Menu

Mode Gelap

Wisata · 20 Nov 2025 16:39 WIB

Berkeliling Sisi Utara Waduk Cirata: Dari Sate Maranggi Hingga PLTS Terapung Terbesar Asia Tenggara


 Berkeliling Sisi Utara Waduk Cirata: Dari Sate Maranggi Hingga PLTS Terapung Terbesar Asia Tenggara Perbesar

PROLOGMEDIA – Berjarak 120 kilometer dari Jakarta, tersembunyi di perbatasan Kabupaten Purwakarta, Bandung Barat, dan Cianjur, Jawa Barat, terletak Waduk Cirata — waduk terbesar di Indonesia yang mencakup luas 62 kilometer persegi. Tak hanya berfungsi sebagai penampungan air dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), waduk ini juga telah menjadi destinasi wisata yang menarik, menawarkan kombinasi bentang alam yang menakjubkan, kuliner khas, dan jejak sejarah yang mendalam. Pada Senin (17/11/2025), sebuah perjalanan mengelilingi sisi utara Waduk Cirata mengungkapkan pesona yang beragam — dari panas terik siang hari hingga hujan deras yang menyegarkan, setiap momen membawa kesan tersendiri.

Perjalanan dimulai dari Kampung Maranggi, tepat di samping Stasiun Plered, Purwakarta — surga bagi pecinta sate. Sate Maranggi, yang dirintis oleh Mang Udeng sejak tahun 1970, tetap menjadi santapan favorit wisatawan yang datang berkunjung. Siang itu, asap putih tipis mengucur dari 22 pedagang sate yang menempati los terbuka, menciptakan nuansa hangat dan wangi yang menggoda. Harga yang terjangkau — Rp 2.500 per tusuk untuk campuran daging dan lemak — membuat banyak orang antre dengan antusias. Setiap gigitan sate yang dibakar hingga matang dan dibumbui bumbu khas membuat lidah terasa puas, menjadi awal yang sempurna untuk hari berkeliling.

Setelah puas merasakan nikmatnya sate Maranggi, langkah diteruskan ke Pasar Plered — pusat penjualan gerabah yang terkenal sejak dahulu. Gerabah Plered dikenal akan kualitasnya yang baik, mulai dari alat rumah tangga hingga produk kerajinan seni. Sejalan dengan Jalan Raya Citeko, jejak kejayaan pabrik genteng masih terlihat jelas — beberapa cerobong asap masih berdiri kokoh, menyimpan cerita masa lalu. Namun, separuh lebih usaha skala rumahan pembuatan genteng di Plered telah gulung tikar sejak akhir 2017, bergeser ke produksi roster dan bata dinding. Salah satu bekas pabrik yang paling mencolok adalah Pabrik Genteng Merapi, yang kini diubah menjadi tempat pembuatan jamur dan bengkel mobil — bukti bagaimana masyarakat beradaptasi dengan perubahan zaman.

Tak lebih dari 30 menit berkendara dari Jalan Raya Citeko, sampailah di Bendungan Cirata yang berdiri kokoh di perbatasan Purwakarta dan Bandung Barat. Bendungan ini menjadi tulang punggung PLTA Cirata — PLTA terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas produksi 1.008 megawatt (MW). Kendaraan tidak boleh diparkir di dekat bendungan, sehingga pengunjung harus memarkirkan kendaraan di warung-warung di sekitarnya sebelum berjalan kaki untuk melihat pemandangan. Banyak wisatawan berfoto-foto di sini, terpesona dengan keindahan air yang luas dan pegunungan yang melingkupi di kejauhan.

Perjalanan terus berlanjut dengan mengelilingi pinggiran Waduk Cirata menuju areal persawahan terasering di Kampung Caringin, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cipendeuy, Bandung Barat. Di salah satu petak sawah, seorang petani bernama Uut mengamati Munah dan anaknya, Aik, yang sibuk memindahkan benih padi varietas Sadane yang berusia 20 hari, siap untuk ditanam.

Menurut Uut, kawasan ini hanya bisa menanam padi dua kali setahun karena terkendala pengairan, sehingga harga gabah kering giling (GKG) di sini mencapai Rp 800.000 per kuintal. Pemandangan persawahan terasering yang hijau segar, ditambah dengan aktivitas petani yang sibuk, memberikan gambaran tentang kehidupan sehari-hari masyarakat di sekitar waduk.

