Menu

Mode Gelap

Berita · 25 Nov 2025 08:05 WIB

Kebangkitan Hayli Gubbi: Erupsi Pertama Setelah 12.000 Tahun Mengguncang Warga Afar


 Kebangkitan Hayli Gubbi: Erupsi Pertama Setelah 12.000 Tahun Mengguncang Warga Afar Perbesar

PROLOGMEDIA – Matahari baru saja menyingsing ketika penduduk desa di kawasan terpencil wilayah Afar, Ethiopia, dikejutkan oleh suara seperti guntur yang mengguncang udara dan getaran yang menyapu tanah. Pagi itu, tepat pada 23 November 2025, gunung yang sebelumnya bagai tertidur panjang menangkap perhatian dunia—Hayli Gubbi tiba-tiba meletus, untuk pertama kalinya dalam catatan sejarah manusia modern, setelah diperkirakan tidak aktif selama lebih dari 12 000 tahun.

 

Warga setempat menggambarkan momen itu dengan nada panik: “Rasanya seperti bom tiba-tiba dilempar ke udara,” ujar seorang penggembala yang mendengar ledakan dan melihat kolom abu raksasa membubung di langit pagi. Kolom abu mencapai ketinggian sekitar 10 hingga 15 kilometer sebelum terbawa angin ke arah Laut Merah dan menyebar ke Yaman serta Oman.

 

Meski tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, dampaknya langsung dirasakan oleh komunitas lokal. Abu vulkanik menyelimuti desa-desa, menutup mata ternak dan memutus akses ke padang rumput dimana hewan-hewan menggembalakan. Seorang administrator lokal mencatat bahwa “meskipun manusia dan ternak belum kehilangan nyawa, banyak desa tertutup abu dan hewan mereka kini sulit makan.”

 

Suasana Saat Erupsi

Di balik dataran gurun dan kolam garam yang terpencil, ketika awan hitam membubung, warga berhamburan keluar rumah tanpa persiapan. Dengan wajah pucat, banyak dari mereka menerobos hujan abu dengan anak-anak di lengan, berlari menjauh dari kaki gunung yang tiba-tiba “hidup” kembali setelah ribuan tahun. Wisatawan yang berada di kawasan dekat Danakil Depression pun terpaksa terdiam, terjebak oleh debu dan rute keluar yang tertutup abu.

 

Di tengah caos itu, ilmuwan dan pengamat vulkanologi merespons dengan rasa heran dan kewaspadaan. Gunung Hayli Gubbi merupakan bagian dari rentang vulkanik Erta Ale Range, namun belum pernah sebelumnya tercatat erupsi dalam ribuan tahun terakhir. Fakta bahwa gunung tersebut bangkit setelah jeda yang begitu panjang menjadikannya salah satu peristiwa vulkanik paling mengejutkan di Afrika Timur.

 

Menggali Latar Geologi

Wilayah Afar, yang dikenal sebagai cekungan rendah di pertemuan lempeng tektonik, adalah rumah bagi rangkaian gunung api dan aktivitas geologi yang intens. Hayli Gubbi sendiri adalah gunung berapi perisai (shield volcano) yang tampaknya “nyaris tak aktif” hingga kini. Karena kondisi geografisnya yang sangat terpencil dan minim akses, catatan erupsi masa lampau gunung ini sangat terbatas.

 

Erupsi yang terjadi pada 23 November ini dipantau oleh pusat peringatan abu vulkanik di Toulouse, yang menggunakan citra satelit untuk mendeteksi letusan dan penurunan ketinggian lahar abu yang melintasi perairan Laut Merah.

 

Dampak Terhadap Komunitas Lokal

Bagi warga Afar, kehidupan sehari-hari sangat bergantung pada ternak dan padang penggembalaan. Namun kini, abu pekat menutupi kulit ternak dan rerumputan, memaksa banyak pemilik hewan untuk mencari alternatif makanan. Kurangnya pakan menjadi kekhawatiran besar karena jika hewan melemah, maka mata pencaharian pun terguncang.

