PROLOGMEDIA – Hujan deras yang mengguyur Aceh selama beberapa hari terakhir kembali menghadirkan kondisi yang memprihatinkan bagi masyarakat di berbagai kabupaten dan kota. Tekanan cuaca ekstrem, curah hujan yang tidak henti-henti, serta meluapnya sejumlah aliran sungai membuat wilayah yang sebelumnya aman kini dikepung genangan air. Dalam beberapa hari, banjir meluas hingga menjangkau lebih dari separuh wilayah administratif Aceh, merendam permukiman, fasilitas umum, jalan raya, dan lahan pertanian. Bencana ini tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga memaksa banyak warga untuk mengungsi, meninggalkan rumah mereka yang tak lagi aman dihuni.
Sejak intensitas hujan meningkat, debit air di sungai-sungai besar maupun kecil tak mampu tertahan. Air hujan yang turun dalam jumlah besar dengan cepat mengalir ke dataran rendah, membanjiri kawasan pemukiman dan pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Banyak warga yang mengaku kaget karena air naik begitu cepat, terutama pada malam hari. Ada yang terbangun karena suara benda-benda yang hanyut, ada pula yang mendapati rumah mereka sudah dikepung air hingga lutut saat pagi menjelang. Kondisi demikian membuat warga harus mengambil keputusan cepat—bertahan sambil berharap air mereda, atau segera mengungsi demi keselamatan keluarga.
Saat banjir semakin meluas, laporan demi laporan datang dari berbagai daerah. Sebanyak 17 kabupaten dan kota tercatat terdampak, dan jumlah kecamatan yang kebanjiran mencapai ratusan. Di beberapa daerah, air sempat surut sejenak, namun hujan berikutnya membuat permukaan air kembali naik. Ada pula wilayah-wilayah tertentu yang justru bertahan dalam kondisi terendam selama beberapa hari tanpa ada tanda-tanda surut. Warga yang menetap di daerah dataran rendah menjadi yang paling parah merasakan dampaknya. Mereka bukan hanya kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, tetapi juga kesusahan mengakses bantuan, terutama ketika jalan di sekitar mereka terputus akibat genangan yang terlalu dalam.
Di berbagai posko, tenda-tenda darurat mulai dipenuhi warga yang mencari perlindungan. Perempuan, anak-anak, dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan. Banyak dari mereka datang membawa barang seadanya; sekadar pakaian cadangan, selimut tipis, atau dokumen penting yang sempat mereka selamatkan. Di posko, sejumlah warga menghabiskan malam dengan tidur berdesak-desakan, sementara sebagian lainnya memilih bertahan di rumah kerabat atau tetangga yang lokasinya lebih tinggi. Namun tidak semua warga memiliki pilihan tersebut. Ada yang terpaksa bertahan di rumah karena harus menjaga harta benda, ada pula yang tidak sempat mengungsi karena akses jalan sudah tidak bisa dilintasi kendaraan.
Di sisi lain, tim gabungan dari berbagai instansi terus berusaha menjangkau titik-titik terdampak. Petugas menggunakan perahu karet untuk memindahkan warga yang terjebak di rumah. Bantuan logistik seperti beras, mie instan, air mineral, obat-obatan, dan perlengkapan bayi mulai didistribusikan. Namun upaya ini tidak selalu berjalan lancar. Banyak lokasi sulit diakses karena air terlalu tinggi atau aliran deras berbahaya untuk dilewati. Beberapa daerah juga mengalami pemadaman listrik, sehingga komunikasi terhambat dan koordinasi menjadi lebih sulit. Meski demikian, petugas dan relawan tetap berupaya keras menyalurkan bantuan, memastikan setiap titik pengungsian mendapatkan pasokan yang cukup.
Baca Juga:
Ganjil Genap Ditiadakan, Arus Kendaraan Puncak Bogor Bisa Bebas Saat Libur Nataru
Kerugian akibat banjir ini semakin jelas terlihat dari hari ke hari. Selain rumah warga yang terendam, banyak lahan pertanian terancam gagal panen. Petani mengeluhkan sawah yang sudah mulai menghijau kini terendam air keruh, sementara para petambak kehilangan ikan dan udang mereka akibat arus deras yang merusak tambak-tambak. Para pedagang kecil pun ikut merasakan dampaknya; kios mereka tutup, barang-barang dagangan rusak, dan aliran pembeli terhenti karena banjir membuat jalanan tak bisa dilalui. Pemerintah daerah masih melakukan pendataan, namun diperkirakan kerugian material akan terus bertambah seiring masih tingginya curah hujan.
Selain kerugian ekonomi, ancaman kesehatan juga mulai membayangi para korban. Genangan air yang bertahan lama meningkatkan risiko munculnya penyakit kulit, diare, dan ISPA, terutama di lingkungan padat seperti posko pengungsian. Anak-anak sering terlihat bermain air tanpa menyadari bahaya kuman yang mengintai. Di beberapa tempat, petugas kesehatan mulai melakukan pemeriksaan rutin dan pembagian obat-obatan, namun keterbatasan tenaga medis serta luasnya wilayah terdampak membuat upaya ini tidak merata. Air bersih menjadi salah satu kebutuhan yang paling mendesak karena banyak sumur warga tercemar oleh air banjir.
Kendati situasi masih sulit, semangat gotong royong masyarakat Aceh tetap terlihat. Warga yang rumahnya aman digunakan sebagai tempat singgah bagi pengungsi. Masjid, balai desa, dan sekolah dibuka sebagai posko sementara. Relawan lokal bergerak cepat mengumpulkan donasi, mulai dari kebutuhan pokok hingga pakaian layak pakai. Di beberapa titik, dapur umum dibangun untuk menyediakan makanan hangat bagi warga yang sudah berhari-hari tidak bisa memasak di rumah mereka. Bantuan dari berbagai pihak, baik pemerintah, organisasi kemanusiaan, hingga masyarakat umum, menjadi penguat di tengah masa sulit ini.
Meski begitu, harapan agar banjir segera surut masih tertahan karena hujan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Prakiraan cuaca menyebutkan potensi hujan lebat masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan, membuat warga dan petugas harus tetap siaga. Mereka berharap kondisi tidak semakin memburuk dan debit sungai dapat kembali stabil. Pemerintah daerah kini fokus pada penanganan darurat sekaligus menyiapkan langkah-langkah pemulihan jangka menengah, termasuk perbaikan infrastruktur, pembersihan lingkungan, dan pendataan kerusakan untuk menentukan bantuan yang akan diberikan kepada warga.
Baca Juga:
7 Cara Efektif Membersihkan Ikan Bandeng Tanpa Bau Lumpur, Siap Diolah
Di tengah ketidakpastian ini, masyarakat Aceh tetap menunjukkan ketabahan. Meski dihantam bencana yang meluas, mereka berusaha saling menguatkan satu sama lain. Setiap warga yang memberi bantuan, setiap relawan yang terjun ke lapangan, dan setiap petugas yang tidak mengenal lelah menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan masih menjadi kekuatan utama dalam menghadapi musibah ini. Mereka menunggu saat ketika air akhirnya surut, ketika rumah bisa dibersihkan kembali, ketika anak-anak bisa kembali bersekolah, dan ketika kehidupan kembali normal. Hingga saat itu tiba, mereka hanya bisa berharap pada keselamatan, kesabaran, dan bantuan yang terus berdatangan untuk meringankan beban yang mereka hadapi.









