Menu

Mode Gelap

Berita · 2 Des 2025 11:27 WIB

Empat Kabupaten di Aceh Masih Terisolir: Jalan Putus, Bantuan Terhambat, dan Situasi Kian Mengkhawatirkan


 Empat Kabupaten di Aceh Masih Terisolir: Jalan Putus, Bantuan Terhambat, dan Situasi Kian Mengkhawatirkan Perbesar

PROLOGMEDIA – Hujan deras yang mengguyur wilayah Aceh selama beberapa hari terakhir memicu banjir bandang dan longsor besar yang merusak infrastruktur vital di sejumlah daerah. Dampak paling serius terjadi pada akses jalan yang terputus total, sehingga empat kabupaten di dataran tinggi Aceh masih terisolir dan tidak bisa dijangkau menggunakan jalur darat. Hingga saat ini, wilayah tersebut masih dalam kondisi darurat karena suplai logistik, obat-obatan, dan bantuan untuk warga belum dapat masuk secara optimal.

 

Kabupaten yang masih terisolir meliputi Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Aceh Singkil. Kerusakan yang terjadi cukup parah. Beberapa ruas jalan amblas, jembatan roboh, dan longsor menimbun badan jalan di banyak titik, sehingga tidak ada kendaraan yang bisa melintas. Kondisi ini membuat ribuan warga di wilayah pedalaman tersebut kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, bahkan beberapa desa sama sekali tidak tersentuh bantuan sejak bencana terjadi.

 

Di kawasan antara Aceh Utara menuju Bener Meriah, dinding bukit yang rapuh tak sanggup menahan curah hujan ekstrem hingga akhirnya longsor terjadi berulang kali. Material tanah bercampur batu menutup seluruh jalan utama. Di sisi lain, jalur Bireuen menuju Takengon mengalami kerusakan yang tidak kalah parah. Jembatan yang menjadi penghubung utama terseret arus banjir, sementara badan jalan retak dan longsor ke jurang. Beberapa kendaraan yang sedang melintas pun turut terjebak dan mengalami kerusakan berat.

 

Situasi darurat serupa juga terjadi di Gayo Lues dan Singkil. Jalan nasional yang selama ini menjadi nadi transportasi masyarakat kini dipenuhi titik longsor. Petugas sebenarnya berusaha membuka jalur alternatif, tetapi kondisi jalannya sempit, licin, dan hanya dapat dilalui sepeda motor. Hal ini jelas tidak memadai untuk mengangkut pasokan logistik dalam jumlah besar, terutama untuk kebutuhan warga yang sudah kekurangan air bersih dan makanan.

 

Memahami urgensi situasi ini, pemerintah mengerahkan berbagai upaya untuk membuka kembali akses yang terputus. Di jalur Aceh Utara menuju Bener Meriah, sejumlah alat berat sudah ditempatkan di lokasi. Para operator bekerja sejak pagi hingga larut malam untuk memindahkan material longsoran. Jumlah alat berat pun akan ditambah agar pembukaan jalan bisa dilakukan lebih cepat. Meskipun begitu, medan yang berat membuat proses ini tidak mudah. Ancaman longsor susulan masih terus membayangi karena curah hujan belum menunjukkan tanda akan mereda.

 

Baca Juga:
Sinergi Pusat & Daerah: Pariwisata Berkelanjutan Jadi Prioritas Utama Indonesia

Di kawasan Gayo Lues, kerusakan jalan mencapai empat titik utama. Upaya pembukaan jalur darurat dilakukan, tetapi kondisi medan pegunungan membuat prosesnya memakan waktu lama. Sementara itu, untuk wilayah Aceh Tengah, jalur akses ke ibu kota kabupaten terputus total dan hanya bisa dijangkau melalui udara.

 

Karena akses darat sangat terbatas, pemerintah mulai mengandalkan jalur udara untuk menyalurkan bantuan. Pesawat kecil dan helikopter dikerahkan untuk membawa pasokan penting seperti obat-obatan, beras, selimut, hingga makanan siap saji. Bandara kecil di dataran tinggi menjadi titik masuk utama bantuan tersebut, meski kapasitasnya terbatas. Di beberapa desa yang tidak memiliki landasan udara, bantuan harus di-dropping dari ketinggian menggunakan helikopter.

 

Kondisi warga di daerah terisolir semakin mengkhawatirkan. Banyak keluarga yang sudah berhari-hari tanpa listrik karena jaringan kabel terputus. Stok makanan mulai menipis, sementara akses ke fasilitas kesehatan sangat terbatas. Laporan awal menunjukkan beberapa warga mengalami luka-luka, demam, dan dehidrasi namun belum bisa dievakuasi. Kondisi ini diperburuk dengan terputusnya jaringan komunikasi di beberapa titik sehingga koordinasi menjadi sulit dilakukan.

 

Bencana ini juga menimbulkan kerusakan infrastruktur yang sangat luas. Menurut data sementara, lebih dari dua puluh titik badan jalan nasional rusak, belasan jembatan runtuh, dan banyak rumah warga terendam atau hanyut terbawa arus. Kerugian diperkirakan mencapai angka yang sangat besar dan pemulihan diprediksi akan memakan waktu lama.

 

Meski situasinya sangat menantang, harapan masih ada. Petugas gabungan dari berbagai instansi terus bekerja membuka akses darat, mengevakuasi warga, dan menyalurkan bantuan. Relawan dari berbagai daerah juga mulai berdatangan. Pemerintah daerah, pusat, dan lembaga sosial kini bergandengan tangan untuk memastikan kebutuhan mendesak warga terpenuhi secepat mungkin.

 

Baca Juga:
Pemprov DKI Ancam Tindak Pembuang Limbah Usai Kali Cakung Drain Menghitam

Namun bencana ini menjadi pengingat penting tentang rentannya infrastruktur di daerah rawan dan perlunya mitigasi yang lebih matang. Perencanaan pembangunan ke depan harus mempertimbangkan ancaman bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Jalan, jembatan, dan permukiman di daerah rawan seharusnya dibangun dengan standar keamanan yang lebih baik agar tidak mudah rusak ketika hujan ekstrem datang.

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Trending di Berita