BANDUNG – Di tengah hiruk pikuk aktivitas industri kelapa sawit yang terus menggeliat di Indonesia, permasalahan limbah cair yang dihasilkan menjadi perhatian serius bagi banyak pihak. Sebagai salah satu produsen sawit terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mengelola air limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan kelapa sawit. Limbah cair ini, jika tidak ditangani dengan baik, dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan masyarakat.
Namun, di tengah tantangan tersebut, secercah harapan muncul dari dunia penelitian. Helen Julia, seorang dosen teknik kimia dan teknik pangan di Institut Teknologi Bandung (ITB), berupaya mencari solusi inovatif untuk mengelola air limbah sawit.
Dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang teknologi membran dan spirulina, sejenis ganggang yang hidup di air, Helen mengembangkan metode pengolahan limbah yang menjanjikan.
Kegelisahan Helen terhadap permasalahan limbah sawit yang belum tertangani dengan baik di Indonesia mendorongnya untuk melakukan penelitian mendalam. Ia menyadari bahwa setiap produksi satu ton minyak sawit mentah menghasilkan 5 hingga 7 ton air limbah. Jumlah ini terus meningkat seiring dengan peningkatan produksi kelapa sawit di Indonesia.
Saat ini, air limbah sawit umumnya diolah dengan cara konvensional, yaitu dengan menggunakan kolam-kolam besar yang mengandalkan sinar matahari untuk menguapkannya.
Namun, metode ini memiliki beberapa kekurangan, seperti membutuhkan lahan yang luas, memakan waktu yang lama, dan kurang efektif dalam menghilangkan polutan.
Berangkat dari permasalahan tersebut, Helen mengembangkan ide untuk memanfaatkan nanofiltrasi dalam teknologi membran bioreaktor. Melalui penelitian awal yang dilakukannya sejak tiga tahun lalu, ia melihat potensi besar dalam pengolahan limbah sawit yang lebih maju.
Nanofiltrasi adalah proses pemisahan molekul berdasarkan ukuran dengan menggunakan membran berpori sangat kecil. Teknologi ini mampu memisahkan polutan dari air limbah dengan lebih efisien dibandingkan metode konvensional.
Namun, Helen menyadari bahwa kinerja pengolahan limbah dengan nanofiltrasi masih perlu ditingkatkan agar air limbah dapat langsung dibuang ke lingkungan. Oleh karena itu, ia mengembangkan penelitian lanjutan dengan memanfaatkan spirulina untuk mengolah limbah kelapa sawit secara lebih holistik.
Baca Juga:
Perokok Pasif Wajib Tahu! Jurus Jitu Bersihkan Paru-Paru dari Asap Rokok
Spirulina merupakan mikroalga yang kaya akan nutrisi dan memiliki kemampuan untuk menyerap polutan dari air. Helen menjelaskan bahwa air limbah sawit mengandung beberapa zat yang merupakan makanan bagi mikroalga. Dengan memasukkan spirulina ke dalam air limbah, mikroalga tersebut akan memakan polutan yang ada, sehingga air limbah menjadi lebih bersih.
Selain itu, Helen juga menemukan potensi lain dari spirulina, yaitu sebagai bahan bakar nabati atau biofuel. Selama ini, biofuel umumnya dikenal berasal dari kelapa sawit. Namun, Helen menemukan bahwa spirulina juga mengandung lemak yang dapat diolah menjadi biofuel.
Meskipun jumlah spirulina yang dibutuhkan untuk menghasilkan biofuel masih perlu dikaji lebih lanjut, potensi ini sangat menjanjikan untuk mengembangkan sumber energi terbarukan yang berkelanjutan.
Penelitian Helen ini tidak hanya memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan limbah sawit, tetapi juga membuka peluang baru untuk memanfaatkan sumber daya alam Indonesia secara optimal. Dengan mengolah limbah sawit menjadi air bersih dan biofuel, Indonesia dapat mengurangi dampak negatif industri kelapa sawit terhadap lingkungan dan meningkatkan kemandirian energi.
Inovasi yang dikembangkan oleh Helen ini mendapat apresiasi yang tinggi dari berbagai pihak. Ia berhasil meraih penghargaan L’Oreal UNESCO For Women in Science 2025 atas proposal penelitiannya tentang pengolahan air limbah sawit. Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan atas kontribusi Helen dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengatasi permasalahan lingkungan di Indonesia.
Selain Helen, ajang For Women in Science 2025 juga menganugerahkan penghargaan kepada tiga peneliti perempuan lainnya yang memfokuskan penelitian pada bidang kesehatan. Dr. Maria Apriliani Gani mengembangkan model seluler untuk terapi osteoporosis berbasis tanaman obat lokal, Dr.rer.nat. Lutviasari Nuraini mengembangkan material paduan untuk implan yang dapat terurai secara alami, dan Anak Agung Dewi Megawati mengembangkan terapi berbasis mRNA untuk penyakit infeksi tropis.
Penghargaan yang diberikan kepada para peneliti perempuan ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan bangsa. Dengan dukungan dan kesempatan yang sama, perempuan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam berbagai bidang, termasuk penelitian dan inovasi.
Ketua Dewan Juri For Women in Science 2025, Prof. dr. Herawati Sudoyo, MD., Ph.D. mengungkapkan bahwa panitia tahun ini menerima hampir 150 proposal penelitian dari beragam daerah. Dewan juri kemudian menyeleksi pemenang berdasarkan sejumlah aspek, seperti kebermanfaatan bagi bangsa, kebaruan, metode penelitian yang digunakan, rekam jejak, dan potensi dampaknya terhadap Indonesia.
Selama lebih dari 22 tahun berjalan, program For Women in Science telah memberikan dukungan kepada 79 perempuan peneliti di Indonesia. Program ini tidak hanya memberikan pendanaan riset, tetapi juga memberikan kesempatan bagi para peneliti perempuan untuk berjejaring dengan komunitas perempuan peneliti terbesar di dunia.
Baca Juga:
Cara Menyimpan Tahu di Kulkas Agar Tetap Segar, Awet, dan Tidak Cepat Basi
Dengan dukungan dan jejaring yang kuat, para peneliti perempuan dapat terus berkontribusi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan Indonesia dan dunia.









