Menu

Mode Gelap

Berita · 15 Nov 2025 14:27 WIB

Jumenengan Paku Buwono XIV: Jokowi dan Sultan HB X Hadiri Penobatan Raja Solo


 Jumenengan Paku Buwono XIV: Jokowi dan Sultan HB X Hadiri Penobatan Raja Solo Perbesar

SOLO – Di jantung kota Solo, Jawa Tengah, atmosfer khidmat dan keagungan terasa begitu kental. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, saksi bisu perjalanan panjang sejarah dan kebudayaan Jawa, kembali menjadi pusat perhatian. Pada hari yang istimewa ini, Sabtu, 15 November 2025, Keraton Solo menggelar upacara Jumenengan Dalem Nata Binayangkare, sebuah ritual penobatan raja baru, Paku Buwono XIV. Upacara ini bukan sekadar pergantian tahta, melainkan juga sebuah perayaan atas kelanjutan tradisi luhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Sejak pagi hari, ribuan abdi dalem dan tamu undangan mulai memadati area keraton. Mereka datang dari berbagai penjuru, tidak hanya dari Solo dan sekitarnya, tetapi juga dari berbagai daerah di Nusantara. Kehadiran mereka menjadi simbol penghormatan dan dukungan terhadap Keraton Solo, serta pengakuan atas peran pentingnya dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan Jawa.

Di antara para tamu undangan yang hadir, tampak tokoh-tokoh penting dari berbagai lapisan masyarakat. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, turut hadir sebagai bentuk penghormatan negara terhadap tradisi dan kebudayaan bangsa. Kehadiran beliau juga menjadi simbol dukungan pemerintah terhadap upaya pelestarian warisan budaya yang dilakukan oleh Keraton Solo.

Selain Presiden Jokowi, Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, juga hadir dalam upacara Jumenengan ini. Kehadiran Sultan HB X memiliki makna yang sangat penting, mengingat hubungan historis dan kultural yang erat antara Keraton Solo dan Keraton Yogyakarta.

Kedua keraton ini merupakan pewaris dari Kerajaan Mataram Islam, sebuah kerajaan besar yang pernah menguasai sebagian besar wilayah Jawa. Kehadiran Sultan HB X menjadi simbol persatuan dan kesatuan antara kedua keraton, serta komitmen bersama untuk menjaga dan mengembangkan kebudayaan Jawa.

Ketua Panitia Jumenengan Dalem Nata Binayangkare SISKS Pakoe Boewono XIV, GKR Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengundang sejumlah tokoh penting lainnya, termasuk Wali Kota Solo, Gubernur Jawa Tengah, Kapolda, dan Kapolres.

Baca Juga:
Gelombang PHK Terjang Industri Ban Citeureup: Masa Depan Pekerja di Ujung Tanduk

Undangan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap pemerintah daerah dan aparat keamanan, serta harapan agar mereka dapat terus mendukung Keraton Solo dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Namun, di balik kemeriahan dan keagungan upacara Jumenengan ini, terdapat pula aturan dan tradisi yang harus diikuti oleh para tamu undangan. Salah satunya adalah larangan mengenakan batik bermotif parang. Motif parang dianggap memiliki makna yang sakral dan hanya boleh dikenakan oleh keluarga kerajaan. Larangan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap tradisi dan adat istiadat yang berlaku di Keraton Solo.

Upacara Jumenengan Dalem Nata Binayangkare SISKS Pakoe Boewono XIV merupakan momen penting bagi Keraton Solo dan seluruh masyarakat Jawa. Upacara ini bukan hanya sekadar ritual penobatan raja baru, melainkan juga sebuah perayaan atas kelanjutan tradisi luhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Kehadiran tokoh-tokoh penting dari berbagai lapisan masyarakat menunjukkan dukungan dan penghormatan terhadap Keraton Solo, serta pengakuan atas peran pentingnya dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan Jawa.

Momentum ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya bangsa. Keraton Solo, sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa, memiliki peran yang sangat penting dalam upaya ini. Dengan dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan seluruh pihak terkait, Keraton Solo dapat terus menjalankan tugas dan fungsinya sebagai penjaga tradisi dan pelestari kebudayaan Jawa.

Selain itu, upacara Jumenengan ini juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi dan persatuan antar berbagai elemen masyarakat. Kehadiran tokoh-tokoh penting dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa perbedaan bukan menjadi penghalang untuk bersatu dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan bangsa. Semangat persatuan dan kesatuan ini sangat penting untuk menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, termasuk tantangan globalisasi dan modernisasi.

Baca Juga:
40 Objek Wisata Indonesia Terindah & Mendunia: Dari Raja Ampat Hingga Malioboro!

Sebagai penutup, upacara Jumenengan Dalem Nata Binayangkare SISKS Pakoe Boewono XIV merupakan sebuah peristiwa bersejarah yang patut dikenang dan diapresiasi. Semoga dengan penobatan raja baru ini, Keraton Solo dapat terus berkontribusi dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan Jawa, serta memberikan inspirasi bagi kita semua untuk mencintai dan melestarikan warisan budaya bangsa.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita