PROLOGMEDIA – Kita mungkin sudah terbiasa mendengar tentang bahaya sampah plastik di lautan atau sungai, tetapi ancaman plastik kecil yang tak kasat mata — yakni mikroplastik — kini menjadi masalah serius di piring makan kita. Menurut berbagai studi, setidaknya 14 jenis makanan sehari-hari telah terbukti mengandung mikroplastik.
Mikroplastik adalah potongan plastik berukuran sangat kecil, dari panjang beberapa milimeter hingga mikrometer. Karena ukurannya yang mini, partikel ini bisa dengan mudah mencemari lingkungan, masuk ke rantai makanan, dan akhirnya dikonsumsi oleh manusia. Menurut studi pada Februari 2024, ditemukan bahwa 90 persen sampel protein hewani dan nabati yang diuji terkontaminasi mikroplastik — angka yang sungguh mencengangkan.
Lantas, apa saja makanan yang dimaksud? Daftar tersebut mencakup berbagai jenis makanan yang mungkin kita konsumsi tanpa curiga, mulai dari daging hingga gula atau garam:
1. Daging Ayam: Salah satu sumber protein paling populer, baik sebagai dada ayam ataupun olahan lainnya, ternyata mengandung mikroplastik.
2. Daging Sapi: Sama seperti ayam, daging sapi juga ditemukan positif mengandung partikel mikroplastik.
3. Daging Babi: Tidak hanya daging merah lain, babi pun ikut terpapar.
4. Nugget: Produk olahan ayam atau daging lainnya seperti nugget menyimpan risiko kontaminasi mikroplastik yang lebih besar karena proses pengolahan.
5. Tahu: Meski bersifat nabati, tahu juga tidak lepas dari masalah mikroplastik.
6. Selada: Sayuran hijau ini menjadi salah satu tanaman yang menyerap mikroplastik dari tanah.
7. Wortel: Akar sayuran seperti wortel juga rentan menyerap partikel plastik dari dalam tanah.
8. Lobak: Sama seperti wortel, tanaman akar lain seperti lobak juga teridentifikasi mengandung mikroplastik.
9. Apel: Buah populer ini pun tidak kebal — partikel mikroplastik bisa terbawa dari tanah ke bagian buahnya.
Baca Juga:
Panen Raya Jagung Kuarlat IV di Serang: Sinergi Polri-Petani Wujudkan Ketahanan Pangan
10. Teh Celup: Ini sangat mengejutkan: kantong teh sebagian besar terbuat dari plastik, dan ketika diseduh, bisa melepaskan miliaran partikel mikroplastik ke dalam air.
11. Garam Himalaya: Garam merah muda dari pegunungan Himalaya ternyata menjadi salah satu yang paling terkontaminasi.
12. Gula: Produk manis ini juga menjadi jalur “diam-diam” masuknya mikroplastik ke tubuh manusia.
13. Nasi Instan: Studi menunjukkan bahwa nasi instan bahkan bisa mengandung lebih banyak partikel plastik dibandingkan nasi biasa.
14. Air Minum Kemasan: Tidak mengejutkan, tapi tetap menakutkan — botol plastik yang banyak kita pakai sebagai wadah air minum juga melepaskan mikroplastik ke dalam isinya.
Dari daftar ini, terlihat bahwa mikroplastik tidak hanya “masuk” melalui makanan laut atau produk olahan plastik belaka, tetapi juga pada makanan nabati serta bahan pokok sehari-hari yang tampak sehat dan alami. Penelitian menunjukkan bahwa tanaman menyerap mikroplastik dari tanah melalui akar, kemudian menyebarkannya hingga ke buah, daun, dan biji tanaman tersebut.
Lalu, apa dampaknya bagi kesehatan kita? Meskipun riset terkait efek jangka panjang konsumsi mikroplastik pada manusia masih terus berlangsung, ada bukti awal yang mengkhawatirkan. Penelitian menunjukkan bahwa paparan jangka panjang dapat menyebabkan reaksi imun dan potensi toksisitas lokal dalam tubuh. Selain itu, jika mikroplastik cukup kecil (nanoplastik), partikel ini bisa menyusup ke sel-sel tubuh dan memicu dampak lebih serius.
Karena ancaman ini makin nyata, para ahli kesehatan dan lingkungan mengingatkan bahwa kita perlu mulai mengendalikan paparan mikroplastik khususnya dari makanan. Salah satu rekomendasi sederhana adalah mengurangi penggunaan plastik di dapur. Misalnya, gunakan wadah kaca atau logam untuk menyimpan makanan, serta hindari penyajian makanan panas dalam wadah plastik.
Selain itu, cara mencuci sayuran pun bisa membantu menurunkan kandungan mikroplastik. Penelitian menunjukkan bahwa menyemprotkan air dan membilas daun sayuran dapat mengurangi sebagian partikel mikroplastik di permukaannya.
Pilihan bijak lain juga bisa diterapkan pada kebiasaan minum teh: alih-alih menggunakan kantong teh berbahan plastik, kita bisa memilih daun teh longgar dan menggunakan saringan logam — ini dapat mengurangi paparan mikroplastik secara signifikan.
Kekhawatiran tentang konsumsi mikroplastik harus menjadi peringatan bagi kita semua, terutama di negara seperti Indonesia. Beberapa laporan menempatkan orang Indonesia sebagai salah satu kelompok dengan konsumsi mikroplastik yang sangat tinggi. Dengan sadar terhadap risiko ini, kita bisa menerapkan perubahan gaya hidup kecil namun berdampak besar: dari cara memasak, menyimpan makanan, hingga memilih bahan makanan.
Baca Juga:
Kepulauan Seribu: Lebih dari Sekadar Pantai! Temukan Keajaiban 5 Pulau Ini dalam Satu Trip!
Akhirnya, meski plastik tampak tak terlihat, partikel-partikel kecilnya kini bisa ikut hadir di piring kita sehari-hari — dari daging, sayuran, buah, hingga garam dan gula. Kesadaran dan tindakan preventif di tingkat rumah tangga sangat penting untuk meminimalkan paparan ini. Dengan begitu, kita tidak hanya menjaga lingkungan dari sampah plastik besar, tetapi juga melindungi tubuh kita dari ancaman mikroplastik yang jauh lebih tersembunyi.









