PROLOGMEDIA – Di balik kondisi yang serba terbatas, SD Negeri 2 Sorongan tetap menjadi pusat kehidupan bagi warga Kampung Batu Payung. Bagi sebagian orang, bangunan tua dan reyot itu mungkin tak layak disebut sekolah. Namun bagi anak-anak di sana, itulah dunia mereka—tempat di mana mereka bisa melihat harapan, meski samar, di ujung perjalanan panjang. Setiap pagi, langkah-langkah kecil menyusuri tanah berbatu, melewati pepohonan rimbun, dan menembus dinginnya udara perbukitan. Ada yang datang tanpa alas kaki, ada pula yang menggendong adik karena orang tua mereka harus bekerja. Tapi tak satu pun keluhan terdengar; mereka tetap datang karena sekolah adalah satu-satunya ruang untuk bermimpi.
Di ruang kelas yang dipenuhi suara burung dan desir angin, Armani memulai pelajaran dengan kesabaran. Ia membagi waktu dan perhatian secara bergantian: memberi soal matematika untuk kelas atas, lalu mengajari kelas bawah membaca huruf demi huruf. Sering kali ia harus kembali menjelaskan materi yang sama karena siswa kesulitan mengikuti pembelajaran di ruang serba campur itu. Namun ia tidak pernah menganggapnya sebagai beban. Baginya, setiap usaha kecil yang dilakukan anak-anak itu adalah kemenangan.
Ketika hujan turun, situasinya menjadi semakin sulit. Air yang merembes dari atap memaksa mereka menyingkir ke sudut ruangan. Ada kalanya pelajaran terhenti karena lantai menjadi terlalu licin dan berbahaya. Tak ada tempat lain untuk berlindung, tak ada kelas cadangan. Meski begitu, jarang sekali anak-anak memilih pulang. Mereka bertahan, menunggu hujan reda agar pelajaran bisa dilanjutkan kembali. Semangat seperti itulah yang membuat Armani merasa tidak pernah sendirian meski ia satu-satunya guru.
Bagi sebagian warga kampung, pendidikan masih dianggap sebagai hal yang sulit dijangkau. Jarak sekolah lanjutan terlalu jauh, dan biaya transportasi menjadi beban tersendiri. Itulah mengapa banyak anak berhenti sekolah setelah lulus SD. Mereka membantu orang tua di ladang atau bekerja serabutan. Ketika hal itu terjadi, potensi mereka terputus di tengah jalan. Armani kerap berbicara dengan orang tua murid, menjelaskan pentingnya pendidikan, berharap mereka memberi kesempatan lebih panjang bagi anak-anak. Namun realitas sosial sering lebih kuat dari harapan seorang guru.
Meski demikian, kehidupan di kampung itu tidak sepenuhnya muram. Ada tawa ceria yang mewarnai hari-hari di sekolah kecil itu. Anak-anak saling membantu membawa kayu untuk dijadikan alas duduk tambahan, atau bergotong-royong membersihkan lingkungan sekolah. Dalam kekurangan, mereka menemukan solidaritas. Dalam kesederhanaan, mereka belajar tentang kebersamaan. Nilai-nilai itu tumbuh begitu alamiah meski tidak tercantum dalam buku pelajaran.
Baca Juga:
Borobudur Marathon 2025: Keindahan Rute Pedesaan dan Persaingan Atlet Elite Memukau di Magelang
Setiap akhir kelas, Armani sering duduk sejenak di kursinya yang mulai rapuh. Ia menatap papan tulis yang sudah kusam, meja anak-anak yang setengahnya sudah tidak rata, serta dinding yang kian lapuk di makan usia. Kadang ia bertanya pada dirinya sendiri sampai kapan sekolah itu bisa bertahan. Namun setiap kali anak-anak menghampirinya dengan senyum polos dan pertanyaan-pertanyaan kecil tentang dunia, semua keraguan itu menghilang. Ia tahu, selama masih ada murid yang datang, ia akan tetap mengajar.
Harapan besar tentu tetap ada, terutama keinginan agar sekolah itu mendapat perhatian lebih. Bukan hanya soal bangunan, tetapi juga peningkatan kualitas pendidikan. Ruang kelas tambahan, buku-buku baru, perpustakaan kecil, atau fasilitas bermain sederhana akan sangat berarti bagi anak-anak. Perbaikan akses jalan pun penting agar sekolah tidak terasa begitu terisolasi. Banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa hanya beberapa kilometer dari pusat kota, ada sekolah yang berjuang untuk tetap berdiri—secara harfiah maupun harapan.
Jika perubahan itu datang, bukan hanya fisik sekolah yang akan membaik, tetapi juga masa depan anak-anaknya. Mereka akan belajar dalam ruang aman dan nyaman, tidak lagi harus berlindung dari rembesan air hujan. Mereka bisa fokus mengembangkan kemampuan, membaca lebih banyak buku, atau bahkan menggunakan teknologi sederhana untuk membuka jendela dunia yang lebih luas. Dan bagi guru seperti Armani, itu akan menjadi hadiah terbesar setelah bertahun-tahun mengabdi di tengah keterasingan.
Namun hingga hari itu tiba, mereka tetap melangkah dengan apa adanya. Setiap hari menjadi kisah perjuangan, namun juga kisah tentang ketabahan. Anak-anak itu mungkin berasal dari kampung terpencil, tetapi tekad mereka tidak terpencil. Setiap huruf yang mereka baca, setiap angka yang mereka hitung, adalah bukti bahwa pendidikan mampu tumbuh meski tanah tempat berpijak tidak subur. Bahwa harapan bisa bertahan meski ruang kelas hampir runtuh.
Baca Juga:
10 Bahan Alami yang Efektif Bantu Redakan Gejala Asam Lambung atau GERD
Kisah sekolah di Batu Payung adalah potret kecil dari persoalan besar yang terjadi di banyak daerah terpencil di negeri ini. Tapi potret kecil itu menyimpan pesan besar: bahwa tidak ada alasan untuk menyerah. Selama ada guru yang bertahan, selama ada anak yang mau belajar, pendidikan akan terus hidup. Dan mungkin suatu hari, sekolah kecil itu tidak lagi memprihatinkan, melainkan menjadi simbol bahwa harapan bisa tumbuh dari mana saja—bahkan dari sebuah ruang kelas sederhana di tengah perbukitan.









