Menu

Mode Gelap

Blog · 4 Des 2025 19:17 WIB

Tiga Akar Masalah yang Bikin Jalan di Indonesia Mudah Rusak Menurut Ahli Teknik Sipil


 Tiga Akar Masalah yang Bikin Jalan di Indonesia Mudah Rusak Menurut Ahli Teknik Sipil Perbesar

PROLOGMEDIA – Di tengah geliat pembangunan infrastruktur yang terus bergulir, kenyataan pahit tetap menghantui banyak ruas jalan di Indonesia: tidak jarang perbaikan dilakukan, namun tak lama kemudian kondisi jalan kembali rusak. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar — apakah kerusakan jalan semata-mata akibat beban berat kendaraan seperti truk ODOL, atau ada sebab lain yang lebih mendasar? Sejumlah pakar teknik sipil menegaskan, akar masalah jauh lebih dalam: berasal dari kualitas konstruksi, material, dan perencanaan sejak awal.

 

Seorang dosen teknik sipil mengungkap bahwa ketika sebuah jalan baru dibenahi namun dalam hitungan bulan sudah retak atau bolong — maka sulit untuk menyalahkan muatan kendaraan sebagai aktor utamanya. “Jika kualitas pekerjaan dan material tidak sesuai, maka kerusakan muncul cepat — tidak menunggu beban berat lewat,” ujarnya. Fakta ini menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, penyebab utama kerusakan adalah internal: dari cara pembangunan itu sendiri.

 

Salah satu aspek penting adalah kualitas material. Dalam konstruksi jalan, agregat (batu pecah) dan aspal menjadi bahan utama. Sayangnya, dalam praktik di lapangan, agregat yang seharusnya berkualitas tinggi (kelas A) kadang digantikan dengan kelas lebih rendah, entah karena pengawasan lemah atau kontraktor ingin menekan biaya. Akibatnya, daya tahan bayar atas jalan menjadi rapuh. Begitu pula ketika aspal yang digunakan dipanaskan di bawah suhu ideal, atau bahkan dicampur dengan oli bekas — teknik yang sama sekali tidak memenuhi standar. Kombinasi ini membuat “perekat” jalan gagal bekerja optimal, sehingga struktur jalan mudah rapuh dan cepat rusak.

 

Lebih jauh lagi, pengerjaan konstruksi terkadang menyalahi prosedur: pemadatan tanah dasar dan pondasi jalan tidak dilakukan sesuai spesifikasi, sehingga fondasi jalan bisa “ambles” atau bergerak ketika dilalui kendaraan. Tambahkan tekanan dari cuaca ekstrem atau kondisi tanah yang kurang stabil — dan jalan bisa langsung menunjukkan gejala kerusakan: retak, amblas, berlubang.

 

Meski demikian, faktor eksternal juga tidak bisa diabaikan. Beban berat kendaraan, terutama truk atau kendaraan logistik, tetap memberi kontribusi terhadap percepatan degradasi jalan. Namun, beban berat ini biasanya memberi efek kumulatif dalam jangka waktu panjang, bukan seketika setelah jalan diperbaiki. Seorang pakar teknik sipil bahkan menyebut bahwa “efek beban baru terasa setelah satu tahun lebih.” Artinya, jika jalan rusak dalam hitungan minggu atau bulan, kemungkinan besar masalah ada pada konstruksi dan bahan — bukan karena muatan kendaraan.

 

Di sisi lain, ada aspek penting lain yang kerap diabaikan: sistem drainase dan water management. Bila drainase buruk — misalnya saluran air tidak berfungsi, atau sistem pembuangan air hujan tidak memadai — air akan terus menggenang di permukaan atau meresap ke dalam lapisan perkerasan jalan. Lama kelamaan, kelembapan itu mengeksploitasi retakan kecil atau pori-pori di aspal, memperlebar retakan, melemahkan struktur, bahkan memicu ambles atau lubang.

 

Baca Juga:
Buah Asli Indonesia Jadi Rebutan Dunia, Potensi Kesehatannya Bisa Dukung Pencegahan Penyakit Kronis

Perubahan iklim, cuaca ekstrem, atau curah hujan tinggi — yang sering dialami di Indonesia — makin memperburuk kerusakan jika drainase tidak dirancang dengan baik. Di kawasan dataran rendah atau daerah dengan tanah labil, sistem drainase menjadi tulang punggung agar jalan tetap awet. Tanpa drainase memadai, jalan menjadi rentan retak, bergelombang atau rusak parah.

 

Selain itu, perencanaan perkerasan jalan — termasuk jenis lapisan aspal, ketebalan pondasi, dan karakteristik tanah dasar — seharusnya disesuaikan dengan kondisi setempat. Sering terjadi, proses perencanaan hanya mengacu pada standar generik tanpa memperhatikan kondisi tanah atau intensitas lalu lintas lokal. Hasilnya: jalan yang dibangun seperti “satu ukuran untuk semua,” tanpa mempertimbangkan beban berat, drainase, atau karakter tanah.

 

Semua fakta ini menunjukkan bahwa penyebab kerusakan jalan di Indonesia sangat kompleks. Tidak bisa hanya menunjuk satu penyebab — seperti muatan berlebih — tanpa melihat gambaran besar. Kerusakan yang muncul cepat setelah perbaikan biasanya menandakan kegagalan di tahap konstruksi dan penggunaan material; sedangkan kerusakan jangka panjang oleh beban berat, drainase buruk, atau kombinasi berbagai faktor lain.

 

Menghapus stigma bahwa “jalan rusak pasti karena truk besar” menjadi langkah awal dalam memperbaiki paradigma publik. Karena kalau kita tetap menyalahkan kendaraan semata, kita melewatkan akar masalah: sistem konstruksi yang rapuh, pengawasan pelaksanaan yang lemah, dan perencanaan yang minim mempertimbangkan kondisi lokal.

 

Apa artinya bagi pengguna jalan — masyarakat dan pengambil kebijakan? Pertama: kualitas konstruksi dan material harus menjadi fokus utama dalam pembangunan jalan. Tidak cukup hanya memperlebar anggaran atau menambah lapisan aspal — harus ada kejelasan pengawasan, standar mutu yang konsisten, dan penerapan teknik konstruksi yang benar. Kedua: sistem drainase dan pengelolaan air hujan harus dirancang sejak tahap perencanaan; memastikan bahwa struktur jalan aman terhadap genangan, penyerap air, dan tekanan lingkungan. Ketiga: pemantauan dan pemeliharaan jalan secara rutin — tidak hanya ketika sudah parah — agar retakan kecil atau noda air tidak berkembang menjadi lubang besar atau ambles.

 

Tanpa langkah-langkah itu, jalan di Indonesia akan terus berada dalam siklus “perbaiki–rusak–perbaiki lagi”. Warga akan terus berulang kali melihat lubang di jalan, menyesal di aspal hancur, ban pecah atau suspensi rusak, kemacetan semakin parah, bahkan kecelakaan — semua efek buruk dari struktur jalan yang tidak dirancang dan dikerjakan dengan benar.

 

Baca Juga:
Madiun: Bukan Cuma Kota Pendekar! 10 Wisata Seru yang Wajib Masuk Bucket List-mu!

Memahami hal ini berarti menyadari bahwa perbaikan jalan sejatinya bukan hanya soal menambal lubang atau mengaspal ulang. Ini soal membangun pondasi tepat, memilih material sesuai spesifikasi, memastikan pekerja dan pengawasannya kompeten, serta memasang sistem drainase dan perawatan berkelanjutan. Hanya dengan pendekatan holistik dan profesional seperti itu, harapan jalan yang awet dan selamat dari kerusakan cepat bisa terwujud — untuk kenyamanan, keselamatan, dan investasi jangka panjang bagi rakyat banyak.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Forum TBM Way Kanan Luncurkan Buku Antologi Kisah Rakyat dan Budaya Lokal

17 Januari 2026 - 19:40 WIB

Ancaman Spesies Asing Invasif Menggerus Ekosistem Baluran dan Ujung Kulon

3 Januari 2026 - 18:51 WIB

Peringati Hari Ibu, MY ACADEMY Perkuat Peran Ibu sebagai Entrepreneur Modern

24 Desember 2025 - 08:46 WIB

7 Sisa Bahan Makanan yang Bisa Diubah Jadi Kompos Bergizi untuk Tanaman

23 Desember 2025 - 14:56 WIB

Tips Aman Berkendara ke Puncak saat Libur Nataru, Hindari Mobil Mundur di Tanjakan

23 Desember 2025 - 00:59 WIB

Trending di Blog