Baca Juga:
Raja Yordania Ungkap Kedekatan Erat dengan Prabowo: ‘Dia Saudara Saya, Saudara Ayah Saya Juga’

Untuk bersantai dan menikmati pemandangan Waduk Cirata dari sudut yang berbeda, bisa mampir ke salah satu kafe yang berjajar di Kecamatan Cipeundeuy. Kedai Cengkar adalah salah satu pilihan yang populer — di sini, wisatawan bisa duduk santai sambil menikmati es kopi americano, apel bakar, atau pisang bakar, sambil menyaksikan pemandangan lepas ke arah waduk. Meskipun angin sepoi menerpa, hawa panas masih terasa terasa siang hari. Tren belanja kaum urban yang bergeser dari konsumsi barang ke konsumsi pengalaman membuat tempat seperti ini semakin diminati — di mana orang bisa berkumpul dengan teman atau pasangan sambil menikmati suasana alam.

Menjelang sore, awan gelap mulai menggelapkan langit, dan hawa menjadi dingin dengan terbawa angin. Tak berapa lama kemudian, hujan deras mengguyur kawasan ini — tetapi hujan itu tidak menyurutkan semangat untuk melanjutkan perjalanan ke PLTS Terapung Cirata. PLTS ini merupakan PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas 192 megawatt-peak (MWp) atau 145 MWac. Panel surya yang mengapung membentang seluas 250 hektar (sekitar 4 persen dari total luas perairan waduk), setara dengan 200 lapangan sepak bola — pemandangan yang luar biasa bahkan di tengah hujan. Teknologi panel surya berlapis kaca ganda yang digunakan mampu menyerap sinar matahari secara optimal dan tahan terhadap korosi serta guncangan, menjadikannya contoh inovasi energi terbarukan di Indonesia.

Setelah meninggalkan PLTS, perjalanan berakhir di Kecamatan Maniis, Purwakarta, di mana kolecer — baling-baling tradisional berbentuk layang-layang — berputar kencang dipukul angin. Selain digunakan untuk mengusir hama di sawah, kolecer juga menjadi bagian dari tradisi dan hiburan masyarakat perdesaan Jawa Barat.

Di situ, terlihat Daim Ahmad Sungkawa berjalan pulang membawa cangkul dan garpu tanah setelah bekerja gotong royong mendirikan warung kayu dengan pemandangan Waduk Cirata. Daim, yang pernah menjadi transmigran di Jambi selama lima tahun, menceritakan bahwa rumah dan tanahnya dulu terdampak proyek Waduk Cirata tahun 1985.

“Ya, saya kembali lagi ke sini. Dapat uang ganti sih, tapi kecil. Kini, saya jadi petani kecil saja, menanam pisang dan kerja serabutan. Yang penting bisa berkumpul dengan keluarga,” tuturnya dengan senyum tulus.

Baca Juga:
Teh Hijau: Rahasia Kesehatan Otak dan Jantung Menurut Ahli Gizi

Dari sate Maranggi yang lezat, jejak pabrik genteng yang legendaris, hingga PLTS terapung yang canggih, perjalanan mengelilingi sisi utara Waduk Cirata bukan hanya tentang keindahan alam — tetapi juga tentang cerita masyarakat, sejarah, dan inovasi yang saling terjalin. Baik di bawah panas terik maupun hujan deras, waduk ini selalu menyajikan pesona yang tak terlupakan bagi siapa pun yang berkunjung.

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dorong Ekonomi Desa, Ratu Zakiyah Jadikan BUMDes Cibojong Model Pertanian Modern

12 Februari 2026 - 08:35 WIB

Suasana Berbeda di Palabuhanratu, Tahun Baru 2026 Tanpa Lautan Manusia

2 Januari 2026 - 10:29 WIB

7 Pulau Terindah di Asia 2025 yang Jadi Destinasi Impian Wisatawan Dunia

1 Januari 2026 - 01:38 WIB

Jelang Tahun Baru 2026, Bupati Serang dan Mendes PDT Tinjau Kesiapan Wisata Pantai Anyer–Cinangka

31 Desember 2025 - 20:10 WIB

Libur Nataru Aman, Polres Way Kanan Gelar Patroli di Objek Wisata

27 Desember 2025 - 12:16 WIB

Liburan Seru ke Pulau Dolphin: Paket Open Trip dari Pulau Harapan di Kepulauan Seribu

26 Desember 2025 - 19:59 WIB

Trending di Wisata