LAMPUNG – Di era disrupsi media yang bergerak begitu dinamis, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat terus mengingatkan para jurnalis di seluruh pelosok negeri untuk senantiasa beradaptasi, meningkatkan kompetensi, dan menjaga integritas profesi. Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, dalam berbagai kesempatan tak pernah lelah menyampaikan pesan penting ini. Menurutnya, adaptasi adalah kunci untuk tetap relevan di tengah perubahan lanskap media yang begitu cepat. Namun, adaptasi saja tidak cukup. Integritas dan profesionalitas harus tetap menjadi fondasi utama seorang wartawan.
“Apa yang harus dilakukan dalam beradaptasi? Pertama-tama, jaga integritas dan kualitas diri sebagai wartawan. Artinya, wartawan harus semakin memperkuat jati diri profesional dengan menguatkannya dengan kaidah-kaidah jurnalistik yang berlaku,” ujar Akhmad Munir saat memberikan arahan dalam kegiatan Pekan Pendidikan Wartawan yang diselenggarakan oleh PWI Lampung di Bandarlampung.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para jurnalis untuk meningkatkan kapasitas dan memperbarui pengetahuan mereka tentang dunia jurnalistik yang terus berkembang.
Akhmad Munir, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama LKBN Antara, menekankan bahwa ketelitian dan akurasi adalah dua hal yang tidak bisa ditawar dalam setiap karya jurnalistik. Di tengah derasnya arus informasi, wartawan memiliki tanggung jawab besar untuk menyajikan berita yang benar, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Wartawan wajib mencari fakta yang akurat, memverifikasi data dari sumber yang kredibel atau dapat dipercaya. Dengan demikian, karya-karya jurnalistik yang dihasilkan akan teruji dan berdasarkan pada kaidah-kaidah jurnalistik yang benar,” tegasnya.
Lebih lanjut, Akhmad Munir mengingatkan para jurnalis untuk menjauhi praktik-praktik yang dapat merusak kredibilitas profesi. Plagiarisme, atau yang lebih dikenal dengan istilah “copy paste,” adalah salah satu penyakit yang harus dihindari. Selain itu, penggunaan informasi yang tidak jelas sumbernya atau hanya berdasarkan “katanya-katanya” juga sangat berbahaya dan dapat menyesatkan publik.
Di era digital ini, teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin canggih dan menawarkan berbagai kemudahan. Namun, Akhmad Munir mengingatkan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti peran wartawan.
“Penggunaan teknologi AI itu boleh saja, tetapi hanya sebagai alat bantu atau tools bagi wartawan. Jangan sampai wartawan justru bergantung sepenuhnya pada AI dan kehilangan kemampuan berpikir kritis serta melakukan verifikasi informasi secara mandiri,” jelasnya.
Selain isu adaptasi dan integritas, Akhmad Munir juga menyoroti peran PWI dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan. Sebagai organisasi profesi wartawan terbesar di Indonesia, PWI memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), persatuan, dan kesatuan bangsa.
Baca Juga:
Bikin Bangga! Produk Indonesia Kuasai Pasar Mie Instan Global!
“PWI harus terus tegak menjaga NKRI, persatuan, dan kesatuan dengan tetap memegang nilai-nilai perjuangan yang selama ini kita perjuangkan,” ujarnya dengan nada penuh semangat.
Di tengah maraknya penyebaran berita bohong (hoaks), disinformasi, dan ujaran kebencian, wartawan memiliki peran yang sangat penting sebagai garda terdepan dalam melawan informasi yang menyesatkan.
“Oleh karena itu, wartawan harus melawan berita-berita yang tidak benar, anti-hoaks, disinformasi, apalagi fitnah dan berita bohong. Semua itu harus dilawan dengan menyajikan fakta yang benar dan berimbang,” tegas Akhmad Munir.
Tak hanya itu, Akhmad Munir juga menyoroti tekanan ekonomi yang dihadapi oleh perusahaan media akibat pesatnya perkembangan teknologi. Banyak media cetak yang gulung tikar atau beralih ke platform digital. Untuk mengatasi masalah ini, PWI sedang berjuang untuk mendapatkan insentif perpajakan bagi perusahaan media dari pemerintah.
“Kami sedang meminta kepada pemerintah bagaimana perusahaan pers dapat insentif dari perpajakan. Ini kita sedang berjuang bersama-sama dengan asosiasi pers lainnya, meminta pemerintah khususnya kepada Dirjen Pajak agar perusahaan media dapat insentif itu,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Lampung, Rahmad Mirzani Djausal, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasinya kepada para wartawan atas peran strategis mereka dalam memperkenalkan potensi daerah.
“Dengan berita-berita yang akurat, jurnalis dapat membantu daerah memperkenalkan produk unggulannya agar para pengusaha tertarik untuk berinvestasi di provinsi ini. Hal ini tentu akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.
Sementara itu, Ketua PWI Lampung, Wirahadikusumah, menambahkan bahwa Pekan Pendidikan Wartawan sangat penting diadakan mengingat Lampung merupakan daerah yang terus berkembang pesat dalam berbagai bidang, termasuk jumlah wartawan baru.
“Jumlah anggota PWI Lampung kini salah satu yang tertinggi, bahkan mungkin tertinggi di Indonesia. Hal itu terlihat dari kongres persatuan PWI, di mana jumlah suara kami sama dengan Jawa Barat, yakni 5 suara,” ujarnya.
Baca Juga:
Sinergi Polri dan PT TPPI Hasilkan Skor Memuaskan dalam Implementasi Sistem Manajemen Pengamanan
Kegiatan Pekan Pendidikan Wartawan ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi para jurnalis di Lampung untuk meningkatkan kompetensi, memperkuat integritas, dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Dengan demikian, mereka dapat terus berkontribusi dalam mencerdaskan masyarakat, menjaga nilai-nilai kebangsaan, dan memajukan daerah.









