Menu

Mode Gelap

Berita · 29 Nov 2025 15:50 WIB

Hutan Tropis Sumatera di Ambang Krisis: Keindahan & Keanekaragaman Alam Terancam Punah


 Hutan Tropis Sumatera di Ambang Krisis: Keindahan & Keanekaragaman Alam Terancam Punah Perbesar

PROLOGMEDIA – Sejak ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada 2004, kawasan Hutan Hujan Tropis Sumatera (TRHS) — yang mencakup tiga taman nasional: Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) — telah diberi predikat “dalam bahaya” sejak 2011. Kini, status tersebut kembali mengingatkan dunia bahwa keindahan dan keanekaragaman hayati alam Sumatera berada di ujung tanduk oleh tangan manusia.

 

Sejatinya, TRHS adalah mahakarya alam: hamparan seluas 2.595.124 hektar membentang dari Aceh di ujung utara sampai Lampung di selatan, menjadikannya salah satu kawasan konservasi terbesar di Asia Tenggara. Hutan ini menyimpan kekayaan hayati luar biasa — diperkirakan terdapat sekitar 10.000 spesies tumbuhan, termasuk lebih dari satu lusin genus endemik, serta 201 spesies mamalia dan sekitar 580 jenis burung.

 

Di antara fauna ikonis yang mengandalkan hutan ini sebagai habitat adalah spesies-spesies yang sangat rentan: Orangutan Sumatera, Harimau Sumatera, gajah, badak, dan beruang madu — semua menggantungkan nasib mereka pada eksistensi TRHS. Selain kekayaan flora dan fauna, kawasan ini menyajikan keindahan alam luar biasa: dari puncak gunung tertinggi di Sumatera, Gunung Kerinci (3.805 mdpl), lengkap dengan Danau Gunung Tujuh — danau tertinggi di Asia Tenggara — hingga lembah, air terjun, gua, dan garis pantai yang menghadap Samudra Hindia.

 

Namun, sayangnya kenyataan jauh dari ideal. Sejak 2011, saat UNESCO menaruh status “dalam bahaya”, tekanan manusia terhadap hutan semakin intensif — terutama melalui pembangunan jalan, perambahan lahan, penebangan liar, perburuan, dan konversi hutan menjadi kebun atau lahan pertanian. Semua itu merusak integritas ekologis kawasan dan memecah habitat menjadi bagian-bagian yang terisolasi.

 

Pembangunan jalan, misalnya, membuka akses bagi aktivitas-aktivitas ilegal seperti penebangan dan perburuan liar. Infrastruktur ini mempermudah penyusupan ke dalam jantung hutan — suatu kondisi yang sangat berbahaya bagi flora dan fauna, terutama spesies yang membutuhkan wilayah jelajah luas seperti harimau dan gajah.

 

Berbagai upaya memang telah dilakukan untuk menekan kerusakan: patroli gabungan melibatkan lembaga konservasi, aparat pemerintah, sampai masyarakat setempat sebagai jagawana; penegakan hukum; serta program kolaboratif konservasi untuk melindungi satwa dan habitat — seperti perlindungan harimau oleh organisasi konservasi dan patroli anti-perburuan. Namun, meskipun sudah ada tindakan, tantangannya tetap besar dan kompleks.

Baca Juga:
Kilauan Pariwisata: 20 Destinasi Indonesia yang Curi Perhatian Dunia

 

Salah satu contoh paling mencemaskan: di TNBBS saja, tercatat sekitar 7.000 hektar hutan telah rusak akibat perambahan untuk lahan perkebunan, dan terdapat lebih dari 4.500 orang tinggal di dalam kawasan, yang semestinya menjadi area konservasi — bukan pemukiman permanen. Di wilayah lain, seperti bekas kawasan hutan alam yang kini menyusut drastis, dampak konversi lahan sangat terasa: misalnya di bekas kawasan hutan alam (seperti kawasan Taman Nasional Tesso Nilo), dari luas semula puluhan ribu hektar, hanya sekitar 15% yang tersisa sebagai hutan alami — sisanya telah hilang atau berubah fungsi.

 

Di perbatasan hutan lindung di Sumatera Selatan dan Jambi, ditemukan ratusan sumur minyak ilegal. Eksploitasi semacam ini semakin menambah beban terhadap upaya restorasi dan konservasi — merusak tanah, polusi lingkungan, dan mengancam keberlangsungan ekosistem.

 

Tragisnya, kehancuran hutan ini bukan tanpa konsekuensi terhadap masyarakat luas. Beberapa wilayah di Sumatera kini tengah dilanda banjir besar — termasuk di provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat — yang sebagian besar diperparah oleh rusaknya area tangkapan air akibat deforestasi dan hilangnya kawasan hutan. Video-video yang beredar menunjukkan muatan kayu gelondongan terbawa arus, bukti bahwa praktik penebangan liar ikut memperparah banjir bandang dan longsor.

 

Penyingkapan fakta bahwa bencana tidak hanya disebabkan oleh cuaca ekstrem atau pola curah hujan — tetapi juga ulah manusia — memantik keprihatinan bagi seluruh pihak. Akses jalan, pembalakan, aktivitas perkebunan, perburuan, minyak ilegal, semuanya ikut berperan merusak. Sementara satwa-satwa yang menjadi ikon Sumatera terus terdesak, kehilangan tempat hidup, menghadapi fragmentasi habitat, dan terancam punah.

 

Kini, pertanyaan besar muncul: apakah upaya konservasi dan penegakan hukum cukup untuk membalikkan kondisi? Apakah kesadaran kolektif kita akan cukup untuk menjaga hutan— tidak hanya sebagai sumber keindahan dan keanekaragaman, tetapi sebagai paru-paru bagi bumi dan penopang kehidupan banyak makhluk?

 

Baca Juga:
Cara Tepat Mengolah Daun Kelor agar Manfaat Gizinya Tetap Maksimal

Hutan Hujan Tropis Sumatera — dengan segala ragam keindahan dan keanekaragaman hayatinya — sedang berada di persimpangan kritis. Jika manusia terus merusak tanpa kontrol, seluruh kekayaan alam yang tergantung padanya bisa hilang selamanya. Sebaliknya, jika konservasi dan komitmen dilanjutkan, masih ada harapan untuk menyelamatkan warisan dunia ini — tidak hanya untuk generasi sekarang, tetapi juga untuk anak-cucu kita kelak.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Trending di Berita