Menu

Mode Gelap

Berita · 2 Des 2025 16:48 WIB

Warga Sumur Bandung Geruduk Pabrik Pakan Ikan, Protes Dugaan Pencemaran Udara yang Kian Parah


 Warga Sumur Bandung Geruduk Pabrik Pakan Ikan, Protes Dugaan Pencemaran Udara yang Kian Parah Perbesar

PROLOGMEDIA – Ratusan warga Desa Sumur Bandung, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, turun ke jalan untuk menyuarakan keresahan yang telah mereka rasakan bertahun-tahun. Pada Selasa (2/12/2025), mereka menggelar aksi demonstrasi di depan PT New Hope Aqua Feed Indonesia, sebuah pabrik pakan ikan yang berada di Jalan Raya Serang KM 32. Aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap dugaan pencemaran udara yang disebut warga semakin mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat sekitar.

 

Sejak pagi buta, warga dari berbagai RT dan RW mulai berdatangan ke titik aksi sambil membawa berbagai atribut demonstrasi. Ada yang membawa spanduk besar bertuliskan tuntutan, ada pula yang memegang poster kecil yang berisi keluhan tentang kualitas udara di lingkungan tempat tinggal mereka. Sejumlah warga lain tampak membawa pengeras suara untuk membantu menyampaikan aspirasi kepada perusahaan. Suasana yang awalnya lengang berubah menjadi ramai ketika massa mulai memadati depan gerbang perusahaan.

 

Para peserta aksi, mulai dari ibu rumah tangga, pemuda, hingga tokoh masyarakat, menyuarakan hal yang sama: mereka ingin udara di lingkungan mereka kembali bersih. Menurut warga, mereka sudah terlalu lama mencium bau tidak sedap dan merasakan debu berlebih yang diduga berasal dari aktivitas pabrik. Sebagian warga juga mengaku mengalami gangguan pernapasan, batuk, hingga iritasi mata, meski belum ada kajian kesehatan resmi yang memastikan penyebabnya. Namun, bagi mereka, kondisi udara yang berubah sejak pabrik beroperasi sudah cukup membuat keresahan memuncak.

 

Sekitar pukul 09.00 WIB, orator aksi mulai menyampaikan seruan dari atas mobil komando. Mereka menuntut perusahaan segera mengambil langkah konkret mengatasi dugaan pencemaran udara dan membuka ruang dialog secara terbuka dengan masyarakat. Beberapa perwakilan warga yang berorasi menyampaikan bahwa aksi hari itu merupakan puncak dari rasa frustrasi karena berbagai upaya persuasif sebelumnya dianggap belum mendapatkan respons memadai.

 

Hingga menjelang siang, massa terus bertahan di depan gerbang pabrik. Mereka berharap ada manajemen perusahaan yang keluar memberikan penjelasan atau sekadar menampung aspirasi warga. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Tidak satu pun perwakilan perusahaan tampak keluar menemui massa, membuat suasana semakin tegang. Beberapa warga mulai berteriak meminta klarifikasi, sementara yang lainnya mencoba tetap menenangkan keadaan.

 

Ketegangan sempat meningkat ketika sekelompok warga berupaya memadamkan api dari ban yang sebelumnya dibakar di tengah jalan sebagai bentuk simbolik perlawanan. Asap hitam sempat mengepul dan menambah dramatis suasana aksi, meski koordinator lapangan segera mengendalikan massa agar situasi tidak makin memanas. Mobil komando diparkir sedikit menjorok ke badan jalan sehingga sempat mengganggu arus lalu lintas, tetapi aparat keamanan bersama koordinator aksi tetap memastikan situasi tetap tertib.

 

Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya pihak perusahaan membuka pintu gerbang dan menyatakan kesediaan untuk bertemu perwakilan warga. Pertemuan dilakukan secara singkat dan terbatas, mengingat kondisi massa di luar yang masih berkumpul. Dalam pertemuan itu, perwakilan perusahaan meminta agar warga mengajukan surat audiensi resmi. Surat tersebut diminta untuk ditembuskan kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) serta Pemerintah Desa Sumur Bandung.

Baca Juga:
Meditasi Mindfulness: Kunci Redakan Stres & Tingkatkan Fokus di Era Serba Cepat!

 

Menurut pihak perusahaan, langkah administratif tersebut dianggap sebagai prosedur yang harus dilalui agar pembahasan bisa dilakukan secara lebih formal, terstruktur, dan melibatkan instansi yang memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan lingkungan. Perusahaan menyebut bahwa mereka tidak menutup diri untuk berdialog dengan warga, namun ingin memastikan segala proses berjalan sesuai aturan yang berlaku.

 

Mendengar respons tersebut, para perwakilan warga kemudian kembali ke luar menemui massa untuk menyampaikan hasil pertemuan. Perasaan warga tercampur antara kecewa dan lega. Kecewa karena mereka berharap dialog langsung bisa dilakukan saat itu juga, namun pada saat yang sama lega karena perusahaan akhirnya memberikan tanggapan, meski belum konkret.

 

Koordinator aksi kemudian meminta massa untuk membubarkan diri secara tertib. Dengan komando yang tegas, warga perlahan meninggalkan area pabrik. Sepanjang perjalanan pulang, beberapa warga masih terlihat berdiskusi satu sama lain tentang langkah apa yang akan mereka ambil selanjutnya. Meski aksi hari itu telah selesai, semangat warga untuk memperjuangkan udara bersih tampaknya justru semakin kuat.

 

Warga menegaskan bahwa mereka tidak akan berhenti sampai ada penyelesaian nyata. Mereka berniat menyusun surat audiensi sesuai prosedur yang diminta perusahaan dan segera melibatkan DLHK serta pemerintah desa untuk memastikan persoalan ini tidak berhenti di tengah jalan. Tokoh masyarakat menekankan bahwa persoalan lingkungan bukan hanya tentang bau atau debu, tetapi menyangkut kualitas hidup dan masa depan generasi berikutnya.

 

Aksi demonstrasi ini juga menunjukkan bahwa warga semakin sadar akan hak mereka terhadap lingkungan yang sehat. Kesadaran itu menjadi pendorong utama dari keberanian mereka turun ke jalan. Banyak warga menyebut bahwa ini adalah aksi terbesar yang pernah mereka lakukan terkait persoalan lingkungan di desa mereka. Mereka berharap suara mereka kali ini benar-benar didengar dan ditindaklanjuti secara serius.

 

Bagi warga Desa Sumur Bandung, udara bersih bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Mereka berharap PT New Hope Aqua Feed Indonesia dapat menunjukkan itikad baik, melakukan evaluasi terhadap aktivitas produksinya, dan mengurangi potensi pencemaran udara yang muncul. Langkah itu penting dilakukan bukan hanya untuk kepentingan warga, tetapi juga untuk menjaga hubungan baik antara perusahaan dengan masyarakat sekitar.

 

Baca Juga:
7 Makanan Penguat Tulang agar Tetap Kuat Hingga Tua

Meski aksi telah berakhir damai, peristiwa ini meninggalkan pesan kuat bahwa masyarakat kini semakin vokal dan tidak ragu memperjuangkan lingkungan yang lebih layak. Warga berharap hari itu menjadi titik awal perubahan dan bukan sekadar rangkaian demonstrasi tanpa hasil. Mereka menunggu langkah konkret dari perusahaan maupun instansi terkait sebagai wujud tanggung jawab bersama menjaga kualitas udara di Jayanti.

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Trending di Berita