Menu

Mode Gelap

Blog · 24 Nov 2025 00:25 WIB

Kehidupan Masyarakat Adat Dayak Meratus: Identitas, Tradisi, dan Perjuangan Menjaga Tanah Leluhur


 Kehidupan Masyarakat Adat Dayak Meratus: Identitas, Tradisi, dan Perjuangan Menjaga Tanah Leluhur Perbesar

PROLOGMEDIA – Berabad-abad lamanya, di balik rimba lebat Pegunungan Meratus, hidup sebuah komunitas yang menyimpan keragaman budaya dan kearifan tradisional: masyarakat adat Dayak Meratus. Wacana terbaru mengenai rencana pemerintah menjadikan wilayah hunian mereka sebagai Taman Nasional Gunung Meratus menimbulkan kekhawatiran. Bagi masyarakat Meratus, tanah yang mereka tempati bukan sekadar lahan, tetapi warisan leluhur yang dijaga turun-temurun. Karena itu, mereka menolak rencana tersebut.

 

Untuk memahami alasan di balik penolakan ini, perlu melihat lebih dalam kehidupan sehari-hari, struktur sosial, dan identitas masyarakat Meratus. Mereka tinggal di dataran tinggi yang terjal dan jauh dari akses transportasi modern. Bukit, lereng curam, hingga lembah berhutan menjadi bagian dari lingkungan hidup mereka. Jalan yang mereka kenal hanyalah setapak yang menghubungkan satu kampung ke kampung lain. Menempuh perjalanan menuju pasar bisa menghabiskan waktu seharian penuh, dimulai dengan berjalan kaki melintasi sungai dan bebatuan, lalu mengendarai motor menuju lokasi terdekat. Pada masa lalu, perjalanan tersebut bahkan bisa memakan waktu hingga tujuh hari. Mereka membawa beras sagantang sebagai bekal dan tidak berkemah di dalam hutan. Mereka memilih menginap di rumah-rumah atau pondok warga yang dilalui. Ketika kembali dari pasar, barang bawaan dipikul dengan cara khas yang mereka sebut mahambin. Beban bertumpu pada dahi dan punggung, bahkan untuk barang yang beratnya puluhan kilogram.

 

Medan yang menantang ini membentuk fisik masyarakat Meratus. Antropolog mencatat bahwa betis mereka tampak menonjol karena terbiasa berjalan di daerah berbukit sejak kecil. Kulit mereka mirip dengan masyarakat Banjar yang cenderung sawo matang, namun kekuatan fisik dan keteguhan sikap sangat terlihat dalam postur tubuh mereka. Mereka tumbuh dengan sikap rendah hati, menghormati sesama dan alam. Generasi tua dikenal bijaksana dan sederhana, sementara generasi muda bersikap lebih terbuka dan mudah berbaur dengan pendatang.

 

Sistem kekerabatan masyarakat Meratus begitu kompleks dan menunjukkan ikatan sosial yang kuat. Mereka menggunakan istilah cu’ur untuk menunjukkan hubungan darah. Panggilan bagi anggota keluarga tidak sesederhana menyebut paman atau nenek. Istri dari busu atau paman, misalnya, dipanggil umang yang berarti bibi. Suami dari apih atau nenek disebut awat yang berarti kakek. Selain itu, ada sistem nama baranak, yaitu perubahan sapaan berdasarkan nama anak. Ketika seseorang memiliki anak bernama Jitu, ia akan dipanggil Ma Jitu. Saat cucu lahir, sapaan pun bisa berubah lagi. Pola ini juga berlaku pada hubungan dengan saudara, ipar, tetangga, hingga pengantin. Sistem panggilan ini menjadi identitas sosial yang khas dan diwariskan dari generasi ke generasi.

 

Kebudayaan Meratus juga diperkaya oleh tradisi lisan. Masyarakat ini tidak mengenal sistem tulisan sehingga semua kisah leluhur disampaikan secara verbal. Dongeng, nyanyian, dan mitos menjadi media jauh lebih penting daripada catatan tertulis. Salah satu legenda terkenal adalah kisah Bungsu Kaleng, sebuah cerita sakral yang dianggap bagian dari sejarah mereka. Meski sulit diverifikasi secara ilmiah, masyarakat Meratus meyakini bahwa mitos memiliki unsur kebenaran. Cerita-cerita tersebut dianggap bukan sekadar dongeng tetapi bagian dari kepercayaan, karena kisah itu dipercaya benar-benar terjadi pada masa leluhur dan memiliki nilai sakral. Dengan demikian, mitos adalah bagian dari cara mereka memahami alam, leluhur, dan diri mereka sendiri.

