PROLOGMEDIA – Pemerintah bergerak cepat mengokohkan visi menjadikan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur sebagai pusat pemerintahan politik pada tahun 2028. Dalam langkah strategis terbaru, 16 kementerian dan lembaga prioritas dipersiapkan untuk dipindahkan secara bertahap ke ibu kota baru, sekaligus satuan keamanan Grup 4 Kopassus ditugaskan untuk penguatan pertahanan di wilayah tersebut.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, mengungkapkan bahwa prioritas pemindahan instansi ini tak lepas dari peran langsung kementerian-lembaga tersebut dalam mendukung pembangunan dan operasional IKN. “Terutama kementerian yang berkaitan langsung dengan pembangunan IKN, seperti ATR/BPN, Kehutanan, PU, Perumahan, Keuangan, Kesehatan, pendidikan, dan lain-lain,” ujarnya.
Sebelumnya, dijadwalkan bahwa pemindahan ini akan dimulai sekitar November 2025. Sekurangnya 3.500 ASN dari 16 kementerian telah dikonfirmasi siap berangkat dari Jakarta menuju IKN sebagai gelombang pertama relokasi. Sementara itu, Basuki menyatakan bahwa hingga saat ini pihak otorita tengah menyiapkan hunian bagi para ASN, memastikan ketersediaan apartemen sesuai kebutuhan.
Rencana ini bukan sekadar pemindahan administratif; ini mencerminkan sinergi yang lebih dalam antara berbagai kementerian dengan otorita pusat IKN. Dengan menempatkan instansi yang berperan langsung dalam pembangunan dan operasional ibu kota, pemerintah berharap bisa mempercepat integrasi birokrasi dan meningkatkan efisiensi dalam menyelenggarakan tata kelola pusat pemerintahan baru.
Tak hanya soal pemerintahan sipil, aspek pertahanan juga menjadi perhatian penting. Grup 4 Kopassus — pasukan elit TNI AD — akan menempati basis operasional di Penajam Paser Utara (PPU), wilayah yang dekat dengan pembangunan inti IKN. Basuki menjelaskan bahwa markas Kopassus memang tengah direncanakan berdiri di PPU, dan pihak otorita telah menyiapkan rusun bagi para prajurit.
Saat ini, markas sementara Grup 4 Kopassus masih berada di Cijantung, Jakarta Timur, hingga pembangunan markas permanen rampung. Komandan Jenderal Kopassus, Mayjen Djon Afriyandi, disebut telah meninjau lokasi potensial di PPU. Kehadiran pasukan ini diharapkan menjadi tulang punggung sistem keamanan IKN, menjaga stabilitas dan responsif terhadap tantangan pertahanan di kawasan ibu kota baru.
Relokasi 16 kementerian dan satuan militer ini juga disesuaikan dengan kapasitas hunian yang tersedia. Otorita IKN mengaku tengah menyesuaikan jumlah ASN yang akan dipindahkan dengan jumlah apartemen dan menara hunian yang telah dibangun. Menurut Basuki, penempatan kantor dilakukan secara bertahap, agar tidak membebani infrastruktur dan agar pemindahan dapat berjalan mulus tanpa menimbulkan keguncangan pada birokrasi pusat.
Baca Juga:
Cara Menghilangkan Lemak Mata: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan Terkini
Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa upaya pemindahan ASN semakin nyata. Kompas memberitakan bahwa hingga akhir 2025, sekitar 4.100 ASN akan mulai bertugas di IKN. Sementara itu, Sekretaris Otorita IKN, Bimo Adi Nursanthyasto, menyatakan bahwa 16 kementerian telah memilih perwakilan, sebagian bahkan siap rotasi tugas secara berkala ketika operasi kantor di IKN belum permanen.
Model rotasi tersebut sudah diterapkan oleh beberapa instansi seperti Bank Indonesia, yang menugaskan perwakilannya ke IKN setiap tiga bulan sekali, sebagai bagian dari strategi transisi awal sebelum pemindahan penuh. Skema ini memungkinkan instansi untuk menyesuaikan diri dengan infrastruktur dan dinamika kerja di ibu kota baru, tanpa harus meninggalkan operasional lamanya secara langsung.
Beberapa kementerian yang diprioritaskan memang sangat terkait dengan pembangunan fisik dan pelayanan publik: Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR/BPN), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta Kementerian Perhubungan. Ada pula kementerian sosial seperti Kesehatan dan Pendidikan, yang penting untuk mewujudkan sisi pelayanan publik di kota baru.
Sikap pemerintah melalui Otorita IKN dan TNI menggambarkan bahwa pemindahan ini bukan hanya simbolik, tetapi strategis: membangun kota administratif sekaligus mempertahankan aspek pertahanan yang kuat. Kehadiran Kopassus di PPU tidak hanya untuk menjaga IKN secara fisik, tetapi juga sebagai sinyal bahwa ibu kota baru akan dijaga dengan serius oleh pasukan militer elite.
Dalam diskusi publik, muncul pula dukungan untuk pemindahan ini sebagai langkah transisi ke “ibu kota politik”. Dengan penempatan kementerian strategis dan pasukan militer, IKN tidak lagi dipandang sekadar kota administratif atau simbol pembangunan, tapi sebagai pusat pemerintahan yang aktif, kredibel, dan siap mengelola tugas kenegaraan secara penuh.
Namun, tantangan besar juga terbentang: dari penyediaan hunian ASN, pembangunan markas militer, hingga menjaga kesinambungan operasional instansi yang akan berpindah. Penyiapan menara hunian, apartemen, serta infrastruktur kantor menjadi krusial agar relokasi dapat berjalan lancar. Pemerintah juga harus menjaga keseimbangan antara pemindahan personel dan stabilitas struktural di Jakarta dan IKN.
Langkah pemindahan ini menjadi tonggak baru dalam perjalanan IKN: bukan lagi sekadar wacana ibu kota masa depan, tetapi realitas yang mulai diisi oleh elemen inti pemerintahan. Pemindahan 16 kementerian dan satuan elite militer menunjukkan bahwa otorita IKN dan pemerintah pusat serius menjadikan Nusantara sebagai pusat pemerintahan masa depan, sekaligus menjawab target untuk menjadikan IKN ibu kota politik pada 2028.
Baca Juga:
Pandeglang Berduka: Banjir Dadakan Rendam Desa, Upaya Penanganan Terus Dilakukan
Dengan kombinasi sinergi lembaga sipil dan kekuatan militer, IKN semakin memperlihatkan wajah sebagai sebuah kota pemerintahan yang tidak hanya dirancang secara fisik, tetapi juga operasional. Dalam beberapa tahun ke depan, penguatan birokrasi, pertahanan, dan hunian di Kalimantan Timur akan menjadi fokus penting agar pemindahan ini tidak hanya berhasil dalam peta rencana, tetapi juga dalam praktik nyata.









