Menu

Mode Gelap

Wisata · 27 Nov 2025 07:03 WIB

Turis Asing Betah Ngekos Berbulan-Bulan di Labuan Bajo, Tren Baru Wisata ‘Slow Living’


 Turis Asing Betah Ngekos Berbulan-Bulan di Labuan Bajo, Tren Baru Wisata ‘Slow Living’ Perbesar

PROLOGMEDIA – Di Labuan Bajo, di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur — sebuah fenomena menarik muncul: wisatawan mancanegara (WNA) kini semakin banyak yang memilih untuk tinggal berbulan-bulan, bukan di hotel, melainkan di kamar kos. Kebiasaan “ngekos” ini — yang bagi sebagian orang mungkin tak biasa bagi turis — ternyata dibolehkan oleh otoritas imigrasi selama memenuhi persyaratan sewa dan tidak ada regulasi lokal yang melarangnya.

 

Menurut pernyataan dari Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPl Labuan Bajo, Kantor Imigrasi Kelas II TPl Labuan Bajo, banyak WNA yang menginap di kos adalah mereka yang mengikuti pelatihan instruktur selam — alias training dive master. Sebab, peserta pelatihan biasanya mendapatkan visa pelatihan (training visa) dengan durasi antara satu sampai tiga bulan, rata-rata sekitar sembilan minggu.

 

Meskipun kebiasaan ini sudah berlangsung, Imigrasi sejauh ini belum memiliki data pasti mengenai jumlah WNA yang tinggal di kos maupun homestay di Labuan Bajo. Untuk itu, mereka tengah melakukan pendataan sekaligus mendorong agar pemilik kos dan homestay secara aktif menggunakan aplikasi laporan orang asing — agar keberadaan dan aktivitas WNA bisa tercatat dengan baik. Sebelumnya, sistem pelaporan hanya diterapkan pada hotel. Dengan pelaporan dari pemilik kos, diharapkan pola hunian dan mobilitas WNA bisa lebih terpantau.

 

Pria berkacamata yang bernama Charles Christian Mathaus itu menekankan bahwa tidak ada larangan bagi WNA untuk menginap di kos, asalkan mereka membayar sewa dan tidak ada peraturan lokal (misalnya Perda) yang melarang. Dengan demikian, selama tidak melanggar hukum setempat, hunian di kos bagi WNA dianggap sah.

 

Menariknya, fenomena ini tidak sekadar soal tempat tinggal. WNA yang mengikuti pelatihan dive master di Labuan Bajo memperlihatkan adanya efek ekonomi bagi destinasi tersebut. Mereka membayar biaya pelatihan, menyewa tempat tinggal, makan, mencuci baju, dan kebutuhan hidup lainnya di kawasan itu — yang artinya ada aliran ekonomi langsung ke masyarakat lokal. Imigrasi melihat ini sebagai hal positif, selama tidak merugikan siapa pun.

 

Labuan Bajo sendiri telah lama dikenal sebagai destinasi favorit wisata selam internasional, dengan perairannya yang mengarah ke kawasan laut di sekitar Taman Nasional Komodo. Aktivitas menyelam telah menarik perhatian wisatawan mancanegara dalam jumlah besar. Banyak dari mereka datang bukan hanya untuk liburan singkat, tetapi untuk menjalani pelatihan menyelam — dan itulah yang membuat kos atau homestay jadi opsi akomodasi yang lebih praktis dan hemat biaya dibanding hotel.

 

Baca Juga:
Mengenal Beragam Jenis Sepeda Statis untuk Olahraga Praktis di Rumah

Selama periode Januari hingga 24 November 2025, tercatat sebanyak 1.718 WNA telah mengajukan izin tinggal di Labuan Bajo. Di antara angka tersebut ada yang datang untuk bekerja, dan tidak sedikit yang datang untuk pelatihan menyelam, menunjukkan bahwa “ngekos” bukan sekadar tren sementara, melainkan bagian dari dinamika wisata dan pelatihan dive master yang berkembang di lokasi ini.