 

Baca Juga:
Inspirasi dari Serang: Cikande Permai Raih Prestasi di Program Desa Cantik Nasional

Dulu, masyarakat Meratus hidup bersama dalam rumah panjang atau balai yang bisa menampung puluhan hingga ratusan orang. Namun, perubahan terjadi pada masa kolonial Belanda. Pemerintah kolonial menganggap balai sebagai hunian yang kurang higienis dan mudah terbakar. Karena itu, warga diarahkan untuk tinggal di rumah terpisah. Perubahan semakin kuat setelah Indonesia merdeka. Berbagai program permukiman seperti PKMT, PMT, dan KAT membuat masyarakat Meratus berpindah ke rumah-rumah baru yang jauh dari hutan. Kendati demikian, balai adat tetap dibangun di setiap kampung sebagai pusat kegiatan adat, tempat upacara, rapat, dan penyimpanan alat-alat tradisional. Ada balai yang masih dibangun secara tradisional dengan bambu dan kayu tanpa paku, sementara balai yang lebih modern menggunakan material beton dan keramik. Apa pun bentuknya, bagian inti balai tetap dipertahankan sebagai ruang spiritual dan sosial.

 

Dalam sejarah penyebutan, masyarakat Meratus dulu dikenal sebagai Orang Bukit. Namun, mereka menolak sebutan itu karena dianggap merendahkan. Istilah tersebut melekat dengan stereotip yang menyebut mereka sebagai kelompok terasing dan tidak berpendidikan. Mereka lebih memilih nama Dayak Meratus karena mencerminkan identitas, kebanggaan budaya, dan asal-usul. Kata Meratus bukan hanya penanda pegunungan tetapi simbol warisan leluhur dan cara hidup. Menggunakan nama ini juga merupakan bentuk perlawanan terhadap stigma dan upaya menguatkan posisi mereka sebagai pemilik pengetahuan tradisional yang menjaga hutan.

 

Penolakan masyarakat Meratus terhadap rencana taman nasional bukan hanya persoalan batas wilayah. Dampaknya bisa mengubah cara hidup mereka secara keseluruhan. Sekitar 52,8 persen dari wilayah yang direncanakan sebagai taman nasional berada dalam kawasan adat Dayak Meratus. Jika kebijakan itu diberlakukan, akses mereka terhadap tanah leluhur bisa dibatasi. Ladang berpindah, ritual adat, dan seluruh aktivitas sosial yang terikat pada tanah bisa terganggu. Bagi masyarakat Meratus, tanah adalah warisan suci yang harus dijaga. Mereka memiliki aturan adat yang melarang penebangan pohon di kawasan tertentu yang disebut katuan larangan. Kawasan ini diyakini sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur, sehingga hanya hasil hutan non kayu yang boleh dimanfaatkan. Kearifan ini membuat mereka mampu menjaga kelestarian hutan selama berabad-abad.

 

Kekhawatiran semakin besar karena pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa pendirian taman nasional sering diikuti dengan pembatasan akses atau bahkan penggusuran masyarakat adat dari tanah mereka. Selain itu, ekspansi tambang dan hutan tanaman industri terus menekan ruang hidup masyarakat Meratus. Rotasi ladang yang dulu bisa dilakukan setiap lima belas tahun kini hanya tersisa lima hingga delapan tahun akibat menyusutnya lahan. Perpindahan ladang pun semakin dekat, menandakan semakin sempitnya ruang yang tersisa.

 

Bagi masyarakat Meratus, mempertahankan tanah berarti mempertahankan identitas. Padi bagi mereka bukan hanya makanan, tetapi anugerah leluhur. Menurut kepercayaan, padi berasal dari surga dan dibawa oleh nenek moyang. Karena itu, penanaman padi dilakukan melalui ritual, benih diperlakukan dengan penuh penghormatan, dan roh padi dijaga layaknya putri suci. Panen padi selalu dirayakan dalam upacara adat sebagai bentuk syukur.

 

Baca Juga:
Pemprov Banten Perkuat Antisipasi Bencana dan Stok Pangan Jelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

Meskipun menghadapi tekanan dari berbagai arah, masyarakat Meratus tetap berpegang teguh pada hak dan prinsip mereka. Mereka bukan objek kebijakan, tetapi subjek yang memahami hutan, menjaga tradisi, dan menghormati leluhur. Narasi mereka adalah narasi tentang keberlanjutan, bukan hanya untuk masa kini tetapi juga untuk generasi mendatang. Tanah bagi masyarakat Meratus bukan sekadar tempat tinggal, tetapi jiwa tempat seluruh kehidupan mereka berakar.

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Forum TBM Way Kanan Luncurkan Buku Antologi Kisah Rakyat dan Budaya Lokal

17 Januari 2026 - 19:40 WIB

Ancaman Spesies Asing Invasif Menggerus Ekosistem Baluran dan Ujung Kulon

3 Januari 2026 - 18:51 WIB

Peringati Hari Ibu, MY ACADEMY Perkuat Peran Ibu sebagai Entrepreneur Modern

24 Desember 2025 - 08:46 WIB

7 Sisa Bahan Makanan yang Bisa Diubah Jadi Kompos Bergizi untuk Tanaman

23 Desember 2025 - 14:56 WIB

Tips Aman Berkendara ke Puncak saat Libur Nataru, Hindari Mobil Mundur di Tanjakan

23 Desember 2025 - 00:59 WIB

Trending di Blog