PROLOGMEDIA – Sejak beberapa hari terakhir, warga di wilayah Aceh dan sejumlah daerah di Sumatera Utara dan Barat menghadapi gangguan pada pasokan bahan bakar minyak. Dua kapal tanker yang seharusnya mengantarkan pasokan vital — termasuk jenis Pertalite dan Biosolar — tidak bisa melakukan sandar. Penyebab utamanya adalah cuaca ekstrem: gelombang laut tinggi dan angin kencang melanda perairan sekitar pelabuhan Belawan, menjadikan kondisi di area Single Point Mooring (SPM) terlalu berisiko untuk melanjutkan bongkar muat.
Padahal, kedua kapal tanker itu sudah berada di titik yang siap disandarkan. Namun demikian, demi mempertimbangkan aspek keselamatan operasional dan keselamatan kru kapal maupun proses logistik, pihak operator memutuskan untuk menunda prosedur sandar dan bongkar muat.
Pernyataan resmi dari Pertamina Patra Niaga menyebutkan bahwa seluruh upaya dipantau secara intensif. Koordinasi dilakukan dengan pemerintah daerah, aparat setempat, dan instansi penanganan bencana. Tujuannya: agar penyesuaian pola distribusi bisa dilakukan sesuai kondisi di lapangan — dan agar pasokan BBM tetap bisa dijaga seaman dan seefisien mungkin di tengah situasi yang menantang.
Masyarakat diimbau agar tidak panik, dan membeli bahan bakar seperti BBM maupun LPG sesuai kebutuhan saja. Perusahaan menegaskan bahwa begitu cuaca memungkinkan dan proses sandar kembali aman, suplai akan dipulihkan seperti semula.
Untuk mengantisipasi kekosongan di SPBU terutama di daerah-daerah terpencil atau yang sudah berstatus stok kritis, Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan jalur suplai alternatif. Pasokan dialihkan dari sejumlah terminal terdekat — antara lain terminal di Lhokseumawe, terminal di Siantar, dan terminal di Dumai — untuk memastikan distribusi tetap berjalan.
Baca Juga:
Tukang Servis KTP Kilat di Tangerang: Selesai 30 Menit, Tanpa Birokrasi & Aman Data
Tak hanya itu, produk-produk alternatif juga disiagakan. Jenis BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamina Dex diperbanyak distribusinya, agar kebutuhan energi masyarakat bisa terpenuhi selama proses normalisasi berlangsung.
Menurut penjelasan dari perwakilan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, pihaknya sampai saat ini terus mempercepat langkah-langkah mitigasi — termasuk memperkuat koordinasi dengan aparat dan pemerintah daerah — untuk menjaga stabilitas distribusi energi.
Jika kondisi cuaca mulai membaik dan kapal tanker bisa sandar, diperkirakan suplai Biosolar akan kembali normal pada malam hari, sedangkan pasokan Pertalite menyusul segera keesokan harinya.
Di tengah ketidakpastian ini, pihak perusahaan meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebih yang dapat memicu kelangkaan buatan (panic buying). Untuk kebutuhan mendesak atau pertanyaan terkait layanan, masyarakat dapat menghubungi pusat layanan pelanggan.
Sementara itu, pihak terkait terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi di laut. Begitu angin mereda dan gelombang menurun, kapal tanker diharapkan dapat segera sandar, sehingga proses distribusi BBM bisa kembali normal dan pasokan kepada masyarakat kembali stabil.
Baca Juga:
Legal PT Nikomas Gemilang Bantah Dugaan Pungli PHK, Tegaskan Tuduhan Hoax
Dengan adanya langkah antisipatif seperti alih suplai dan distribusi alternatif, pihak penyedia energi berusaha keras agar gangguan ini tidak sampai membuat masyarakat kehabisan bahan bakar dalam jangka panjang. Semua pihak berharap cuaca segera kondusif agar normalisasi distribusi bisa berjalan secepat mungkin.









