JAKARTA – Kabar gembira bagi para pecinta otomotif tanah air, terutama mereka yang mendambakan mobil listrik ramah lingkungan namun masih terhalang harga yang selangit. Tren penurunan harga mobil listrik diperkirakan akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan, dan Indonesia berada di posisi strategis untuk menjadi pemain utama dalam revolusi kendaraan listrik global ini. Dukungan kebijakan pemerintah, investasi besar-besaran, dan hilirisasi nikel menjadi kunci untuk mewujudkan mimpi mobil listrik murah di Indonesia.
Menurut pengamat otomotif Yannes Pasaribu dalam acara detikcom Leaders Forum, biaya produksi baterai, komponen termahal dalam mobil listrik, diperkirakan akan terus menurun secara signifikan.
“Diperhitungkan sekitar 4-5 tahun lagi, which is mendekati 2030, dia (biaya produksi baterai) akan sliding lagi menjadi sekitar 67 USD (per Kwh). Saat mencapai itu, sepertinya semua industri kendaraan fossil fuel, kecuali untuk hobbies yang petrol head, kayaknya harus pindah usaha, karena biaya produksinya jadi lebih murah, karena baterai ini harganya 20 sampai 40 persen dari harga kendaraan,” ujarnya.
Penurunan biaya produksi baterai ini akan memungkinkan produsen mobil listrik untuk menjual produk mereka dengan harga yang lebih terjangkau, sehingga semakin banyak masyarakat Indonesia yang mampu beralih ke kendaraan tanpa emisi ini. Hal ini tentu akan berdampak positif bagi kualitas udara dan lingkungan hidup di Indonesia.
Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia memiliki keuntungan besar dalam menguasai rantai pasok baterai kendaraan listrik. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat cadangan bijih nikel sebesar 5,9 miliar ton dan logam nikel 62,02 juta ton pada 2024, disertai produksi 173,6 juta ton bijih nikel sepanjang tahun tersebut. Kekayaan alam ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mengembangkan industri baterai kendaraan listrik yang mandiri dan berdaya saing.
Langkah konkret untuk mewujudkan ambisi tersebut adalah pembangunan pabrik baterai lithium terbesar se-Asia Tenggara di Karawang, Jawa Barat. Pabrik ini digarap oleh PT Industri Baterai Indonesia (IBC) bekerja sama dengan Brunp dan Lygend (CBL), anak perusahaan Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), raksasa produsen baterai asal China.
Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan groundbreaking pabrik baterai raksasa ini pada 29 Juni 2025 lalu. Investasi yang digelontorkan untuk proyek ini mencapai US$ 5,9 miliar atau sekitar Rp 95,5 triliun (kurs Rp 16.192). Kehadiran pabrik ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan baterai kendaraan listrik di Indonesia dan kawasan ASEAN, serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Yannes Pasaribu menekankan pentingnya percepatan produksi baterai lokal oleh IBC.
Baca Juga:
Rutin Sarapan 5 Buah Ini di Pagi Hari untuk Membakar Lemak Perut Secara Alami
“Jangan lupa di Indonesia ini, mudah-mudahan IBC cepat produksi,” katanya.
Dengan memproduksi baterai secara lokal, harga baterai dan mobil listrik di Indonesia dapat ditekan lebih rendah lagi. Selain itu, Indonesia juga berpotensi menjadi pusat produksi dan ekspor mobil listrik di kawasan ASEAN.
Data dari Department of Energy (DOE) Amerika Serikat juga menunjukkan tren penurunan biaya produksi baterai yang signifikan dari tahun ke tahun. Biaya tersebut telah turun dari sekitar $1.415 per kilowatt-hour (kWh) pada tahun 2008 menjadi hanya $139 per kWh pada tahun 2023.
Terjadi penurunan sekitar 90% dalam kurun waktu 15 tahun. Laporan tersebut sudah disesuaikan dengan laju inflasi, sehingga penurunan biaya tersebut benar-benar riil.
Penurunan biaya produksi baterai ini didorong oleh berbagai faktor, seperti inovasi teknologi, peningkatan skala produksi, dan persaingan antar produsen. Dengan terus berlanjutnya tren ini, bukan tidak mungkin harga mobil listrik akan semakin terjangkau di masa depan.
Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik global. Dengan memanfaatkan kekayaan alam, membangun infrastruktur yang memadai, dan menerapkan kebijakan yang mendukung,
Indonesia dapat mewujudkan mimpi mobil listrik murah dan ramah lingkungan bagi seluruh masyarakat. Era kendaraan listrik di Indonesia sudah di depan mata, dan kita semua memiliki peran untuk berkontribusi dalam mewujudkannya.
Baca Juga:
KJP Jadi Jembatan Kuliah! Pramono Anung Luncurkan Program Try Out Gratis untuk Pelajar Jakarta
Mari bersama-sama kita dukung transisi menuju mobilitas yang lebih bersih dan berkelanjutan demi masa depan Indonesia yang lebih baik. Pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat harus bergandengan tangan untuk menciptakan ekosistem kendaraan listrik yang kondusif dan berdaya saing. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya menjadi pasar potensial, tetapi juga menjadi pusat inovasi dan produksi kendaraan listrik yang diakui di dunia internasional.









