PROLOGMEDIA – Buah memang sering dianggap sebagai simbol gaya hidup sehat — kaya vitamin, mineral, serat, antioksidan, dan sangat dianjurkan untuk dikonsumsi rutin. Namun, ada anggapan bahwa tidak semua buah cocok dikombinasikan sembarangan. Baru-baru ini dan dalam beberapa artikel kesehatan ramai dibahas bahwa terdapat setidaknya empat kombinasi buah (atau buah + susu) yang dianjurkan dihindari karena diyakini bisa menimbulkan gangguan pencernaan — bahkan dikatakan “bisa jadi racun bagi tubuh”. Saya rangkum secara naratif berikut — sekaligus meninjau kerangka gagasan di balik klaim tersebut.
—
Saat kita menikmati buah sebagai camilan atau campuran salad dan jus, sering tanpa sadar kita mencampurkan beragam jenis buah dalam satu porsi. Misalnya melon bersama jeruk, pisang bersama jambu biji, atau semangka dengan buah asam. Menurut sejumlah artikel gaya hidup dan kesehatan, kombinasi seperti itu bisa memicu masalah: perut kembung, gas, mual, bahkan “zat racun” yang terbentuk karena reaksi kimia internal.
Berikut empat kombinasi yang disebut paling berisiko — dan alasannya menurut mereka:
Melon atau semangka dicampur buah lainnya — buah jenis melon dikenal memiliki kadar air tinggi dan sangat mudah dicerna. Karena “cepat dicerna”, melon disebut sebaiknya dimakan sendiri, bukan dipadukan dengan buah lain. Bila dicampur, proses pencernaan dinilai bisa terganggu, menyebabkan fermentasi atau penumpukan gas.
Buah “bertepung” + buah berprotein tinggi — misalnya pisang dengan buah seperti jambu biji, kiwi, atau alpukat. Teorinya: pati (tepung) dan protein dicerna melalui jalur dan enzim berbeda. Jika digabungkan, proses pencernaan bisa berat, memperlambat pemecahan makanan, hingga menimbulkan ketidaknyamanan perut.
Buah asam + buah manis — seperti jeruk atau lemon dengan pisang atau buah manis lainnya. Dinyatakan bahwa perbedaan sifat (asam vs gula/manis) bisa membuat pencernaan “kaget,” memicu asidosis, gas, mual atau sakit kepala.
Kombinasi buah tertentu seperti pepaya + lemon — ada klaim bahwa pepaya (yang mengandung enzim pencernaan) jika dipadukan dengan buah sangat asam seperti lemon bisa mempengaruhi keseimbangan hemoglobin, bahkan memicu anemia atau kelelahan, terutama bagi anak-anak.
Bagi banyak orang, klaim-klaim ini cukup mengejutkan — karena buah selama ini dipandang aman bahkan sehat dalam jumlah besar. Namun, pandangan ini tak lepas dari tradisi pola makan yang dikenal dengan sebutan food combining — yakni sebuah pendekatan makan yang memberi aturan ketat soal penggabungan makanan berdasarkan sifat asam/basa, pati, protein, dan kecepatan cerna.
Menurut teori food combining, jika makanan dengan karakter sangat berbeda dicerna bersamaan — misalnya buah cepat cerna dengan protein berat — maka tubuh “bingung”: enzim dan kondisi pH yang dibutuhkan bisa berbeda-beda. Akibatnya, makanan tak tercerna optimal, atau terjadi fermentasi, dan bisa menimbulkan racun internal.
Namun — dan ini penting — banyak ahli gizi dan penelitian modern meragukan klaim itu. Sistem pencernaan manusia sejatinya didesain untuk menangani campuran berbagai jenis makanan pada satu waktu: protein, lemak, karbohidrat, dan buah sekaligus. Enzim pencernaan dan asam lambung memungkinkan tubuh secara efisien melumat makanan kompleks tanpa perlu aturan khusus soal kombinasi.
Dalam tinjauan literatur, satu studi acak pada tahun 2000 membandingkan diet berdasarkan aturan food combining dengan diet “seimbang biasa” — hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam penurunan berat badan maupun kesehatan secara umum. Itu berarti klaim bahwa food combining bisa “lebih sehat” atau mencegah racun dalam tubuh belum terbukti secara ilmiah.
Baca Juga:
Kabupaten Bogor Makin Bersinar: Menjadi Wilayah Perkebunan Kelapa Sawit Terluas Kedua di Jawa Barat
Meski demikian, ada sedikit ruang untuk pengertian: beberapa orang mungkin lebih sensitif terhadap kombinasi tertentu, atau memiliki kondisi pencernaan tertentu — seperti maag, iritasi lambung, atau gangguan enzim — sehingga mereka bisa lebih rentan terhadap efek negatif ketika mencampur buah dengan jenis berbeda. Prinsip makan secara moderat, memperhatikan reaksi tubuh, dan variasi makanan tetap dianjurkan.
—
Melihat dua sisi argumen — klaim medis populer vs sains modern — penting untuk mengambil sikap bijak. Berikut beberapa pandangan & tips berdasarkan pemahaman tersebut:
Buah tetap aman dan sehat — meski demikian, tidak ada bukti kuat bahwa mencampur buah secara sembarangan akan memproduksi racun berbahaya di tubuh. Banyak klaim berasal dari tradisi diet dan asumsi biokimia, bukan dari penelitian dengan kontrol ilmiah.
Bila Anda memiliki sistem pencernaan sensitif — seperti sering kembung, gas, maag, asam lambung — mungkin bermanfaat untuk memperhatikan kombinasi buah: misalnya makan buah satu jenis per satu waktu, memberi jeda waktu di antara jenis buah, dan menghindari buah berair (melon/semangka) dicampur banyak buah lain sekaligus.
Penting juga untuk memperhatikan gaya hidup secara keseluruhan — asupan air, serat, makanan bergizi seimbang, konsumsi sayur & buah segar, serta hindari konsumsi buah secara berlebihan.
Bila merasa tidak nyaman setelah makan kombinasi buah, catat pola makan dan efeknya — dapat jadi panduan pribadi apakah kombinasi tertentu cocok bagi Anda atau tidak.
Konsultasi dengan profesional kesehatan/ ahli gizi bisa membantu, terutama bagi yang punya kondisi medis, masalah pencernaan, alergi, atau sensitivitas terhadap makanan.
—
Secara ringkas: artikel yang Anda kirim memang mengangkat sebuah peringatan menarik — bahwa ada kombinasi buah tertentu yang “sebaiknya dihindari” karena diyakini bisa menimbulkan gangguan pencernaan dan bahkan racun. Namun, bila dilihat dari sudut ilmiah dan penelitian modern, klaim bahwa kombinasi tersebut benar-benar “racun” bagi tubuh belum terbukti secara meyakinkan.
Baca Juga:
Wisma Atlet Kemayoran: Solusi Hunian Premium Terjangkau bagi ASN di Jakarta
Buah tetap salah satu makanan paling bermanfaat — yang penting adalah cara mengonsumsinya dengan bijaksana: perhatikan porsi, jenis buah, kondisi tubuh, dan jangan terjebak aturan baku yang belum dibuktikan. Kalau Anda mau — saya bisa cari literatur ilmiah terbaru (2022–2025) tentang apakah kombinasi buah bisa benar-benar berdampak negatif bagi pencernaan (atau bukan) — supaya kita bisa lihat mana yang opini populer, mana yang berbasis sains. Mau saya cari itu sekarang?









