PROLOGMEDIA – Baru-baru ini, muncul peringatan penting bagi banyak orang: ternyata kebiasaan makan sendirian — terutama jika dilakukan terlalu sering — bisa membawa dampak serius bagi kesehatan, tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental. Temuan ini mengajak kita untuk menilik ulang bagaimana kebiasaan sederhana seperti menikmati makanan bisa memengaruhi kesejahteraan kita secara lebih luas.
Di tengah gaya hidup modern yang sering menuntut kesendirian — entah karena kesibukan kerja, tinggal jauh dari keluarga, atau pola hidup urban yang padat — makan sendirian menjadi hal lazim. Tetapi riset terbaru menunjukkan bahwa ada konsekuensi yang tidak boleh diabaikan. Mereka yang terbiasa makan sendiri lebih rentan terhadap masalah kesehatan: mulai dari pola makan yang buruk, kurangnya asupan nutrisi, hingga meningkatnya risiko depresi serta perasaan sepi atau terisolasi.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kualitas pola makan. Ketika makan bersama, ada kecenderungan untuk makan lebih bervariasi — misalnya sayur, buah, dan makanan bergizi lainnya. Sebaliknya, mereka yang makan sendirian sering terjebak dalam pola konsumsi makanan siap saji atau makanan dengan nilai gizi rendah. Hal ini bisa menyebabkan kekurangan nutrisi hingga berujung pada melemahnya daya tahan tubuh, penurunan massa otot, dan kondisi fisik yang rentan. Di kalangan lanjut usia misalnya, kekurangan protein dan asupan gizi dapat mempengaruhi kesehatan fisik secara serius, bahkan meningkatkan risiko kerapuhan tubuh.
Namun dampak makan sendirian bukan hanya soal fisik. Aspek mental dan emosional ternyata sangat terkait. Dalam sejumlah penelitian di berbagai negara, ditemukan bahwa individu yang sering makan sendirian — terutama jika hal itu terjadi bukan atas pilihan sadar (bukan “self-chosen solitude”) melainkan karena terpaksa atau habitual — menunjukkan angka depresi dan kecemasan yang lebih tinggi dibanding mereka yang makan bersama orang lain.
Sebagai contoh, sebuah studi pada orang dewasa menunjukkan bahwa mereka yang makan malam sendirian memiliki peluang lebih besar mengalami gejala depresi, bahkan pikiran bunuh diri, dibanding orang yang makan bersama. Dalam penelitian itu, setelah memperhitungkan faktor usia, jenis kelamin, pendapatan, kebiasaan merokok, minum alkohol, dan aktivitas fisik, pola makan solo tetap terbukti berhubungan dengan gangguan suasana hati.
Penelitian lain pada mahasiswa memperkuat hal ini: ketika makan sendirian bukan karena mereka memilih waktu sendiri — melainkan karena situasi (misalnya tinggal sendiri, tidak ada teman, atau kesibukan) — maka tingkat depresi meningkat signifikan, terutama pada perempuan. Para peneliti menekankan bahwa sensasi “kesepian yang dipaksakan” dari makan sendirian bisa memperparah kerentanan terhadap stres mental, jauh berbeda jika seseorang memilih makan sendiri sebagai tindakan refleksi atau self-care.
Baca Juga:
Hindari Risiko Berbahaya saat Mengisi Bensin di SPBU: Ini Hal-Hal yang Harus Diwaspadai Pengendara
Keterkaitan antara makan sendirian dan kesehatan mental juga muncul pada orang lanjut usia. Data menunjukkan bahwa lansia yang makan sendiri, meskipun tinggal bersama orang lain, tetap menunjukkan gejala depresi lebih tinggi dibanding lansia yang makan bersama. Ini menunjukkan bahwa “komunitas makan” — sekadar berbagi meja dengan orang lain — memiliki peran penting untuk menjaga perasaan terhubung, dihargai, dan diperhatikan.
Mengapa makan bersama begitu “kuat”? Alasannya sederhana: makan bukan sekadar proses biologis untuk mengisi tenaga. Makan adalah ritual sosial — momen untuk berbagi, berbincang ringan, tertawa, dan merawat ikatan emosional. Saat kita makan bersama orang lain, kita memberi diri kita kesempatan untuk merasa dilihat, diakui, dan terhubung. Sebaliknya, makan dalam kesendirian terus-menerus bisa memperkuat perasaan terpisah, terlupakan, atau sendirian — kondisi yang, bila terjadi berulang, bisa menggerogoti kesehatan mental.
Di sisi lain, ada pula kelompok orang yang memang memilih makan sendiri secara sadar — untuk relaksasi, introspeksi, atau sekadar menikmati waktu sendiri. Penelitian menyebut bahwa “solo dining” seperti ini tidak selalu bermasalah, selama dilakukan dengan kesadaran, bukan karena tekanan sosial atau keadaan terpaksa. Unsur pentingnya adalah motivasi: apakah makan sendiri adalah pilihan sadar yang menyenangkan, atau sekadar akibat ketiadaan pilihan.
Tentu, bukan berarti makan sendiri harus dihindari sama sekali. Kadang, dalam kesibukan atau gaya hidup modern, makan sendirian bisa jadi hal yang wajar — bahkan perlu. Tetapi penelitian ini mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga keseimbangan: menyisipkan momen makan bersama keluarga, teman, atau kolega sebagai bagian dari gaya hidup sehat — bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga untuk pikiran.
Bagi mereka yang tinggal sendiri, jauh dari keluarga, atau memiliki rutinitas yang membuat mereka makan sendiri terlalu sering, hasil penelitian ini bisa menjadi wake-up call. Cobalah untuk membiasakan setidaknya satu kali makan bersama dalam sehari — bisa sarapan bersama teman lewat daring, video call sambil makan, atau berkumpul makan malam dengan teman kerja akhir pekan. Hal sederhana seperti itu bisa membantu menjaga rasa “terhubung”, mendukung kesehatan mental, dan mencegah perasaan sepi yang berkepanjangan.
Akhirnya, riset ini menyadarkan kita bahwa kesehatan bukan hanya soal asupan gizi dan olahraga, tetapi juga soal kualitas relasi sosial — bahkan hal sesederhana makan bersama bisa berkontribusi besar terhadap kesejahteraan kita. Di era di mana kesendirian kerap dianggap wajar atau bahkan ideal, penting untuk diingat: manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Koneksi — sekecil apa pun — memberi warna bagi hidup, menjaga keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa.
Baca Juga:
BNN Tingkatkan Kompetensi Petugas Rehabilitasi: Layanan Optimal bagi Pecandu Narkoba
Oleh karena itu, sebelum kita membiarkan kebiasaan makan sendirian menjadi rutinitas permanen, ada baiknya kita meninjau: apakah kita memang memilihnya secara sadar, atau sekadar larut dalam kesibukan dan kebiasaan? Dan jika memungkinkan — luangkan waktu, ajak seseorang, makan bersama. Karena terkadang, sekadar duduk bersama di meja makan bisa menjadi obat sederhana bagi jiwa yang mulai penat.









