PROLOGMEDIA – Di pesisir utara Kabupaten Tangerang, tepatnya di Desa Ketapang, Kecamatan Mauk, terdapat sebuah oase hijau yang merepresentasikan harapan baru — kawasan mangrove yang dahulu hanyalah permukiman nelayan kumuh, kini berubah menjadi kawasan wisata bernilai ekologis, ekonomis, dan edukatif: Taman Mangrove Ketapang Mauk. Di tengah kesibukan kawasan industri dan urban di Tangerang, hamparan pohon bakau yang rimbun menghadirkan keteduhan alami, dengan udara sejuk dihembuskan angin yang berdesir melalui celah ranting dan daun. Suasana tenang itu seakan mengundang siapa saja untuk melangkah masuk — berjalan di atas jembatan kayu, merasakan aroma lumpur basah khas bakau, dan mendengar gemerisik air kecil di sela akar-akar bakau.
Asal-usul kawasan ini menarik. Dahulu, kawasan Ketapang dikenal sebagai permukiman nelayan, identik dengan kondisi kumuh dan pesisir yang rawan abrasi. Namun lewat inisiatif ekowisata — didukung program CSR beberapa perusahaan swasta di sekitar Kabupaten Tangerang — kawasan itu diubah menjadi ruang hijau bakau yang tidak hanya menyelamatkan ekosistem, tetapi juga memberi wajah baru bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Kini, fungsi utamanya bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai benteng alami menghadapi abrasi pantai, habitat satwa bakau, dan paru-paru hijau di tengah kesibukan.
Saat saya tiba di lokasi, suasana langsung terasa berbeda dibanding area urban di sekitarnya. Rimbun dedaunan bakau memberikan keteduhan, dan hembusan angin lembut menyusup di sela-sela batang pohon. Jalan setapak kayu dan jembatan di atas rawa memberi sensasi berada “di alam liar”, padahal secara administratif masih berada dalam zona Tangerang. Model pembangunan kawasan ini mengikuti prinsip ekowisata — pengelolaan lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat.
Bagi banyak pengunjung, Taman Mangrove Ketapang Mauk bukan sekadar tempat rekreasi. Banyak datang untuk mencari ketenangan, menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kota, atau sekadar menikmati alam sambil berfoto. Karena itulah kawasan ini juga digadang sebagai destinasi “selfie” dan spot fotografi yang menarik.
Namun, di balik keindahan dan potensi besar itu, bukan berarti tidak ada tantangan. Saat berbincang dengan seorang pengunjung — seorang advokat dari Kecamatan Kosambi — muncul sejumlah catatan penting. Ia menyampaikan bahwa secara umum kawasan ini terasa adem, hijau, dan menyenangkan, tetapi fasilitas pendukungnya masih kurang optimal. Beberapa lampu penerangan di malam hari tidak berfungsi, ketersediaan air bersih di kamar mandi terbatas, dan pengawasan serta perawatan area wisata dirasa belum memadai. Ia juga menyoroti praktik pungutan liar, yang menurutnya masih sering terjadi di berbagai lokasi wisata di Kabupaten Tangerang, termasuk agrowisata atau wisata religi.
Sorotan semacam itu penting — karena kenyamanan dan keamanan pengunjung merupakan fondasi utama keberlanjutan wisata. Tanpa fasilitas memadai dan pengelolaan baik, keindahan alam saja tak cukup. Ini sejalan dengan temuan pada beberapa penelitian akademik terhadap kawasan wisata ini, yang menunjukkan bahwa meskipun potensi ekowisata Ketapang cukup tinggi, tingkat kunjungan dapat menurun jika fasilitas, perawatan, dan inovasi pengembangan kurang diperhatikan.
Di sisi lain, kawasan mangrove ini juga membawa manfaat nyata — baik dari segi lingkungan maupun ekonomi. Studi menunjukkan bahwa pengembangan ekowisata mangrove di Ketapang Mauk telah memberikan dampak positif terhadap pelestarian lingkungan serta peningkatan ekonomi masyarakat lokal. Dengan pengelolaan yang tepat, wisatawan yang datang tak hanya menikmati alam, tetapi mendapat edukasi tentang pentingnya mangrove, sekaligus memberi manfaat ekonomis bagi warga sekitar.
