PROLOGMEDIA – Sop Ayam Pak Min Klaten telah menjadi salah satu ikon kuliner Indonesia yang dikenal luas, dengan ratusan cabang yang tersebar di berbagai kota – mulai dari Klaten, Yogyakarta, Bogor, Jakarta, hingga Surabaya. Bisnis keluarga ini yang didirikan oleh Tugimin (yang lebih dikenal sebagai Pak Min) dan istrinya, kini telah dilanjutkan oleh keempat putranya: Sihono (Sipit), Sih Mulyoto, Triyono, dan Tukiman Ragil. Setiap putra mengelola puluhan cabang secara mandiri, salah satunya Sih Mulyoto yang kerap disapa Pak Mul, yang saat ini memimpin 35 cabang di berbagai wilayah.
Popularitas yang semakin meluas membuat banyak warung sop lain menyediakan menu bahkan spanduk yang mirip, sehingga banyak orang mengira semua sop ayam Klaten itu sama. Padahal, Sop Ayam Pak Min memiliki identitas yang sangat khas yang membedakannya dari yang lain.
Cabang pertama setelah diambil alih oleh putra-putra Pak Min berlokasi di Semangkak, Klaten Tengah, Kabupaten Klaten – sebuah tempat yang menjadi saksi perjalanan bisnis keluarga ini yang telah bertahan selama puluhan tahun. Salah satu ciri khas paling mencolok dari hidangan sop ini adalah cara penyajiannya yang dipisah antara nasi dengan kuahnya. Menurut Pak Mul, konsep ini adalah cikal bakal sop ayam pisah atau yang lebih dikenal dengan nama sop pecok.
“Dulu belum ada yang seperti ini (sop pecok), Pak Min memulai lebih dulu, sejak buka di Pasar Gede (Klaten) juga sudah menggunakan sop ayam pisah,” jelas Pak Mul, Senin (17/11/2025).
Konsep ini yang revolusioner pada masanya ternyata sangat disukai pelanggan, karena memungkinkan mereka menikmati nasi yang tetap kering dan kuah yang tetap segar tanpa saling mencampur.
Sampai saat ini, konsep sop pisah tersebut masih dipertahankan dengan ketat oleh keempat putra Pak Min. Para pelanggan bisa memilih berbagai variasi menu sop ayam pisah yang ditawarkan, seperti Nasi Sop Pisah Dada yang empuk dan segar, Nasi Sop Pisah Tepong (paha atas) yang kriuk di luar dan lembut di dalam, Nasi Sop Pisah Cakar yang gurih dan penuh rasa, hingga Nasi Sop Pisah Uritan yang memiliki tekstur unik dan rasanya yang khas. Setiap potongan ayam diproses dengan cara yang teliti untuk memastikan kualitas dan rasa yang konsisten di semua cabang.
Selain konsep penyajian yang unik, ciri khas lain dari Sop Ayam Pak Min Klaten adalah kuahnya yang bening namun tetap berempah. Saat ini, penyajian sop ayam pisah memang sudah banyak ditemui di berbagai tempat penjual sop, tetapi soal rasa, Sop Ayam Pak Min memiliki ciri yang tidak bisa ditiru semudah itu.
“Kuahnya bening, rempahnya kuat. Semua cabang sama seperti itu,” tutur Pak Mul dengan bangga.
Yang paling menarik, resep kuah ini adalah resep warisan dari Pak Min sendiri yang telah dipertahankan sejak awal berdirinya bisnis. Tidak ada modifikasi atau tambahan bahan apapun yang dilakukan oleh putra-putranya.
“Khasnya dari bapak seperti itu, dipertahankan saja, tidak perlu diperbarui, saya dan adik-adik merasa resep seperti itu saja sudah cukup,” tambahnya.
Baca Juga:
Gubernur Banten Serahkan Kapal Baru, Nelayan Carita Optimistis Tingkatkan Hasil Tangkap
Proses pembuatan kuah yang bening namun berempah membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Bahan-bahan rempah yang digunakan dipilih secara cermat, termasuk bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lengkuas, dan bumbu lain yang dicampur dengan tepat.
Ayam dimasak perlahan-lahan dalam kuah yang dipanaskan dengan api sedang, sehingga rasa rempah meresap sempurna ke dalam daging ayam dan kuah tanpa membuatnya keruh. Hasilnya adalah kuah yang jernih, segar, dan penuh dengan rasa rempah yang kuat namun tidak menyakitkan tenggorokan – sempurna untuk dinikmati saat cuaca dingin atau ketika ingin menikmati hidangan yang segar dan lezat.
Ciri khas ketiga yang membedakan Sop Ayam Pak Min Klaten dari yang palsu adalah banner atau spanduknya yang berwarna hijau dan menyertakan nama “Pak Min” secara jelas. Karena popularitasnya yang tinggi, banyak pihak yang mencoba meniru konsep banner ini untuk usahanya sendiri.
Namun, Pak Mul menjelaskan bahwa yang asli selalu memiliki nama lengkap “Sop Ayam Pak Min Klaten”, sedangkan yang palsu biasanya hanya bertuliskan “Sop Ayam Klaten” atau “Sop Ayam Pecok Klaten” tanpa menyertakan kata “Pak Min”.
“Karena ini kan bisnis keluarga, sudah memiliki hak paten,” lanjutnya.
Uniknya, banner yang berwarna hijau ini rutin diganti setiap tiga bulan sekali agar nama Sop Ayam Pak Min Klaten tetap jelas dilihat oleh pelanggan dan tidak terlihat aus.
Meskipun banyak yang meniru, Pak Mul tidak ingin ambil pusing atau terlibat dalam perselisihan. Menurutnya, setiap orang memiliki hak untuk mencari rezekinya masing-masing, dan keberhasilan Sop Ayam Pak Min tidak hanya bergantung pada nama atau spanduk, tetapi pada kualitas rasa dan pelayanan yang konsisten.
“Yang penting kita jaga kualitas produk dan pelayanan kepada pelanggan. Kalau mereka puas, pasti akan kembali dan memberitahu teman-temannya,” katanya.
Filosofi ini yang membuat bisnis keluarga ini tetap bertahan dan berkembang meskipun banyak saingan yang muncul.
Baca Juga:
Usia Bukan Halangan! Panduan Olahraga Aman dan Efektif Sesuai Usia Anda
Hari ini, Sop Ayam Pak Min Klaten bukan hanya sekadar warung sop biasa, tetapi telah menjadi warisan kuliner yang dibanggakan oleh keluarga dan masyarakat Klaten. Setiap cabang tetap mempertahankan kualitas rasa yang sama seperti yang diajarkan oleh Pak Min, sehingga pelanggan di mana pun bisa menikmati rasa sop ayam yang otentik dan lezat. Dari konsep sop pisah yang revolusioner, kuah bening yang berempah, hingga banner hijau yang khas – semua itu membentuk identitas yang tak tergantikan dari Sop Ayam Pak Min Klaten yang terus menjadi favorit banyak orang di seluruh Indonesia.









