PROLOGMEDIA – Seorang pria bernama Ape, dari Desa Gunung Menyan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, mendadak menjadi sorotan publik setelah video emosionalnya memprotes menu Makan Bergizi Gratis (MBG) viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, ia tidak hanya meluapkan kekesalannya, tetapi juga meludahi porsi makanan yang disajikan sebagai bagian dari program bantuan gizi sekolah.
Ape menyatakan bahwa protesnya murni demi kebaikan: ia menilai menu MBG “tidak layak” untuk anak-anak dan warga desanya. Dalam ucapannya, dia menyebut, “Anak aing dibere nu kieu … warga aing dibere nu kieu tah,” yang dalam bahasa Sunda kasar berarti, “Anak saya diberi seperti ini, warga saya diberi seperti ini.” Makanan yang ia tunjukkan dalam video berisi nasi, potongan ikan, kacang, tauge, dan buah anggur — komposisi menu yang menurutnya jauh dari standar kualitas MBG.
Menurut Ape, video itu diambil secara spontan. Ia mengatakan telah bertemu langsung dengan pengelola Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) untuk menyampaikan keluhannya. Dalam klarifikasinya, Ape menyebut bahwa yang terjadi hanyalah miskomunikasi — bukan upaya menjatuhkan pihak mana pun. “Hanya sebatas selisih paham dan spontanitas,” ujarnya.
Pihak desa dan pengurus SPPG pun menanggapi sikap kritis Ape dengan terbuka. Dalam pertemuan klarifikasi, semua pihak sepakat untuk memperbaiki komunikasi ke depannya. Seorang pria yang mendampingi Ape menyatakan harapannya agar apa yang disampaikan bisa menjadi pembelajaran bersama dan membangun sinergi antarwarga dan pengelola gizi.
Meskipun emosional saat menyampaikan protes, Ape akhirnya meminta maaf. Permintaan maaf itu diarahkan sebagai penyesalan atas cara penyampaian, sekaligus sebagai upaya menjaga nama baik bersama. Menurut Kapolsek Cibungbulang, Kompol Heri Hermawan, proses penyelesaian sudah berjalan: pihak desa memfasilitasi forum dialog agar dapat menemukan titik temu yang konstruktif.
Latar protes ini semakin hangat mengingat beberapa peristiwa terkait MBG sebelumnya. Beberapa waktu lalu, puluhan siswa di Bogor diduga keracunan setelah mengonsumsi menu MBG. Seorang guru bahkan mengungkap bahwa sebelum peristiwa keracunan, ia mencium bau tak sedap dari makanan MBG tersebut. Kejadian seperti ini menggoyahkan kepercayaan publik bahwa program MBG benar-benar memberikan gizi yang aman dan layak bagi anak-anak sekolah.
Tak hanya itu, respons pemerintah juga menyentuh sisi operasional. Beberapa juru masak SPPG sedang dievaluasi oleh Kemenkes dan Badan Gizi Nasional (BGN) karena dugaan kelalaian dalam kualitas masakan dan kebersihan dapur. Evaluasi ini mencakup aspek sanitasi, kemampuan memasak, hingga kepatuhan terhadap standar higiene dalam penyajian.
Baca Juga:
Sering Buang Air Kecil? Kenali Penyebabnya Mulai dari ISK Sampai Diabetes dan Cara Mengatasinya
Kritik tentang menu MBG sendiri bukan hal baru. Sebelumnya, kasus serupa pernah muncul di kota lain, seperti Depok, di mana menu MBG viral berisi pangsit dan kentang rebus — komposisi yang dianggap tidak ideal untuk program gizi anak. Atas tekanan publik, Badan Gizi Nasional mendorong agar SPPG mengevaluasi kembali menu dan porsi makanan, serta memperbaiki mekanisme distribusi agar lebih profesional dan higienis.
Ape pun menyuarakan poin serupa: selain meminta agar menu dievaluasi, ia menekankan pentingnya kualitas dan kelayakan gizi. “Saya minta yang lebih bagus, SPPG biar selamat semuanya,” ujarnya. Dalam pertemuan klarifikasi, ia meyakinkan bahwa protesnya tidak berakar pada kepentingan pribadi semata, tetapi didasari rasa tanggung jawab sebagai aparat pemerintahan desa.
Protes ini pun mencerminkan keresahan yang lebih luas di masyarakat. Banyak orang tua dan tokoh lokal mengeluhkan bahwa program MBG, yang sejatinya merupakan inisiatif penting untuk memperbaiki gizi anak-anak, acapkali disalahpahami jika pelaksanaannya tidak transparan. Kasus seperti keracunan dan menu tak higienis menyebabkan kecemasan bahwa nama MBG bisa menjadi beban sosial, bukan hanya program bantuan anak.
Dari sudut kebijakan, insiden ini menjadi momentum penting bagi pemerintah dan pengelola MBG. Evaluasi menu gizi bukan sekadar menjadi wacana administratif, tetapi harus menjadi prioritas operasional di semua unit SPPG. Jika tidak, potensi penyimpangan mutu gizi bisa berakibat pada kepercayaan publik, dan pada akhirnya mengganggu tujuan utama program: meningkatkan kesehatan anak melalui makanan bergizi.
Sementara itu, masyarakat menyambut klarifikasi dan permintaan maaf Ape dengan harapan bahwa protes ini bisa menjadi pemicu perbaikan. Banyak warga menilai bahwa kritik semacam itu tidak lepas dari kepedulian terhadap generasi muda — bahwa dengan menyuarakan ketidakpuasan, mereka turut menjaga agar program MBG tetap berkualitas dan aman di masa depan.
Dengan dialog terbuka antara warga, pengelola gizi, dan aparat desa, insiden ini bisa menjadi titik balik. Bukan hanya sebagai peringatan, tetapi sebagai momentum reformasi micro dalam skema distribusi MBG. Harapannya, ke depan SPPG dapat merancang menu dengan standar gizi yang lebih tinggi, memelihara citra program, dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan publik pakan anak sekolah.
Di tengah sorotan media dan publik, kisah Ape menjadi refleksi nyata: agar program nasional sebesar MBG dapat berjalan tidak hanya dari segi kuantitas, tetapi juga kualitas. Karena gizi anak bukan sekadar angka distribusi — tetapi soal kesehatan, keberlanjutan, dan masa depan bangsa yang tumbuh dari piring kecil di sekolah dasar.
Baca Juga:
Terungkap! Bandit Bermodus Jaket Ojol Diringkus Polres Serang: Rampas Motor di 4 Wilayah!
Akhirnya, apa yang diminta oleh Ape adalah hal sederhana namun vital: evaluasi menu, rasa hormat kepada penerima manfaat, dan kepekaan yang lebih besar dari pihak pengelola program. Bila SPPG dan pemerintah merespon dengan serius, protesnya bisa berdampak positif dan mendorong perbaikan nyata, bukan hanya di satu desa, tetapi di seluruh skala program MBG nasional.









