PROLOGMEDIA – Hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Jepang yang memanas telah membawa dampak nyata ke dunia pariwisata — tidak hanya bagi Jepang, tetapi juga bagi destinasi alternatif seperti Korea Selatan. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah operator kapal pesiar asal China memilih mengambil langkah drastis dengan mengubah rute pelayaran mereka, menjauhi pelabuhan-pelabuhan di Jepang dan mengalihkan kunjungan ke Korea Selatan.
Salah satu pelayaran yang paling disorot dalam perubahan ini adalah Adora Magic City. Kapal ini biasa berlayar ke pulau wisata Jeju — sekaligus singgah di pelabuhan Jepang seperti Fukuoka, Sasebo, dan Nagasaki. Namun, pengumuman terbaru dari Pemerintah Provinsi Jeju menyatakan bahwa semua rencana singgah di Jepang untuk bulan Desember dibatalkan. Alih-alih hanya singgah singkat, kapal akan memperpanjang waktu berlabuh di Jeju, dari biasanya sekitar sembilan jam menjadi antara 31 hingga 57 jam.
Seorang pejabat di Jeju, yang memilih tidak disebutkan namanya, menyarankan bahwa perubahan drastis ini sangat mungkin berkaitan dengan ketegangan antara Beijing dan Tokyo. Meski tidak ada konfirmasi resmi dari operator, kata pejabat itu, “sepertinya mereka sedang menyiapkan Plan B.”
Akibat keputusan tersebut, efek domino langsung terasa di sektor pariwisata dan perjalanan. Di Jepang, misalnya, operator tur yang berbasis di Tokyo, East Japan International Travel Service, mengaku kehilangan sekitar 80 persen dari pemesanan untuk sisa tahun ini.
Sementara itu di Korea Selatan, banyak pihak optimistis bahwa perubahan ini akan menjadi angin segar bagi industri pariwisata lokal. Eastern Shipping, sebuah perusahaan agen pelabuhan di Korea, menyebut bahwa beberapa operator kapal pesiar China lain juga sedang mempertimbangkan untuk mengalihkan rute mereka dari Jepang ke Korea Selatan. “Jika hubungan China–Jepang makin buruk dan Tiongkok memboikot produk, budaya, dan pariwisata Jepang, saya yakin Korea akan sangat diuntungkan,” ujar CEO Eastern Shipping, Lee Yong‑gun.
Data dari platform perjalanan China, Qunar, menunjukkan bahwa pada akhir pekan 15–16 November, Korea Selatan menjadi destinasi paling banyak dipesan wisatawan China dibanding negara lain. Di saat yang sama, sejumlah maskapai penerbangan China telah menawarkan refund bagi penumpang yang membatalkan rute ke Jepang, meningkatkan minat wisatawan untuk mengalihkan tujuan ke Korea.
Baca Juga:
Pria di Bogor Protes Menu MBG hingga Viral: Desak SPPG Evaluasi dan Perbaiki Kualitas Makanan
Di sisi lain, maskapai penerbangan Korea seperti Jeju Air sudah mulai bersiap menghadapi lonjakan wisatawan asal China. Meskipun efeknya belum langsung terlihat, manajemen mengaku berada dalam tahap antisipasi terhadap potensi kenaikan permintaan.
Ada juga laporan dari agen perjalanan di Korea bahwa klien asal China kini mulai mempertimbangkan memindahkan acara — awalnya direncanakan di Jepang — ke Korea Selatan. Ini menunjukkan bahwa perubahan rute bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari pergeseran preferensi pasar yang lebih luas.
Secara lebih luas, fenomena ini mencerminkan bagaimana dinamika geopolitik bisa langsung memengaruhi sektor pariwisata dan perjalanan. Ketegangan antara dua negara besar seperti Tiongkok dan Jepang telah memaksa perusahaan pelayaran untuk mencari “pelabuhan aman,” dan di tengah situasi ini, Korea Selatan muncul sebagai pemenang tak terduga.
Bagi Korea Selatan, terutama pulau Jeju dan kota-kota pelabuhan utama, perubahan ini bisa menjadi peluang emas — baik untuk sektor pariwisata, perhotelan, maupun transportasi. Namun, bagi Jepang, ini merupakan peringatan keras bahwa ketegangan diplomatik dapat berdampak negatif terhadap industri pariwisata — bukan hanya dalam bentuk penolakan produk atau budaya, tetapi juga dalam bentuk perubahan rute perjalanan wisata secara masif.
Terlepas dari semua pergeseran ini, pelaku industri dan wisatawan tampaknya bergerak dengan penuh kehati-hatian. Banyak operator kapal pesiar dan agen perjalanan yang menyebut bahwa mereka “masih dalam tahap pengamatan.” Belum ada gambaran pasti kapan dan sejauh mana lonjakan wisatawan ke Korea Selatan akan terjadi, atau apakah Jepang akan bisa memulihkan kembali popularitasnya di kalangan wisatawan China dalam waktu dekat.
Baca Juga:
Hilirisasi Kelapa Dikebut, Maluku Utara dan Morowali Disiapkan Jadi Pusat Industri Bernilai Tinggi
Yang jelas, keputusan sejumlah kapal pesiar China untuk menjauhi Jepang — termasuk memperpanjang singgah di Jeju — menunjukkan bagaimana perjalanan internasional kini sangat rentan terhadap gejolak politik dan diplomatik. Dan dalam pusaran itu, destinasi yang dianggap lebih aman atau netral bisa dengan cepat berubah menjadi “primadona baru” bagi wisatawan global.









