PROLOGMEDIA – Kekhawatiran yang meluas terkait isu kontaminasi radioaktif di kawasan industri Cikande, Kabupaten Serang, Banten, mulai menunjukkan dampak nyata pada arus investor di daerah tersebut. Meskipun ada laporan tentang pengusaha yang hengkang atau membatalkan rencana pembangunan pabrik, pelaku industri yang sudah beroperasi di lokasi tersebut justru memilih bertahan dan mencari cara untuk mengatasi risiko potensial tanpa harus memindahkan fasilitas mereka.
Gambaran kondisi ini diungkapkan oleh Head of Industrial Services PT Leads Property Services Indonesia, Esti Susanti, dalam acara Tren Properti 2025 & Market Outlook 2025 Leads Property yang diadakan di SCBD, Jakarta, pada hari Kamis (20/11/2025).
Menurutnya, perusahaan yang sudah menjalankan produksi tidak serta-merta mengikuti langkah relokasi yang diambil oleh beberapa calon investor. Alasannya sederhana namun krusial: tingginya biaya yang diperlukan untuk memindahkan seluruh fasilitas industri dan proses produksi yang sudah berjalan lancar membuat mereka lebih cenderung menetap.
“Tapi yang sudah berjalan pabriknya ini kita belum melihat ada yang berusaha pindah,” ujar Esti. “Hanya orang-orang yang sudah keburu transaksi tapi belum bangun, karena kan kita ngomongin cost, efisiensi, kalau pindahan kan costnya lebih tinggi. Mengingat bahwa ini sebenarnya imported source. Mereka akan melakukan beberapa inovasi secara teknis, supaya mereka tidak harus pindah, mungkin ya.”
Situasi yang sangat berbeda dialami oleh perusahaan yang belum menanamkan investasi fisik di kawasan Cikande. Isu kontaminasi radioaktif, yang terutama terkait dengan industri metal scrap, telah memicu keputusan relokasi dari salah satu calon investor besar. Investor-investor yang belum memulai pembangunan ternyata lebih sensitif terhadap pemberitaan mengenai risiko semacam ini, karena mereka belum memiliki beban biaya yang sudah dikeluarkan untuk konstruksi atau operasional.
Bukti dampaknya sudah terlihat nyata. Leads Property bahkan telah menerima permintaan resmi perpindahan lokasi dari perusahaan yang awalnya merencanakan membangun fasilitas industri di Cikande. Sebelum biaya konstruksi dikeluarkan lebih jauh dan proyek memasuki tahap yang lebih lanjut, perusahaan tersebut memutuskan untuk mengubah arah investasinya sepenuhnya.
“Jadi dampaknya, kami memang menerima inquiry pindahan dari Cikande ke Bekasi. 10 ribu m2 yang kita terima, sudah transaksi di sana pindah. Jadi mereka tidak teruskan rencana pembangunannya, mereka minta refund,” jelas Esti.
Dia menegaskan bahwa perpindahan itu bukan sekadar rencana yang masih dalam pertimbangan, melainkan sudah dieksekusi secara resmi. Bekasi dipilih sebagai tujuan baru karena dianggap lebih aman secara reputasi dan tidak terdampak oleh pemberitaan mengenai kontaminasi radioaktif.
Baca Juga:
Pengusaha Ungkap Akar Masalah Kemacetan di Penyeberangan Kapal Feri
“Sudah kami terima itu, sudah terima kebutuhan itu. Mereka pindah ke Bekasi yang memang proven tidak ada berita mengenai ini ya, mengenai kontaminasi ini,” lanjutnya.
Isu kontaminasi di Cikande mulai muncul setelah Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Cesium 137 (Cs-137) mengumumkan tentang pengangkutan material yang terpapar zat radioaktif di titik lokasi yang terpapar di luar kawasan Industri Modern Cikande. Cs-137 adalah zat radioaktif yang berbahaya dan dapat menimbulkan risiko kesehatan serius bagi manusia dan lingkungan jika tidak ditangani dengan benar. Berita tentang keberadaan zat ini di sekitar kawasan industri segera menyebar dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, investor, dan pihak berwenang.
Meskipun pihak berwenang telah mengambil langkah-langkah untuk menanggapi masalah ini, termasuk melakukan pemantauan dan pembersihan di lokasi terpapar, kekhawatiran tersebut masih belum sepenuhnya mereda. Khususnya bagi investor yang baru akan memasuki pasar, berita tentang kontaminasi menjadi faktor penilaian penting dalam menentukan lokasi investasi. Mereka cenderung lebih memilih daerah yang memiliki reputasi aman dan bebas dari masalah lingkungan yang berpotensi merusak operasional bisnis dan citra perusahaan.
Di sisi lain, perusahaan yang sudah beroperasi di Cikande memiliki pertimbangan yang berbeda. Mereka telah mengeluarkan banyak modal untuk membangun pabrik, mempekerjakan tenaga kerja, dan membangun jaringan pasokan serta penjualan. Memindahkan seluruh operasi ke lokasi baru akan membutuhkan biaya yang sangat besar, memakan waktu, dan berpotensi mengganggu aliran produksi serta hubungan dengan pelanggan. Oleh karena itu, mereka lebih memilih untuk melakukan inovasi teknis dan langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh isu kontaminasi.
Beberapa langkah yang mungkin diambil oleh perusahaan yang bertahan termasuk meningkatkan sistem pemantauan lingkungan di sekitar pabrik, melakukan pengecekan rutin terhadap bahan baku dan produk yang dihasilkan, serta memberikan pelatihan kepada tenaga kerja tentang cara menangani risiko radioaktif. Mereka juga kemungkinan akan bekerja sama dengan pihak berwenang untuk memastikan bahwa langkah-langkah penanganan masalah kontaminasi berjalan dengan efektif dan transparan.
Situasi di Cikande menjadi cerminan dari tantangan yang dihadapi oleh kawasan industri di Indonesia saat menghadapi masalah lingkungan yang sensitif. Di satu sisi, kawasan industri berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Di sisi lain, mereka juga harus memastikan bahwa operasionalnya tidak membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. Isu kontaminasi radioaktif di Cikande menunjukkan betapa pentingnya pengawasan yang ketat dan transparansi dalam mengelola kawasan industri, serta kepekaan investor terhadap faktor lingkungan dalam pengambilan keputusan investasi.
Baca Juga:
Kota Tanpa Mobil yang Menjadi Teladan Transportasi Publik Dunia
Ke depannya, peran pihak berwenang akan menjadi sangat penting dalam menanggapi masalah ini. Mereka perlu melakukan upaya lebih giat untuk memastikan bahwa kawasan industri Cikande aman dan bebas dari risiko radioaktif, serta memberikan informasi yang akurat dan terkini kepada publik dan investor. Hanya dengan demikian, kepercayaan investor dapat dipulihkan dan kawasan industri Cikande dapat kembali menjadi tujuan investasi yang menarik bagi pelaku bisnis.









