PROLOGMEDIA – Persaingan global untuk menguasai pasokan limbah aluminium semakin sengit. Limbah logam yang semula dianggap sekunder kini mendapat perlakuan sebagai “komoditas strategis” oleh para pembuat kebijakan di Amerika Serikat dan Uni Eropa. Transformasi ini menandai babak baru dalam persaingan industri aluminium, di mana rongsokan tidak lagi sekadar limbah, tetapi elemen penting dalam rantai pasok mineral kritis dan inisiatif dekarbonisasi.
Uni Eropa, misalnya, tengah menyiapkan kebijakan pembatasan ekspor limbah aluminium. Alasan utamanya adalah kekhawatiran bahwa material daur ulang yang berharga itu “bocor” keluar dari benua biru, sementara kebutuhan dalam negeri terus meningkat. Data menunjukkan bahwa lebih dari satu juta metrik ton limbah aluminium diekspor dari Eropa setiap tahun. Kebocoran ini dianggap berisiko karena daur ulang aluminium hanya membutuhkan sekitar 5 persen dari energi yang diperlukan untuk menghasilkan aluminium primer. Dengan demikian, menjaga limbah aluminium di dalam wilayah Eropa bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga strategi energi hijau dan kelestarian industri.
Bagi Uni Eropa, limbah aluminium merupakan bagian besar dari misi mereka mencapai target mineral kritis melalui daur ulang — sebuah strategi yang semakin penting menjelang 2030. Di tengah upaya dekarbonisasi industri, pengelolaan daur ulang logam menjadi senjata penting: mengolah logam bekas secara lokal artinya mengurangi kebutuhan ekstraksi baru dan emisi terkait produksi aluminium primer.
Sementara itu, di seberang Atlantik, Amerika Serikat juga makin khawatir soal aliran limbah aluminium global. Kelompok industri di AS meminta pemerintah untuk memberlakukan kontrol ekspor, khususnya pada limbah berkualitas tinggi seperti kaleng minuman bekas. Pasalnya, meskipun ekspor limbah aluminium bebas bea masuk, tingkat daur ulang kaleng di AS masih rendah — hanya sekitar 43 persen pada 2023, jauh di bawah rata-rata global yang diperkirakan mencapai 75 persen. Para pelaku di AS khawatir bahwa ekspor limbah ini menggerus pasokan lokal dan melemahkan upaya daur ulang di negeri sendiri.
Di balik persaingan ini, lonjakan permintaan dari China menjadi faktor pemicu. Beijing kini menggeser fokusnya dari produksi aluminium primer ke penguatan kapasitas daur ulang. Target ambisiusnya: produksi aluminium sekunder sebesar 15 juta ton per tahun pada tahun 2027. Untuk mencapai itu, China menyedot pasokan limbah aluminium dari seluruh penjuru dunia. Bahkan, sebagian rongsokan itu ditransitkan melalui negara-negara seperti Malaysia dan Thailand untuk pemrosesan awal sebelum masuk ke rantai daur ulang China.
Langkah China ini menimbulkan gelombang kekhawatiran di negara-negara Barat. Mereka takut bahwa dominasi China di segmen aluminium sekunder akan tumbuh pesat, melampaui pengaruh negara itu di aluminium primer. Jika ini terus berlanjut, mereka khawatir rantai pasok daur ulang strategis akan terlalu tergantung pada China — sebuah risiko strategis dan geopolitik.
Baca Juga:
Tiga Kreasi Ayam Goreng Lezat dengan Sentuhan Rempah Nusantara hingga Gaya Jepang
Respons dari Eropa dan AS pun mulai mengerucut ke arah proteksionisme. Uni Eropa mempertimbangkan kebijakan agar limbah aluminium tetap berada di benua biru, sementara di AS, desakan agar limbah berkualitas tinggi tidak diekspor seenaknya menjadi kian kuat. Industri aluminium di kedua kawasan ini melihat limbah sebagai sumber daya strategis: bukan sekadar logam daur ulang, tapi elemen vital dalam menjaga stabilitas pasokan mineral kritis dan mendukung transisi energi bersih.
Sementara itu, transformasi lanskap perdagangan aluminium global semakin jelas digerakkan oleh isu energi dan regulasi lingkungan. Kondisi ekonomi dari produksi primer semakin menekan produsen yang bergantung pada aluminium mentah, terutama di kawasan dengan biaya energi tinggi seperti Eropa. Produksi aluminium primer di Eropa diketahui telah menurun drastis karena biaya listrik yang tinggi, sehingga daur ulang semakin menarik sebagai alternatif.
Secara global, tren ini bersinergi dengan pertumbuhan permintaan aluminium daur ulang di berbagai sektor — otomotif, konstruksi, dan kemasan, misalnya. Industri otomotif khususnya menjadi salah satu motor utama karena aluminium daur ulang menawarkan solusi ringan dan efisien energi, sejalan dengan target emisi industri otomotif yang semakin ketat.
Selain itu, data menunjukkan bahwa volume perdagangan limbah aluminium global tetap kokoh meski mendapat tekanan. Pada paruh pertama 2025, volume impor limbah aluminium dunia tercatat sekitar 4,92 juta ton, sedikit meningkat dibanding periode sama tahun sebelumnya. Meskipun menghadapi tantangan seperti ketidakpastian ekonomi dan kebijakan perdagangan, arus limbah aluminium antar-negara tampak bertahan sebagai bagian penting dari rantai pasok global.
Penguatan regulasi oleh negara-negara Barat serta ambisi ekspansi daur ulang di China mencerminkan bahwa limbah aluminium sudah tidak bisa dilihat sebagai limbah biasa. Ia telah berubah menjadi komoditas strategis yang menentukan masa depan industri aluminium global. Kontestasi atas limbah ini adalah cermin dari perubahan peta kekuatan sumber daya dan teknologi global — di mana daur ulang dan circular economy menjadi pusat persaingan baru.
Baca Juga:
Swasembada Telur dan Daging Ayam: Pemerintah Bangun Ekosistem Peternakan untuk Program Makan Bergizi Gratis
Dengan begitu, pertarungan limbah aluminium sudah bukan soal sampah yang dibuang, melainkan soal siapa yang menguasai masa depan bahan mentah penting bagi era hijau. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan industri, limbah aluminium kini menjadi komoditas geopolitik yang punya potensi mengubah tatanan pasokan mineral kritis dunia.