 

Turisme kecil di area tersebut pun terkena dampak. Kawasan Danakil – yang selama ini menarik pelancong dengan lanskapnya yang eksotik – mendadak menjadi tertutup abu, dan beberapa rombongan wisata mendadak terisolasi. Rute keluar tertutup, transportasi terhambat, dan pelayanan logistik menjadi kabur.

Baca Juga:
Kemenkeu Gebrak Industri Tambang: Ekspor Batu Bara Kena Pajak! Hilirisasi Jadi Prioritas!

 

Lebih jauh, abu vulkanik bisa membawa implikasi kesehatan dan lingkungan. Partikel halus bisa masuk ke saluran pernapasan manusia dan hewan, air sumur dan sumber air permukaan bisa tercemar, dan tanah penggembalaan mungkin butuh waktu untuk pulih.

 

Respons dan Waspada Ilmiah

Meskipun erupsi ini terjadi di wilayah yang jarang dihuni, para ilmuwan tidak menganggapnya sepele. Keterjadian erupsi setelah ribuan tahun diam menunjukkan bahwa gunung–gunung seperti Hayli Gubbi tetap memiliki potensi aktif dan bisa mengejutkan. Kejadian semacam ini memperingatkan bahwa wilayah vulkanik yang tampak “dormant” harus tetap dimonitor.

 

Sebelumnya, aktivitas vulkanik di Afar memang telah tercatat, termasuk oleh rentang Erta Ale. Namun yang terjadi kali ini berbeda: gabungan faktor kediaman geologi yang panjang, lokasi terpencil, dan volume abu yang cukup besar menjadikannya studi kasus penting bagi vulkanologi global.

 

Momen Refleksi

Saat warga membersihkan abu di sekitar rumah mereka, petani dan penggembala merenungi kembali betapa ringannya keseharian mereka terhadap kekuatan alam yang tak terlihat. Di langit pagi, kolom abu raksasa tampak sebagai pertanda bahwa bumi di bawah mereka masih menyimpan “mesin” yang diam namun tak pasif. Cerita gunung yang tidur ribuan tahun akhirnya terbangun, dan mengingatkan manusia bahwa waktu geologi berjalan dalam skala yang jauh melampaui pengalaman harian.

 

Kepanikan singkat, evakuasi kecil, dan kehidupan yang mendadak terhenti: semua itu hanyalah gambaran kecil dari interaksi rumit antara manusia dan alam yang tak terkendali. Meskipun kerugian belum besar dalam hal nyawa, dampak ekonomi dan sosial sudah mulai muncul, dan pemulihan — baik bagi komunitas Afar maupun lanskap— akan membutuhkan waktu dan perhatian.

 

Pandangan Ke Depan

 

Meski erupsi utama diperkirakan telah berhenti pada malam 23 November, para ahli memperingatkan bahwa aktivitas sekunder—keluarnya abu lebih kecil, gempa vulkanik, atau aliran lahar cair—tidak bisa diabaikan begitu saja. Warga setempat pun harus tetap waspada, berkoordinasi dengan otoritas lokal, dan mempersiapkan skenario menghadapi dampak lanjutan—termasuk penyediaan air bersih, pakan ternak cadangan, dan pemantauan kualitas udara.

 

Selain itu, kejadian ini juga membuka peluang penelitian baru: bagaimana gunung yang amat lama tak meletus kemudian teraktivasi, apa penyebab pastinya, dan bagaimana prediksi dan mitigasi di wilayah-wilayah sejenis dapat diperkuat. Karena jika satu gunung yang “tertidur” bisa bangkit secara tiba-tiba, maka manusia–khususnya yang tinggal di dekat zona vulkanik—harus mengambil pelajaran.

 

Baca Juga:
Warga Tangsel Geruduk Kantor UPTD TPA Cipeucang, Desak Penutupan Segera

Di hadapan terbentangnya kolom abu di langit, dan wajah-wajah warga yang menatap ke langit dengan keheranan sekaligus kekaguman, satu hal menjadi jelas: alam memiliki dramanya sendiri—ia bisa diam ribuan tahun, lalu dalam hitungan menit menunjuk bahwa ia masih hidup, masih berkuasa, dan manusia hanya bisa menyesuaikan diri, bukan mengendalikan.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita