PROLOGMEDIA – Pada malam penghargaan di Jakarta, sebuah lembaga konservasi mendapatkan sorotan istimewa. Taman Safari Indonesia (TSI) dipilih sebagai penerima “Anugerah Lingkungan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan” dalam detikcom Awards 2025 — sebuah penghargaan bergengsi yang mengapresiasi komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan dan pengelolaan sampah.
Penyerahan penghargaan itu disampaikan secara resmi di acara yang berlangsung di Jakarta, diwakili langsung oleh Chief Marketing Officer TSI, Alexander Zulkarnain. Dalam sambutannya, Alex menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas penghargaan tersebut. Bagi TSI, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan formal, melainkan dorongan untuk terus memperkuat upaya mereka dalam menjaga keseimbangan antara alam, satwa, dan manusia.
Apa yang membuat TSI menonjol? Poin kuncinya ada pada penerapan sistem pengelolaan limbah terpadu — Integrated Waste Management (IWM). Dengan sistem ini, TSI mampu mengelola sampah organik dan anorganik secara mandiri, tanpa harus membebani tempat pembuangan akhir (landfill). Hasilnya: hanya sekitar 3% dari total sampah mereka yang dikirim ke landfill. Angka ini jauh lebih rendah dibanding pendekatan konvensional dan menunjukkan komitmen nyata atas pengelolaan limbah.
Pada bagian pengolahan sampah organik, TSI menggunakan maggot dari lalat Black Soldier Fly (BSF) sebagai agen alami pengurai limbah. Maggot ini memecah sampah organik, dan hasil prosesnya kemudian dimanfaatkan sebagai pakan satwa sekaligus pupuk berkualitas. Dengan kata lain, sampah yang semula dianggap limbah, kini menjadi sumber daya — mendukung dua hal sekaligus: kesejahteraan satwa dan kesuburan tanah.
Baca Juga:
Jakarta Resmi Menjadi Kota Terbesar di Dunia, Geser Posisi Tokyo Setelah Puluhan Tahun
Tidak berhenti di situ: TSI juga menunjukkan kreativitas dalam menangani sampah anorganik. Salah satu inovasinya adalah mengubah kotoran hewan — yang biasanya menjadi limbah — menjadi “Poo Paper”, yaitu kertas daur ulang ramah lingkungan. Ide ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak harus monoton atau konvensional, melainkan bisa kreatif dan bernilai tambah.
Bagi banyak orang, keberhasilan ini bukan hanya tentang angka atau penghargaan semata. Ini juga tentang visi jangka panjang. TSI menargetkan untuk menjadi destinasi wisata berkelanjutan yang bisa mencapai nol limbah (zero waste) di masa depan. Visi ini menggambarkan perubahan paradigma: bahwa wisata, konservasi, dan kelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan.
Respon publik pun antusias. Bagi banyak pihak, langkah TSI ini bisa menjadi inspirasi — sebuah contoh nyata bahwa tempat wisata bisa lebih dari sekadar hiburan: bisa menjadi pionir perubahan positif bagi lingkungan. Apalagi di era di mana krisis lingkungan semakin nyata, model seperti IWM yang diterapkan TSI menunjukkan arah baru yang patut diteladani. Selain itu, penghargaan dari detikcom bisa memperkuat reputasi sebagai destinasi yang bertanggung jawab terhadap alam.
Namun, pencapaian ini juga mengingatkan kita bahwa menjaga keberlanjutan bukanlah tugas sekali jalan. Butuh komitmen berkelanjutan, kesadaran dari pengelola, pengunjung, dan seluruh pemangku kepentingan. Untuk itu, Alex pun berharap bahwa apresiasi ini menjadi dorongan bagi komunitas yang lebih luas — masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta — untuk mendukung konservasi dan keberlanjutan lingkungan.
Baca Juga:
ASDP Perkuat Layanan Publik Bersih dan Terpercaya di Peringatan Hakordia 2025
Dengan demikian, malam itu bukan hanya malam penghargaan. Bagi TSI, ini adalah bukti bahwa dengan komitmen dan inovasi, pengelolaan sampah dan konservasi alam bisa berjalan selaras. Dan bagi publik, ini mengingatkan bahwa setiap inisiatif, sekecil apa pun — dari memisahkan sampah, menggunakan kembali limbah, hingga mendaur ulang — bisa punya dampak besar. Karena pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi upaya bersama, di mana alam, satwa, dan manusia hidup dalam harmoni.









