PROLOGMEDIA – Seekor badak jawa jantan bernama Mustofa telah berhasil dipindahkan ke lokasi konservasi baru — sebuah langkah besar dalam upaya penyelamatan spesies yang terancam punah tersebut. Pemindahan dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) melalui Korps Marinir TNI AL, yang dikerahkan dalam Operasi Merah Putih. Proses ini mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk Kementerian Kehutanan, Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Yayasan Badak Indonesia (YABI), institusi konservasi, serta tim medis dan ahli satwa.
Upaya translokasi ini bukan perkara ringan. Badak Mustofa pertama-tama ditempatkan dalam jebakan (pit trap) di habitat aslinya pada 3 November 2025 setelah tim pemantauan intensif memastikan kondisinya sehat—tidak mengalami luka maupun patah kaki. Selanjutnya tim melakukan pemeriksaan kesehatan dan penilaian tingkat stres, serta persiapan kandang khusus untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan satwa selama proses translokasi.
Langkah berikutnya berlangsung dini hari pada 4 November 2025, saat tim memindahkan Mustofa dari pit trap menuju kandang angkut khusus. Jalur yang dilalui cukup menantang — melintasi hutan dengan jalur sempit dan licin — menuju titik penjemputan kendaraan amfibi.
Pada 5 November 2025 sekitar pukul 14.20 WIB, kendaraan amfibi milik Korps Marinir, KAPA K-61, mulai mengangkut kandang berisi Mustofa dengan rute laut menuju titik pendaratan terdekat di Legon Pakis. Dari sana proses dilanjutkan menggunakan truk ke destinasi akhir. Sekitar pukul 17.00 tim tiba di titik transfer, dan pada pukul 18.20 WIB, Mustofa sukses mencapai tujuan akhir di Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) untuk kemudian ditempatkan dalam kandang rawat (paddock). Di sana, hewan mulai menjalani fase habituasi dan pengamatan medis serta penjagaan oleh tim konservasi.
Baca Juga:
Presiden China & Belanda Rebutan Bertemu Prabowo di KTT G20 Afsel! Apa yang Dibahas?
Keberhasilan translokasi ini menjadi tonggak penting bagi konservasi satwa langka di Indonesia. Seluruh rangkaian dilakukan di bawah komando Satgas Operasi Merah Putih, yang dipimpin oleh Brigjen TNI Edi Saputra (Danrem 064/Maulana Yusuf) dan Wakil Komandan Satgas Kolonel Laut Catur Yogiantoro (Danlanal Banten).
Penggunaan kendaraan amfibi seperti KAPA K-61 menjadi kunci suksesnya operasi. Sebelum pelaksanaan translokasi, dilakukan serangkaian uji simulasi untuk memastikan bahwa kendaraan tersebut mampu mengangkut kandang besar berisi satwa berat lebih dari satu ton dengan aman. Hal ini penting mengingat medan di kawasan TNUK melibatkan kombinasi hutan dan jalur laut, serta kebutuhan untuk meminimalkan stres pada satwa.
Proses translokasi Mustofa menandai bagaimana kolaborasi lintas sektor — militer, lembaga konservasi, pemerintahan, dan komunitas konservasi — dapat dijalankan secara terorganisir dan sistematis untuk melindungi keanekaragaman hayati Indonesia. Langkah ini bukan sekadar pemindahan individu, tetapi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat populasi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), menjaga kelangsungan hidupnya, serta meminimalkan risiko kepunahan.
Baca Juga:
Siswa SMKN 1 Baros Unjuk Kesenian Banten di @america, Bukti Budaya Lokal Mampu Bicara di Panggung Global
Dengan berhasilnya translokasi Mustofa, harapannya tak hanya satu individu badak yang aman, melainkan juga memberi momentum bagi upaya konservasi selanjutnya. Setiap langkah — dari pemantauan, persiapan teknis dan medis, sampai pemindahan dan rehabilitasi — menunjukkan bahwa dengan perencanaan matang, dedikasi, dan kerja sama kuat, masa depan satwa langka seperti Badak Jawa masih bisa diselamatkan.









