PROLOGMEDIA – Tăng Chí Hào — lulusan terbaik dari Sekolah Tinggi Ekonomi dan Teknologi Ho Chi Minh City (Ho Chi Minh City College of Economics and Technology) — berhasil meraih IPK sempurna 4,0/4,0 dan lulus pada tahun 2025 di jurusan Teknologi Informasi. Namun, di balik angka dan prestasi gemilang itu, Hào menyadari bahwa langkah keluar dari gerbang kampus membawa tantangan baru: dunia nyata penuh ketidakpastian dan tuntutan yang berbeda.
Tiga tahun lalu, Hào memutuskan untuk kuliah ketika ia merasakan kecocokan dengan sistem belajar yang menekankan praktik, latihan intensif, dan pengembangan keterampilan teknis. Selama masa studinya, lingkungan kampus mendukung dia untuk menggali kemampuan dan masing-masing ilmu tidak hanya dipahami secara teori, tetapi langsung dipraktekkan — sesuatu yang membuat dia semakin yakin bahwa pilihan jurusan ini sesuai.
Hào sendiri mengaku tidak menggunakan metode belajar “ajaib” atau unik — caranya tidak jauh berbeda dengan mahasiswa lain: belajar, mengulang, dan menerapkan. Tapi yang membedakan adalah ketekunan dan konsistensinya: ketika punya waktu luang, ia tidak beristirahat, melainkan mencari referensi tambahan untuk memperluas landasan profesional. Saat mengerjakan proyek atau tugas, Hào menyusun strategi: fokus dulu ke tugas jangka pendek, sementara gagasan untuk tugas jangka panjang dipersiapkan matang—dengan ide dan implementasi di waktu tepat.
Untuk menjaga IPK sempurna di semua mata kuliah, Hào menghabiskan banyak waktu: mengulang materi, mencari pendekatan baru untuk menyelesaikan soal, terus berlatih, dan mengikuti perkembangan terbaru di bidang teknologi informasi. Pendekatan ini membantunya menghadapi tugas dan proyek dengan solusi efektif. Namun, upaya ini tidak mudah — ia harus mengatur waktu secara efisien, menyisihkan saat untuk belajar, bagi waktu istirahat, serta terkadang menghadapi konflik ketika bekerja dalam tim.
Baca Juga:
Kopi Susu Butterscotch ala Kafe yang Bisa Disimpan Tiga Hari, Begini Cara Membuatnya
Ada tekanan yang muncul di balik keberhasilan: tekanan untuk mempertahankan kinerja, ekspektasi dari lingkungan, dan rasa cemas menghadapi masa depan. Setiap tantangan, kesulitan, atau keraguan dipertemukan oleh Hào dengan kesabaran dan introspeksi. “Setiap masalah pasti ada solusinya, ketika kita mau duduk, tenang, dan memikirkannya,” ujarnya — semacam mantra yang ia gunakan untuk menenangkan diri dan menjaga semangat demi pantang menyerah.
Selain soal akademik, Hào memelihara pandangan hidup yang luas: ia yakin, tindakan kecil seperti senyuman, ide sederhana, atau kebaikan — jika dilakukan secara konsisten — bisa membawa perubahan. Prinsip itu ia dengarkan tidak hanya sebagai motivasi pribadi, tetapi juga sebagai komitmen terhadap masyarakat. Baginya, keberhasilan akademis bukan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab: tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan komunitas.
Ijazah dengan nilai sempurna tentu membuka banyak pintu kesempatan. Tapi bagi Hào, itu bukan sekadar simbol prestise — ia malah memandangnya sebagai pengingat bahwa jalannya ke depan panjang dan penuh liku. Setelah kelulusan, dia belum langsung melangkah ke karier mapan: saat ini ia tengah mencari peluang kerja yang sesuai dengan kemampuan dan hasrat di bidang teknologi informasi.
Hào menegaskan bahwa lebih penting dari sekadar angka IPK adalah kemampuan untuk menerapkan ilmu — menjadikannya berguna dan relevan dalam dunia kerja — serta mengubah pengetahuan menjadi nilai positif dalam kehidupan nyata. Semangat itulah yang mendorongnya untuk tidak hanya mengejar nilai, tetapi mencari tujuan jangka panjang: pembangunan karier, kontribusi sosial, dan pencapaian yang berkelanjutan.
Baca Juga:
Pengelola Galian C di Sadeng Akui Tak Berizin namun Tetap Beroperasi, Warga Makin Resah
Kisah Hào memberi banyak pelajaran: bahwa prestasi akademis tinggi memang penting, tetapi tidak menjamin masa depan. Dunia di luar kampus menuntut kapabilitas, adaptabilitas, komitmen, dan keberanian untuk terus belajar. Dan bagi siapa pun yang baru saja lulus atau akan menghadapi dunia luar kampus, kisah ini mengingatkan: keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika ilmu, nilai, dan usaha disatukan menjadi langkah nyata untuk membangun masa depan — bukan sekadar gelar atau angka di transkrip.









