesan air gua. Di seberangnya terdapat dapur dengan tungku berbahan bakar kayu, bubu dapur, dan peralatan memasak.

Keresahan juga dirasakan oleh Ketua LMDH Mitra Wana Sejahtera Desa Lebak Jabung, Achmad Yani. Ia mengatakan bahwa semakin bertambahnya orang-orang yang tidak dikenal dan tidak memiliki identitas yang menghuni gua, membuat warga khawatir bahwa mereka adalah pelarian atau memiliki masalah lain.

Mayoritas pengunjung Gua Anggas Wesi melewati Dusun Jabung, Desa Lebak Jabung, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Yani berharap pemerintah dan Perhutani segera mengambil langkah tegas untuk mengatasi masalah ini, agar gua alami tersebut tidak dihuni semaunya sendiri dan dapat dikembangkan menjadi destinasi pariwisata yang menarik.

Selain Sudarmaji, terdapat enam orang lainnya yang menghuni area Gua Anggas Wesi. Mereka mendirikan gubuk di sebelah kanan gua atau persis di atas ngarai. Kepala Dusun Jabung, Irwandi, menuturkan bahwa semua manusia gua itu tidak pernah meminta izin atau permisi.

Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jabung, Tarmidi, menjelaskan bahwa Sudarmaji telah menghuni Gua Anggas Wesi sejak sekitar tahun 1983 atau 42 tahun silam. Sudarmaji mengaku berasal dari Boyolali, Jawa Tengah, dan mengeklaim dirinya sebagai juru kunci gua.

Tarmidi juga mengatakan bahwa pihaknya telah berupaya untuk memindahkan Sudarmaji ke gubuk di luar gua, namun Sudarmaji menolak. Sedangkan enam orang yang tinggal di gubuk sebelah kanan Gua Anggas Wesi merupakan satu keluarga asal Jogoroto yang tinggal di tempat tersebut untuk menjalani ritual. Pihaknya saat ini sedang menempuh upaya persuasif untuk memulangkan mereka.

Baca Juga:
Gus Yahya Sungkem ke Sinta Wahid: Momen Haru Usai Gus Dur Jadi Pahlawan Nasional!

Fenomena manusia gua di Jombang ini adalah masalah kompleks yang membutuhkan solusi yang komprehensif. Pemerintah dan pihak terkait perlu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi keresahan warga, menjaga kelestarian lingkungan, dan memastikan keamanan dan ketertiban di wilayah tersebut.

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita