Menu

Mode Gelap

Blog · 20 Nov 2025 09:43 WIB

PLTSa di Indonesia: Ahli ITB Peringatkan Pentingnya Memahami Karakteristik Sampah Sebelum Investasi


 PLTSa di Indonesia: Ahli ITB Peringatkan Pentingnya Memahami Karakteristik Sampah Sebelum Investasi Perbesar

PROLOGMEDIA -:Di tengah semangat pengembangan energi terbarukan dan solusi penanganan sampah di Indonesia, seorang ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) telah mengangkat peringatan krusial agar pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) tidak meleset. Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, Pandji Prawisudha, menyampaikan pandangannya secara virtual di acara Waste to Energy Investment Forum 2025 dengan tema “Economic Gains, Environmental Wins” yang digelar di Gedung Menara Bank Mega, Jakarta, Rabu (19/11/2025). Acara yang dihadiri oleh investor, pembuat kebijakan, dan praktisi industri ini menjadi ajang bagi Pandji untuk berbagi pengalaman dari luar negeri yang bisa dijadikan pelajaran berharga bagi Indonesia.

Pandji menjabarkan sedikit kasus mengenai pengembangan PLTSa di Thailand yang menjadi contoh bagaimana kesalahan dalam memahami karakteristik sampah bisa merusak kinerja pembangkit. Kasus yang dia sebutkan adalah iniserator di Phuket yang dibangun pada tahun 1999 dengan kapasitas 2,5 Mega Watt (MW) dan dirancang untuk mengolah sekitar 250 ton sampah per hari. Awalnya, proyek ini dipandang sebagai solusi cerdas untuk mengatasi masalah sampah dan menghasilkan energi bersih di pulau wisata yang ramai. Namun, kenyataan yang terjadi jauh dari harapan.

Setelah beroperasi, jumlah sampah yang masuk ke pembangkit ternyata melebihi kapasitas yang direncanakan, melampaui 250 ton per hari. Yang lebih mengkhawatirkan, PLTSa tersebut tidak pernah mampu beroperasi pada kapasitas maksimal 2,5 MW.

“Di mana, kenyataannya dia cuma bisa beroperasi di kisaran 1,8 MW,” ungkap Pandji dengan nada serius.

Ketika tim peneliti termasuk dirinya sendiri menyelidiki penyebab utama masalah ini, mereka menemukan kesalahan yang sangat mendasar pada tahap awal proyek.

“Saat mereka melakukan studi kelayakan (FS), kandungan organik sampah di Phuket itu ada di kisaran 34%,” jelas Pandji. Namun, dari mulai beroperasi hingga tahun 2007, penelitian menunjukkan bahwa kandungan organik sampah telah meningkat menjadi 49-60%. “Berarti yang terkini, sampah organik mereka 65-69%,” tambahnya.

Ini menjadi bukti bahwa proses sampling sampah dalam studi kelayakan PLTSa adalah hal yang sangat penting dan tidak boleh dianggap remeh.

Kandungan organik yang tinggi dalam sampah memiliki dampak signifikan pada kinerja PLTSa. Sampah organik cenderung memiliki kalor yang lebih rendah dibandingkan sampah non-organik seperti plastik atau kertas. Ketika kandungan organik melebihi perkiraan pada tahap perencanaan, jumlah energi yang bisa dihasilkan akan menurun secara drastis. Hal ini tidak hanya mempengaruhi efisiensi pembangkit tetapi juga keuntungan ekonomi bagi investor yang terlibat.

Dari kasus Phuket tersebut, Pandji mengingatkan para investor yang ingin masuk ke pasar Indonesia untuk lebih cermat dalam melihat karakteristik sampah di daerah yang akan dibangun PLTSa.

Baca Juga:
7 Kuliner Enak Dekat MRT Jakarta yang Mudah Dijangkau untuk Jajan Tanpa Ribet

“Sebab, ketika sampah organik lebih besar pada saat melakukan FS, maka ini akan mempengaruhi besarnya listrik yang bisa dihasilkan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa PLTSa sangat sensitif terhadap kualitas sampah, sehingga setiap tahap mulai dari munculnya sampah hingga proses pengolahan sebelum masuk ke pembangkit harus diperhatikan dengan cermat.

“Ini sangat penting di Indonesia,” tegas Pandji. Menurut dia, di negara kita sendiri, kadar sampah organik yang cukup besar telah menjadi fenomena umum. “Yang kita ketahui banyak kadar sampah organiknya cukup besar, yang biasanya di 55-60%,” jelasnya.

Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan tingkat sampah organik di Phuket pada saat proyek tersebut dirancang. Oleh karena itu, dia menekankan bahwa persiapan sebelum menjalankan proyek PLTSa harus sangat matang.

“Ini yang saya pikir perlu kita waspadai sebelum menjalankan proyek PLTSa. Ini harus berdasarkan worst case condition,” tandasnya.

Artinya, perencanaan harus dibuat dengan mempertimbangkan kondisi terburuk yang mungkin terjadi, seperti peningkatan kadar organik sampah yang lebih cepat dari perkiraan atau peningkatan jumlah sampah yang tidak terduga. Hal ini akan membantu meminimalkan risiko kegagalan dan memastikan bahwa proyek PLTSa bisa beroperasi dengan efisien dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Pentingnya memahami karakteristik sampah juga tidak terlepas dari konteks kebijakan nasional Indonesia yang sedang gencar mempromosikan energi terbarukan dan pengelolaan sampah yang baik. PLTSa dipandang sebagai solusi ganda yang bisa mengatasi dua masalah besar sekaligus: penumpukan sampah dan kebutuhan akan energi yang semakin meningkat. Namun, tanpa perencanaan yang matang dan pemahaman yang mendalam tentang karakteristik sampah, proyek ini berisiko menjadi sia-sia dan bahkan menimbulkan masalah baru seperti polusi atau penumpukan sampah yang tidak terolah.

Para investor yang hadir di acara juga menyampaikan antusiasme mereka terhadap potensi PLTSa di Indonesia, tetapi juga mengakui bahwa ada tantangan yang perlu diatasi. Banyak dari mereka menyetujui pandangan Pandji dan menyatakan bahwa mereka akan lebih cermat dalam melakukan studi kelayakan sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Beberapa juga menyarankan agar pemerintah membuat peraturan yang lebih jelas dan memberikan dukungan teknis kepada investor untuk memastikan keberhasilan proyek PLTSa di seluruh negeri.

Acara Waste to Energy Investment Forum 2025 sendiri bertujuan untuk menghubungkan investor dengan pemangku kepentingan di sektor energi terbarukan dan pengelolaan sampah. Selain pemaparan dari Pandji, acara ini juga menampilkan pembicara dari lembaga pemerintah, industri, dan lembaga penelitian lainnya yang berbagi wawasan dan pengalaman tentang pengembangan proyek waste to energy di Indonesia dan luar negeri. Dengan demikian, diharapkan acara ini bisa menjadi langkah awal untuk menumbuhkan investasi dan kolaborasi dalam mengembangkan sektor energi terbarukan dan pengelolaan sampah yang lebih baik di Indonesia.

Baca Juga:
Cara Pakai Beras untuk Bikin Kulit Glowing Alami

Sebagai kesimpulan, pandangan dari ahli ITB ini memberikan wawasan berharga tentang pentingnya memahami karakteristik sampah sebelum mengembangkan PLTSa. Kasus di Phuket adalah pelajaran yang berharga bagi Indonesia agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dengan perencanaan yang matang, pemahaman yang mendalam, dan kerja sama antara pemerintah, investor, dan masyarakat, PLTSa bisa menjadi solusi yang efektif dan berkelanjutan untuk mengatasi masalah sampah dan memenuhi kebutuhan energi di Indonesia.

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Forum TBM Way Kanan Luncurkan Buku Antologi Kisah Rakyat dan Budaya Lokal

17 Januari 2026 - 19:40 WIB

Ancaman Spesies Asing Invasif Menggerus Ekosistem Baluran dan Ujung Kulon

3 Januari 2026 - 18:51 WIB

Peringati Hari Ibu, MY ACADEMY Perkuat Peran Ibu sebagai Entrepreneur Modern

24 Desember 2025 - 08:46 WIB

7 Sisa Bahan Makanan yang Bisa Diubah Jadi Kompos Bergizi untuk Tanaman

23 Desember 2025 - 14:56 WIB

Tips Aman Berkendara ke Puncak saat Libur Nataru, Hindari Mobil Mundur di Tanjakan

23 Desember 2025 - 00:59 WIB

7 Cara Efektif Mengusir Laron yang Sering Muncul Usai Hujan di Rumah

22 Desember 2025 - 22:42 WIB

Trending di Blog