JAKARTA – Suasana duka dan keprihatinan masih menyelimuti SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, pasca-ledakan yang mengguncang sekolah tersebut pada Jumat (7/11). Insiden tragis ini tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma mendalam bagi puluhan siswa dan seluruh komunitas sekolah.
Hingga hari ini, penyelidikan atas ledakan tersebut terus berlanjut. Pihak kepolisian bekerja keras untuk mengungkap penyebab pasti dan motif di balik kejadian ini. Sementara itu, perhatian utama tertuju pada kondisi para korban yang masih menjalani perawatan intensif di berbagai rumah sakit di Jakarta.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan bahwa total korban akibat ledakan mencapai 96 orang. Dari jumlah tersebut, 29 korban masih harus mendapatkan perawatan di rumah sakit, tersebar di RS Islam Cikini, RS Yarsi, dan RS Pertamina.
Meskipun sebagian besar korban menunjukkan perkembangan positif dan semangat untuk kembali bersekolah, beberapa di antaranya masih memerlukan penanganan khusus.
Di RS Islam Cikini, sebagian besar pasien telah dipindahkan ke ruang rawat inap, namun dua siswa masih berada di ICU karena kondisi mereka yang membutuhkan perhatian lebih intensif. Sementara itu, di RS Yarsi, satu korban masih berjuang di ruang ICU akibat trauma pada saluran cerna dan luka bakar yang cukup luas.
Tim medis telah melakukan tindakan pembedahan darurat dan merencanakan operasi lanjutan untuk menangani luka bakar yang diderita.
Salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan dari ledakan ini adalah gangguan pendengaran yang dialami oleh sebagian besar korban. Direktur Utama RS Islam Jakarta Cempaka Putih, Pradono Handojo, menjelaskan bahwa sekitar dua pertiga dari korban mengalami masalah pada indra pendengaran.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Direktur Medis RS Yarsi, dr. Muhammadi, yang menyebutkan bahwa beberapa pasien di rumah sakitnya mengalami hearing loss dan akan segera menjalani diagnosis lanjutan oleh dokter spesialis THT.
Pihak kepolisian telah mengamankan seorang siswa SMAN 72 yang diduga sebagai pelaku ledakan. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjelaskan bahwa terduga pelaku juga tengah menjalani perawatan medis dan kondisinya semakin membaik.
Polisi berharap, dengan membaiknya kondisi terduga pelaku, proses penyidikan dapat segera dilakukan untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik insiden ini.
Baca Juga:
5 Destinasi Wisata Ramah Anak di Jawa Timur untuk Akhir Pekan Keluarga
Selain mengamankan terduga pelaku, tim penyidik juga telah menemukan sejumlah barang bukti pendukung di lokasi ledakan. Bukti-bukti tersebut, termasuk tulisan, serbuk yang diduga dapat menimbulkan ledakan, dan catatan-catatan lain, sedang dikumpulkan dan dianalisis untuk mengungkap motif dan kronologi kejadian.
Polisi juga melakukan pemeriksaan terhadap media sosial para siswa dan keluarga terduga pelaku untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap.
Salah satu dugaan yang mencuat adalah motif bullying atau perundungan yang mungkin menjadi pemicu tindakan nekat terduga pelaku. Kapolri membenarkan bahwa dugaan ini menjadi salah satu fokus pendalaman dalam penyelidikan.
Polisi juga berusaha mencari tahu apakah terduga pelaku terpapar paham tertentu atau tertarik pada konten-konten yang dapat memengaruhi tindakannya.
Pemerintah telah mengambil langkah cepat untuk memberikan dukungan dan penanganan bagi para korban dan keluarga mereka. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) memastikan bahwa seluruh biaya pengobatan dan perawatan akan ditanggung oleh pemerintah.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pusat trauma healing yang akan dibangun di rumah sakit dan lingkungan sekolah.
Pusat ini akan bekerja sama dengan KPAI dan psikolog untuk memberikan pelayanan dan penanganan bagi siswa yang mengalami trauma akibat ledakan.
Mensos Gus Ipul juga menjamin bahwa seluruh korban akan mendapatkan rehabilitasi medis dan sosial. Setelah rehabilitasi, langkah-langkah pemberdayaan akan dilakukan untuk membantu para korban kembali beradaptasi dengan kehidupan normal.
Tragedi di SMAN 72 Jakarta ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan sekolah. Selain itu, kasus ini juga menyoroti masalah bullying yang masih menjadi ancaman serius bagi generasi muda.
Baca Juga:
7 Penyebab Tubuh Terasa Lelah tetapi Sulit Tidur Serta Cara Efektif Mengatasinya
Diperlukan upaya bersama dari semua pihak, termasuk sekolah, keluarga, dan masyarakat, untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan dan perundungan. Semoga para korban segera pulih dan mendapatkan keadilan, serta tragedi serupa tidak terulang kembali di masa depan.









