PROLOGMEDIA – Pemerintah Malaysia memantapkan kebijakan baru terkait harga bahan bakar RON 95 — menolak rekomendasi kenaikan harga dari World Bank — dan memastikan harga tetap terjangkau bagi warga setempat di tengah tekanan ekonomi global. Keputusan ini diumumkan oleh Anwar Ibrahim ketika menyampaikan RUU Anggaran 2026 di Dewan Negara, menandai komitmen kuat pemerintah terhadap program subsidi bahan bakar domestik yang bertujuan meringankan beban masyarakat.
Menurut usulan World Bank, harga bensin RON 95 semestinya dinaikkan ke level pasar — sekitar RM 2,65 per liter — dan kemudian subsidi hanya diberikan kepada kelompok tertentu. Namun, kabinet Malaysia memutuskan menolak skema itu. Sebagai gantinya, pemerintah menetapkan harga RON 95 pada RM 1,99 per liter untuk warga negara Malaysia, sesuai program Budi Madani RON95 (Budi95). Bagi warga asing, harga ditetapkan RM 2,60 per liter.
Anwar Ibrahim menyatakan bahwa pendekatan subsidi terarah — bukan harga pasar untuk semua — adalah pilihan paling bijaksana. Menurutnya, langkah ini memungkinkan pemerintah menekan pengeluaran negara tanpa membebani masyarakat luas.
Lebih jauh, Anwar menjelaskan bahwa program Budi95 bukan satu-satunya bentuk subsidi yang dibenahi. Pemerintah juga melakukan rasionalisasi subsidi untuk listrik, diesel, serta bahan pokok seperti telur dan ayam. Kombinasi kebijakan tersebut diharapkan bisa menghasilkan efisiensi anggaran hingga RM 15,5 miliar per tahun.
Baca Juga:
TEGAS! Ratusan Ribu Kendaraan Diblokir, Tak Bisa Lagi Isi Pertalite Subsidi!
Dilaporkan pula bahwa pelaksanaan Budi95 relatif sukses — dari 16,55 juta warga Malaysia yang berhak mendapat subsidi, sekitar 13,9 juta (sekitar 84%) telah membeli RON 95 dengan harga subsidi sejak peluncuran program pada akhir September 2025. Sejauh ini, konsumsi tercatat mencapai sekitar 2,59 miliar liter, dengan total subsidi mencapai RM 5,16 miliar.
Keputusan ini mendapat sambutan positif dari publik Malaysia, yang menyadari bahwa harga BBM bersubsidi mereka jauh lebih murah dibandingkan beberapa negara tetangga. Karena RON 95 Malaysia dijual dengan harga subsidi tetap, masyarakat tidak terbebani fluktuasi harga minyak global atau kekhawatiran kenaikan biaya hidup secara mendadak. Langkah ini juga dipandang sebagai respons sosial dari pemerintah — menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi rakyat kelas menengah ke bawah — di tengah ketidakpastian ekonomi global dan gejolak harga komoditas energi.
Bagaimanapun, kebijakan ini memunculkan sejumlah tantangan dan kritik. Sebagian pihak menilai bahwa subsidi bahan bakar seperti ini bisa memberatkan anggaran negara dalam jangka panjang, serta memicu ketergantungan masyarakat terhadap BBM murah — ketergantungan yang bisa menyulitkan transisi energi atau efisiensi konsumsi energi. Namun, dengan beban hidup yang dirasakan masih berat bagi banyak warga, keberlanjutan subsidi tetap dipandang sebagai solusi realistis dalam jangka pendek.
Sebagai catatan perbandingan internasional, ketika Malaysia menurunkan harga RON 95, harga bensin sejenis di negara lain — seperti di Indonesia — cenderung jauh lebih tinggi. Misalnya, jenis setara RON 95 di Indonesia dijual sekitar Rp13.000 per liter pada periode sama. Hal ini membuat kebijakan subsidi Malaysia semakin kontras dan tajam dibandingkan kebijakan energi di negara-negara tetangga.
Baca Juga:
Aturan Barang Bawaan di Kereta Khusus Petani dan Pedagang, Ini Daftar Larangannya
Dengan menolak rekomendasi World Bank dan mempertahankan subsidi melalui Budi95, pemerintah Malaysia tampak memilih jalur “prioritaskan masyarakat dulu” — menjaga daya beli dan stabilitas sosial — daripada sepenuhnya menyerahkan harga bensin ke mekanisme pasar. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kebijakan fiskal dan energi bisa diarahkan untuk mengakomodasi kebutuhan rakyat di tengah dinamika ekonomi global, dengan catatan bahwa manajemen subsidi harus terus dipantau agar tetap efisien dan tepat sasaran.