Baca Juga:
Motor Dipreteli Nangkring di TPU Ciputat Tangsel, Diduga Hasil Curian
Mengenai karakteristik pengunjung, penelitian memperlihatkan bahwa mayoritas datang dari dalam Kabupaten Tangerang, didominasi usia remaja hingga dewasa, dengan latar belakang pendidikan SMA dan perguruan tinggi. Setidaknya 73% responden menyatakan bahwa setelah berkunjung, mereka menjadi lebih sadar akan pentingnya menjaga kelestarian mangrove. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini bukan sekadar destinasi hiburan, tetapi juga medium edukasi lingkungan yang efektif.
Ekowisata seperti ini juga membuka peluang bagi pemberdayaan masyarakat setempat. Selain sebagai pengelola, warga lokal bisa terlibat dalam jasa jasa wisata, jasa pemandu, budidaya mangrove, hingga layanan penunjang seperti kuliner, UMKM, dan jasa lainnya. Dengan demikian, pengembangan wisata ini memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas hidup warga — asalkan dikelola dengan baik dan berkelanjutan.
Namun, untuk mewujudkan potensi itu secara optimal diperlukan sinergi antara pemerintah, pengelola, masyarakat lokal, dan pihak swasta. Perbaikan fasilitas, perawatan rutin, penerangan yang memadai, air bersih, sanitasi, hingga manajemen wisata yang baik dan transparan menjadi kunci penting demi kenyamanan pengunjung dan keberlanjutan lingkungan. Beberapa penelitian menyarankan agar kawasan ini juga terus dikembangkan dengan variasi atraksi, paket wisata lingkungan seperti menanam mangrove, edukasi konservasi, dan promosi lingkungan.
Kawasan ini juga tak hanya penting sebagai lokasi wisata — secara ekologis, hadirnya hutan mangrove ini membantu menjaga stabilitas ekosistem pesisir. Akar-akar bakau membantu menahan erosi, menjaga habitat flora dan fauna bakau, serta melindungi pesisir dari bahaya abrasi. Di tengah perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut, keberadaan kawasan seperti ini punya nilai strategis besar.
Meski demikian, masih ada pekerjaan besar di depan. Karena menurut analisis terbaru, meskipun nilai ekonomi kawasan ini cukup menjanjikan — salah satu studi menghitung bahwa nilai ekonomi tahunan dari ekowisata mangrove di Ketapang bisa mencapai ratusan juta rupiah — pengelolaan dan inovasi tetap diperlukan untuk menarik lebih banyak pengunjung secara konsisten. Banyak faktor seperti biaya perjalanan, jarak tempuh, kualitas fasilitas, serta manajemen wisata memengaruhi frekuensi kunjungan.
Satu hal yang patut diapresiasi: Taman Mangrove Ketapang Mauk menunjukkan bahwa pariwisata tidak harus identik dengan gemerlap kota, hiburan hedonistik, atau lokasi eksotis jauh di luar Pulau Jawa. Ia bisa menjadi ruang bagi rekonsiliasi manusia dan alam, tempat di mana kita belajar mengapresiasi, melindungi, dan memanfaatkan alam tanpa merusaknya — sekaligus membuka peluang bagi masyarakat pesisir untuk mendapat kehidupan lebih baik.
Jika Anda tertarik mengunjungi, disarankan datang saat pagi atau sore hari — saat udara tidak terlalu panas dan cahaya alami cocok untuk menikmati panorama hijau atau berfoto. Membawa perlengkapan sederhana seperti sepatu anti-licin dan kamera bisa menambah pengalaman. Dan, tentu saja, menjaga kebersihan — jangan tinggalkan sampah, hormati alam, dan bantu jaga kelestarian bakau agar generasi mendatang juga bisa menikmati keindahan ini.
Baca Juga:
Manfaat Daun Kenikir untuk Kesehatan: Nutrisi, Antioksidan, dan Dukungan Ginjal
Taman Mangrove Ketapang Mauk bukan sekadar lokasi wisata — ia adalah pengingat bahwa alam bisa diselamatkan, dipelihara, dan dirayakan. Ia menjadi saksi bahwa dengan niat, kerja sama, dan kesadaran, transformasi dari kampung nelayan kumuh menjadi kawasan hijau yang memberi manfaat ekologis, ekonomis, dan sosial nyata adalah mungkin. Semoga kawasan ini terus berkembang menjadi model ekowisata berkelanjutan, dan menginspirasi kawasan pesisir lain di Indonesia untuk melakukan hal serupa.









