Menu

Mode Gelap

Berita · 11 Nov 2025 20:28 WIB

17 Tahun Berjuang Lewati Lumpur: Kisah Guru Honorer di Pandeglang Gugah Hati


 17 Tahun Berjuang Lewati Lumpur: Kisah Guru Honorer di Pandeglang Gugah Hati Perbesar

PANDEGLANG – Di sebuah pelosok desa bernama Pasir Gadung, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Banten, terukir sebuah kisah pengabdian yang begitu menyentuh hati. Di sana, seorang guru honorer bernama Apwan Munandar, dengan penuh dedikasi, telah mengabdikan dirinya selama 17 tahun untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Namun, perjalanan menuju sekolah bukanlah perkara mudah baginya maupun para siswanya.

Setiap hari, Apwan dan para siswa SDN Turus 5 harus berjibaku melewati jalan rusak dan berlumpur yang menjadi satu-satunya akses menuju sekolah. Kondisi jalan yang memprihatinkan ini telah menjadi pemandangan sehari-hari selama belasan tahun, menguji kesabaran dan semangat mereka untuk terus belajar dan mengajar.

Jalan Berlumpur: Akses Utama yang Membahayakan

Kisah perjuangan Apwan dan para siswa ini viral di media sosial, memperlihatkan bagaimana mereka harus melewati jalan berlumpur yang mirip kubangan. Video yang beredar memperlihatkan sejumlah pelajar berseragam Pramuka berjalan dengan susah payah di tengah lumpur, sementara suara seorang pria terdengar mengucapkan kalimat sindiran tentang keadilan yang seolah tidak berlaku bagi mereka.

Apwan mengungkapkan bahwa jalan rusak dan berlumpur tersebut merupakan akses utama bagi warga dan anak sekolah. Tidak ada jalan alternatif lain yang bisa mereka gunakan. Kondisi ini tentu sangat membahayakan, terutama bagi para siswa yang setiap hari harus melewati jalan tersebut.

“Hampir 17 tahun saya mengabdi lewat sana (jalan rusak). Itu akses utama warga dan anak sekolah melintas karena tidak ada alternatif lain, mau kemana lagi,” kata Apwan dengan nada prihatin.

Ia menambahkan, banyak siswa dan pengendara yang terjatuh saat melintasi jalan yang mirip kubangan tersebut. Lumpur yang licin dan dalam membuat mereka kesulitan menjaga keseimbangan, terutama saat musim hujan tiba.

500 Meter Kubangan Lumpur di Samping Proyek Tol

Menurut Apwan, sekitar 2 kilometer jalan menuju sekolahnya mengalami kerusakan. Namun, yang paling parah adalah sekitar 500 meter jalan yang berlumpur dan terletak di samping proyek jalan tol Serang-Panimbang. Kondisi ini diduga disebabkan oleh aktivitas proyek tol yang memperparah kerusakan jalan.

Baca Juga:
Enam Makanan Kaleng yang Ternyata Baik untuk Kesehatan Usus Menurut Ahli Gizi

“500 meteran yang berlumpur, karena itu berada di pinggir tol,” jelas Apwan.

Kondisi jalan yang memprihatinkan ini tentu sangat berdampak pada aktivitas belajar mengajar di SDN Turus 5. Para siswa seringkali datang ke sekolah dengan pakaian kotor dan berlumpur, sehingga mengurangi semangat mereka untuk belajar. Apwan pun merasa kasihan melihat kondisi anak didiknya yang harus berjuang keras untuk mendapatkan pendidikan.

Harapan Akan Keadilan dan Perhatian Pemerintah

Apwan berharap pemerintah segera melakukan penanganan terhadap jalan rusak tersebut. Ia ingin agar para siswa merasa nyaman dan aman saat pergi dan pulang sekolah. Apwan juga mempertanyakan keadilan bagi anak-anak Indonesia yang harus berjuang keras untuk mendapatkan pendidikan di tengah keterbatasan infrastruktur.

“Pas ke sekolah kotor, berlumpur semua, kasihan, ini anak Indonesia, masih bangsa Indonesia, di mana keadilannya,” ucap Apwan dengan nada penuh harap.

Kisah Apwan dan para siswa SDN Turus 5 ini adalah cerminan dari kondisi pendidikan di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Keterbatasan infrastruktur dan akses yang sulit menjadi tantangan besar bagi para guru dan siswa untuk meraih cita-cita.

Momentum untuk Memperbaiki Infrastruktur Pendidikan

Kisah ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk lebih memperhatikan kondisi infrastruktur pendidikan di daerah-daerah terpencil. Perbaikan jalan dan fasilitas pendidikan lainnya akan memberikan dampak positif bagi kualitas pendidikan dan semangat belajar siswa.

Selain itu, perhatian dan dukungan kepada para guru honorer yang telah berdedikasi di daerah-daerah terpencil juga sangat penting. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang telah berjuang untuk mencerdaskan anak-anak bangsa di tengah keterbatasan.

Baca Juga:
Polda Banten Pastikan Keamanan Laga Dewa United vs Persis Solo di Banten International Stadium

Semoga kisah Apwan dan para siswa SDN Turus 5 ini dapat membuka mata hati para pemangku kebijakan dan masyarakat luas untuk lebih peduli terhadap pendidikan di daerah-daerah terpencil. Keadilan dan kesempatan yang sama harus diberikan kepada seluruh anak Indonesia, tanpa terkecuali.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita