PROLOGMEDIA – Otoritas antikorupsi di Bangladesh baru saja menggeledah sebuah loker di bank yang terkait dengan mantan perdana menteri mereka — Sheikh Hasina — dan menemukan sejumlah besar emas: hampir 10 kilogram emas batangan, koin, dan perhiasan senilai miliaran rupiah.
Penemuan ini terjadi setelah loker tersebut disegel beberapa waktu lalu, dan kini telah dibuka berdasarkan perintah pengadilan atas permintaan penyidik dari Central Intelligence Cell (CIC), otoritas antikorupsi di Bangladesh.
Ketika dibuka, petugas mendapati sekitar 9,7 hingga 10 kilogram emas — berupa koin, emas batangan, dan perhiasan — yang luar biasa dalam jumlah dan nilainya.
Penemuan ini memicu kecurigaan serius. Penyidik menduga bahwa emas tersebut mungkin berasal dari hadiah resmi yang harusnya diserahkan ke kas negara (melalui mekanisme yang disebut “Toshakhana”), tetapi tidak dilaporkan sebagaimana hukum di Bangladesh mewajibkan.
Selain itu, penyitaan emas ini juga memunculkan dugaan pelanggaran pajak: penyidik akan memeriksa apakah kepemilikan emas tersebut telah dilaporkan dalam SPT pajak — atau justru disembunyikan.
Baca Juga:
Liburan Akhir Tahun di Pulau Sepa: Surga Tropis di Kepulauan Seribu
Penemuan ini bertepatan dengan periode politik yang memanas di Bangladesh. Pemerintahan Hasina telah runtuh, dan ketegangan serta kekerasan politik meningkat jelang pemilu yang dijadwalkan pada Februari 2026.
Menurut sumber, penyitaan emas dari loker bank ini bisa menjadi bagian dari penyelidikan lebih besar terkait aliran kekayaan dan aset milik politikus tinggi di negeri itu — serta upaya untuk mengembalikan aset-aset negara yang diduga diperoleh secara ilegal.
Dengan menemukan barang bukti sebesar itu — emas dalam jumlah besar — penyidik berharap bisa membuka tabir di balik kekayaan mantan pejabat tinggi, serta memastikan kepatuhan terhadap regulasi pengungkapan hadiah dan perpajakan. Lebih jauh lagi, temuan ini juga menjadi sorotan publik internasional: bagaimana kekayaan publik dan akuntabilitas pejabat dijaga di negara-negara pascareformasi atau di tengah pemerintahan yang berubah.
Namun, hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Hasina terkait temuan tersebut; juga belum jelas apakah penyitaan ini akan berujung pada gugatan pidana, pengembalian aset, atau proses hukum lainnya.
Bagi warga Bangladesh — dan bagi dunia internasional yang menaruh perhatian pada transparansi pemerintahan — peristiwa ini bisa menjadi momen penting: apakah sistem anti korupsi dan regulasi hadiah/pajak akan ditegakkan secara tegas, atau kekayaan politik tetap bisa disembunyikan secara sistemik.
Baca Juga:
Udang RI Mendunia: Sertifikasi Bebas Cs-137 Buka Gerbang Ekspor ke AS!
Jika Anda mau — saya bisa kembangkan narasi ini menjadi artikel opini atau analisis mendalam tentang implikasi politis dan hukum dari penemuan ini. Mau saya buat?









