PROLOGMEDIA – Di media sosial tiba-tiba muncul sebuah video yang memperlihatkan kondisi mengkhawatirkan: tanggul pengaman Pantai Mutiara, Jakarta Utara, tengah “bocor”. Air laut merembes dari celah di bagian bawah tembok, dan aliran itu bahkan menimbulkan genangan di sisi lain yang ternyata merupakan area kolam renang. Dalam hitungan jam, video tersebut menyebar luas dan memicu keprihatinan masyarakat — sebuah sinyal kuat bahwa masalah kelautan di pesisir Jakarta tak bisa lagi diabaikan.
Menyikapi kegemparan itu, Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta angkat bicara. Pihaknya menyatakan bahwa telah melakukan survei langsung ke lokasi dan menyusun rencana perbaikan segera. Alfan Widyastanto, Ketua Subkelompok Perencanaan Bidang Pengendalian Rob dan Pengembangan Pesisir Pantai di Dinas SDA, memastikan bahwa respons dinas bukan hanya sebatas janji: “Merespons informasi di media sosial soal tanggul rembes di Pantai Mutiara, Dinas SDA DKI Jakarta saat ini sudah melakukan survei lapangan,” ujarnya.
Lebih dari itu, SDA tidak hanya akan memperbaiki tanggul yang rusak tapi juga mengevaluasi seluruh penahan pantai di pesisir utara Jakarta. Mereka melakukan pemetaan intensif pada semua segmen tanggul yang diduga berpotensi mengalami rembesan atau kebocoran serupa. Penemuan di Pantai Mutiara hanyalah puncak gunung es menurut mereka — jika satu bagian bocor, kemungkinan ada titik lain yang menghadapi risiko serupa.
Untuk titik yang viral itu, rencana perbaikan telah memasuki tahap perencanaan struktur yang lebih kokoh. Salah satu strategi yang dipertimbangkan adalah menaikkan elevasi tanggul. Dengan elevasi yang lebih tinggi, diharapkan tanggul akan lebih tangguh menahan serbuan air laut dan meminimalisir kemungkinan rembes atau bahkan jebol. “Saat ini sedang melaksanakan tahap perencanaan dengan elevasi tanggul yang akan lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi sekarang,” jelas Alfan.
Namun, perbaikan bukanlah proses instan. Setelah perencanaan matang, masih ada prosedur teknis dan pertimbangan keamanan yang harus dipenuhi. Administrasi, izin, hingga persiapan lapangan menjadi bagian dari proses yang harus dilalui sebelum konstruksi benar-benar dimulai. Meski demikian, SDA menegaskan tekadnya untuk mempercepat langkah perbaikan itu: “Target pelaksanaan pekerjaan diharapkan bisa terealisasi secepat mungkin dan sesuai dengan prosedur yang ada,” ungkap Alfan tanpa merinci waktu pastinya.
Kepanikan publik tak lepas dari pengalaman masa lalu. Pantai Mutiara sendiri pernah menjadi lokasi banjir rob (banjir pasang) yang berkepanjangan. Dulu, saat rob datang, SDA pernah memperbaiki tanggul secara darurat dengan menambal retakan menggunakan karung pasir, bongkahan batu sungai, bahkan tiang bambu dan kayu dolken. Metode darurat tersebut cukup efektif untuk sementara, tetapi bukan solusi jangka panjang.
Sebelumnya, pada tahun-tahun tertentu, SDA juga rutin menaikkan ketinggian tanggul secara berkala agar bisa menghadapi pasang naik laut. Setiap dua tahun, elevasi tanggul dikerek naik sekitar 20 cm sebagai antisipasi terhadap kenaikan muka air laut yang semakin ekstrem. Sayangnya, kenaikan ini belum selalu mampu mencegah rembesan saat gelombang tinggi atau saat struktur tanggul sudah melemah.
Baca Juga:
PLTU Serap Biomassa Lewat Marketplace: Limbah Jadi Cuan, Energi Bersih untuk Warga!
Tanggul Pantai Mutiara bukanlah satu-satunya tanggul yang pernah menghadapi masalah kebocoran. Di Muara Baru, misalnya, Dinas SDA juga pernah menanggapi laporan kebocoran tembok penahan laut. Saat itu, koordinasi dilakukan antara Pemprov DKI, Pelabuhan Indonesia (Pelindo), dan Perikanan Indonesia untuk merencanakan perbaikan. Dari catatan publik, tanggul seperti ini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung daratan, tapi juga sebagai bagian dari proyek lebih besar, seperti National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).
Kondisi tanggul di Pantai Mutiara juga bukan hal baru. Pada momen pasang purnama dan gelombang tinggi beberapa tahun lalu, air laut sempat menembus tanggul dan merendam kompleks perumahan di sana. Situasi memburuk karena pompa penyedotan air rob terkendala — perbaikan tanggul belum rampung, sehingga pompa hanya akan sia-sia bila dipakai sebelum tanggul dijaga utuh.
Ada kekhawatiran bahwa jika perbaikan tak ditangani serius, insiden serupa bisa terulang atau bahkan memburuk. Air laut yang terus merembes berpotensi melemahkan struktur tanggul seiring waktu, dan jika tidak diperkuat, bisa saja terjadi kerusakan yang lebih parah. Mengingat Pantai Mutiara berada di wilayah pesisir yang sangat rentan terhadap rob, maka kesinambungan pengawasan dan pemeliharaan menjadi sangat penting.
Dari sisi masyarakat, viralnya video kemarin memunculkan keresahan sekaligus harapan. Warga dan netizen menyoroti bagaimana kebocoran itu bisa terjadi begitu saja, dan mempertanyakan seberapa kuat struktur tanggul yang melindungi kawasan pesisir Jakarta. Ada tuntutan tidak hanya agar tanggul segera diperbaiki, tetapi juga agar perawatan rutin dan pemantauan menjadi prioritas tetap, bukan sekadar reaksi bila sudah muncul krisis.
Sementara itu, Dinas SDA berusaha memberikan sinyal bahwa mereka serius. Lewat survei langsung, pemetaan, dan rencana peninggian struktur, mereka menunjukkan komitmen untuk tidak hanya menambal masalah sesaat, tetapi memperkuat pertahanan pesisir dengan pendekatan berkelanjutan. Jika semua tahapan berjalan lancar — perencanaan, perizinan, persiapan lapangan — maka proses konstruksi bisa segera dimulai. Begitu tanggul di Pantai Mutiara diperkuat, risiko rembes dan banjir rob bisa ditekan, memberi ketenangan bagi warga pesisir.
Meski demikian, waktu adalah faktor kritis. Hingga saat ini, belum ada tanggal pasti kapan perbaikan akan dimulai dan rampung. Dengan isu-isu seperti kenaikan muka air laut, erosi pesisir, dan potensi kerusakan struktural, tindakan cepat dan terencana dari Dinas SDA menjadi sangat penting. Di sisi lain, keterlibatan publik — melalui pengawasan warga, laporan anomali, hingga dukungan terhadap anggaran pemeliharaan — juga menjadi bagian dari solusi jangka panjang.
Baca Juga:
Deretan Makanan yang Terbukti Meningkatkan Fokus Otak: Nutrisi untuk Konsentrasi Tajam Sepanjang Hari
Di tengah kegaduhan media sosial dan sorotan publik, momentum ini bisa menjadi titik balik: bukan hanya memperbaiki celah di tembok, tetapi memperkuat seluruh sistem penahan laut Jakarta, demi menjaga pesisir ibu kota tetap aman dari ancaman air laut yang terus menekan.









