PROLOGMEDIA – Sebuah riset terbaru menyoroti sebuah fenomena yang mengusik: semakin banyak anak muda, terutama dari generasi Z dan milenial, didiagnosis dengan kanker usus besar atau kolorektal. Studi ini memperlihatkan korelasi kuat antara konsumsi makanan ultraproses (ultra-processed food, UPF) dengan peningkatan risiko kanker jenis tersebut di kalangan usia muda, membuka tafsir baru tentang perubahan epidemiologi kanker dalam dekade terakhir.
Para ilmuwan yang melakukan penelitian menemukan bahwa gaya hidup modern — khususnya pola makan tinggi makanan olahan — menjadi faktor kunci dalam lonjakan kasus kanker usus pada generasi lebih muda. Makanan ultraproses, yang umumnya mengandung banyak bahan tambahan dan rendah nutrisi, diduga dapat menciptakan kondisi dalam tubuh yang mendukung pertumbuhan sel kanker di saluran usus besar.
Lebih jauh lagi, studi ini memperingatkan bahwa kecenderungan konsumsi UPF dan gaya hidup tidak sehat bisa mempercepat munculnya kanker kolorektal pada usia yang jauh lebih muda dibanding generasi sebelumnya. Kondisi demikian sangat mengkhawatirkan, karena kanker kolorektal tradisionalnya lebih umum terjadi di kelompok usia lanjut, tetapi tren telah bergeser drastis.
Faktor lingkungan dan perubahan mikrobioma usus juga ikut berperan. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature menunjukkan bahwa paparan racun kolibaktin—dihasilkan oleh strain bakteri tertentu di usus, terutama E. coli—dapat terjadi sejak masa kanak-kanak, bahkan sebelum usia 10 tahun. Paparan ini bisa mempercepat proses mutasi DNA dalam sel usus, sehingga reservasi kanker muncul lebih cepat di usia dewasa muda.
Ada temuan lain yang memperkuat hipotesis ini: semakin rendah usia diagnosa, semakin tinggi kemungkinan adanya mutasi yang terkait kolibaktin. Hal ini menunjukkan bahwa paparan bakteri berbahaya dan toksin mikroba selama masa pertumbuhan bisa menjadi pijakan awal terjadinya kanker kolorektal saat orang itu tumbuh dewasa.
Tidak hanya itu, pola makan rendah serat juga menjadi sorotan. Para peneliti menegaskan pentingnya meningkatkan konsumsi serat sejak dini—karena serat membantu mempertahankan keseimbangan mikrobioma usus dan menekan koloni bakteri berbahaya. Dalam studi hewan, tikus yang diberi makanan tinggi serat menunjukkan penurunan peradangan usus dan resistensi terhadap kolonisasi bakteri penghasil kolibaktin.
Ahli epidemiologi juga menyatakan bahwa skrining kanker kolorektal sebaiknya dipertimbangkan lebih awal untuk kelompok usia muda. Karena banyak orang di bawah 50 tahun kini terdiagnosis kanker kolorektal pada stadium lanjut, padahal deteksi dini sangat penting dalam menentukan prognosis dan pilihan pengobatan.
Baca Juga:
4 Jenis Minuman Kaya Vitamin D yang Bantu Jaga Tubuh Tetap Bugar dan Tulang Tetap Kuat
Gejala kanker usus besar pada anak muda sering kali tidak diwaspadai karena dianggap “masih terlalu dini” menderita kanker. Padahal, tanda-tanda awal seperti perubahan kebiasaan buang air besar, nyeri perut berkepanjangan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, hingga gejala anemia ringan bisa menjadi sinyal bahaya.
Menyikapi lonjakan kasus ini, para pakar kesehatan menyerukan agar generasi muda lebih sadar terhadap kesehatan ususnya. Mereka menekankan pentingnya mengurangi asupan makanan olahan, meningkatkan konsumsi sayur, buah, dan biji-bijian tinggi serat, serta rajin bergerak agar tekanan risiko kanker bisa ditekan.
Secara global, kenaikan kanker kolorektal pada kelompok di bawah usia 50 bukanlah fenomena lokal semata. Di banyak negara maju, tren ini juga terlihat sangat konsisten dalam beberapa dekade terakhir.
Belum semua faktor penyebabnya sepenuhnya jelas. Ada dugaan kuat bahwa mutasi genetik, paparan racun mikroba sedari kecil, dan kebiasaan hidup tidak sehat bersama-sama berkontribusi. Kini, penelitian lebih lanjut diarahkan pada pemahaman bagaimana kombinasi faktor-faktor ini berinteraksi dalam memicu kanker usus di usia muda.
Salah satu implikasi paling mendesak dari temuan ini adalah perlunya edukasi dan kampanye kesadaran kanker kolorektal menyasar generasi muda. Karena pola konsumsi dan gaya hidup mereka sangat berbeda dari generasi sebelumnya, strategi pencegahan juga harus disesuaikan. Dan jika skrining diturunkan ke usia lebih muda, potensi untuk menyelamatkan nyawa akan meningkat secara signifikan.
Di sisi kebijakan kesehatan, langkah-langkah preventif bisa meliputi: rekomendasi diet sehat sejak sekolah, penyuluhan publik soal bahaya makanan olahan, dan peninjauan ulang pedoman skrining kanker usus agar lebih inklusif bagi kelompok usia muda yang kini lebih rentan.
Baca Juga:
Lonjakan Permintaan Babi di Kaltara, Peternak Kewalahan Jelang Nataru
Akhirnya, riset ini menjadi panggilan bangun bagi kita semua, terutama generasi Z dan milenial: kanker bukan lagi penyakit eksklusif orang tua. Menjaga pola makan, menjalani gaya hidup aktif, dan memperhatikan gejala usus bisa menjadi tindakan nyata untuk menghindari risiko serius di masa depan.