 

Sikap Imigrasi terhadap fenomena ini cukup terbuka: mereka tidak melarang, asalkan semua prosedur terpenuhi — pembayaran sewa, pelaporan, dan kepatuhan terhadap peraturan lokal jika ada. Upaya sosialisasi terus dilakukan agar pemilik kos dan homestay paham bahwa mereka wajib melaporkan keberadaan WNA yang menginap di tempat mereka, tanpa harus datang ke kantor Imigrasi secara langsung. Cukup lewat aplikasi pelaporan orang asing.

 

Di balik pragmatisme tersebut, ada nilai positif untuk ekonomi daerah. Banyak pelatihan dive master yang menjadikan Labuan Bajo sebagai base, dan hal itu berarti pengeluaran oleh peserta — dari biaya kursus hingga kebutuhan sehari-hari — mengalir ke masyarakat lokal. Hal ini dianggap membantu menopang sektor ekonomi mikro di kawasan wisata tersebut.

 

Fenomena “turis asing ngekos berbulan-bulan” ini juga menunjukkan bahwa Labuan Bajo telah berevolusi dari sekadar destinasi wisata singkat menjadi tempat bagi orang asing untuk menetap sementara — meskipun tujuannya bukan liburan, tetapi pelatihan, kerja selam, atau semacam residensi sementara. Ini menunjukkan perubahan karakter destinasi wisata: dari short-term tourism ke slow-living tourism dengan basis pendidikan/training dan ekonomi kreatif.

 

Namun, tantangannya tetap ada. Karena belum ada data komprehensif, sulit untuk memetakan secara akurat berapa banyak WNA yang tinggal di kos, bagaimana pola hunian, mobilitas mereka, serta dampak jangka panjang pada masyarakat dan lingkungan. Maka, program pelaporan WNA menjadi sangat penting, agar pemerintah dan otoritas setempat bisa memantau dengan jelas.

 

Dengan begitu, Labuan Bajo kini tampil bukan hanya sebagai pintu gerbang ke keindahan alam bawah laut dan kekayaan laut Indonesia, tetapi juga sebagai magnet bagi komunitas global yang menyukai diving — dan memilih tinggal sementara di sini. Fenomena ngekos bagi turis asing di sini menjadi cerminan dari perjalanan transformasi pariwisata lokal: lebih fleksibel, inklusif, dan berorientasi pada interaksi jangka menengah.

 

Baca Juga:
Bendera Indonesia Tertukar Saat Pembukaan SEA Games 2025, Momen Membanggakan Tercoreng

Kesimpulannya: pilihan kos bagi wisatawan asing di Labuan Bajo, yang awalnya dianggap unik, kini menjadi hal wajar dan legal selama mengikuti prosedur. Bagi banyak pelaku dive master training, kos menawarkan fleksibilitas dan efisiensi. Bagi masyarakat lokal — dari pemilik kos, penyedia layanan, hingga pelaku usaha harian — hal ini membawa dampak ekonomi nyata. Dengan pengawasan dan pelaporan yang tepat, fenomena ini bisa menjadi bagian positif dari perkembangan pariwisata berkelanjutan di Labuan Bajo.

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dorong Ekonomi Desa, Ratu Zakiyah Jadikan BUMDes Cibojong Model Pertanian Modern

12 Februari 2026 - 08:35 WIB

Suasana Berbeda di Palabuhanratu, Tahun Baru 2026 Tanpa Lautan Manusia

2 Januari 2026 - 10:29 WIB

7 Pulau Terindah di Asia 2025 yang Jadi Destinasi Impian Wisatawan Dunia

1 Januari 2026 - 01:38 WIB

Jelang Tahun Baru 2026, Bupati Serang dan Mendes PDT Tinjau Kesiapan Wisata Pantai Anyer–Cinangka

31 Desember 2025 - 20:10 WIB

Libur Nataru Aman, Polres Way Kanan Gelar Patroli di Objek Wisata

27 Desember 2025 - 12:16 WIB

Liburan Seru ke Pulau Dolphin: Paket Open Trip dari Pulau Harapan di Kepulauan Seribu

26 Desember 2025 - 19:59 WIB

Trending di Wisata