Menu

Mode Gelap

Blog · 7 Des 2025 20:44 WIB

5 Toko Kopi Legendaris yang “Nyempil” di Pasar, Bikin Nostalgia Pecinta Kopi


 5 Toko Kopi Legendaris yang “Nyempil” di Pasar, Bikin Nostalgia Pecinta Kopi Perbesar

PROLOGMEDIA – Banyak penikmat kopi yang kini lebih memilih nongkrong di kedai kekinian — tapi bagi mereka yang rindu suasana klasik dan aroma asli bubuk kopi sangrai, deretan toko kopi lawas yang “nyempil” di dalam pasar tetap punya daya tarik tersendiri. Di balik deretan los dan kios sederhana, tersimpan cerita panjang, warisan lintas generasi, serta cita rasa kopi Nusantara khas yang terus diburu sampai sekarang. Berikut ini lima toko kopi legendaris yang tak kehilangan pesonanya meskipun zaman terus berubah.

 

Pada lorong‑lorong pasar tradisional di Jakarta dan sekitarnya, kamu bisa menemukan toko-toko kopi yang telah bertahan puluhan tahun — bahkan ada yang berdiri sejak tahun 1940-an. Mereka bukan sekadar menjual kopi. Mereka menawarkan nostalgia, sejarah, dan rasa otentik yang sulit ditiru. Masing‑masing toko punya karakter dan keunikan, dari segi varian kopi, cara sangrai, maupun cara mereka melayani pelanggan.

 

Salah satu yang paling dikenal adalah Toko Kopi Afung — sebuah kios kopi di area <i>Pasar Baru</i> yang sudah berdiri sejak era 1980-an. Kini, bisnis ini dikelola generasi keempat, membuktikan bahwa cinta terhadap kopi bisa turun-temurun. Di Afung, kamu bisa menemukan kopi dari berbagai daerah: dari Gayo Aceh, Mandailing Medan, Toraja sampai Kintamani Bali. Pembelian bisa dilakukan per kilogram — dengan kisaran harga Rp 70.000 hingga Rp 150.000 — maupun per gram, sehingga cocok bagi kamu yang ingin coba beberapa macam tanpa harus membeli banyak.

 

Kemudian ada Graha Kopi, yang berlokasi di area <i>Pasar Segar Graha</i>, Bintaro, Tangerang Selatan. Didirikan oleh seorang penggemar kopi sejak era 1980-an, gerai ini menawarkan biji kopi Nusantara yang lengkap, dengan pilihan Arabika maupun Robusta. Dari Lintong, Mandheling, hingga daerah lain — kamu bisa pilih sendiri biji kopi yang ingin diseduh, lalu memesan kopi tubruk langsung di tempat. Harga pun ramah: mulai dari sekitar Rp 30.000, menjadikannya pilihan yang menarik untuk kopi serius tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.

 

Tidak kalah menarik adalah Kopi Bis Kota, toko kopi tua yang beroperasi sejak 1943 di <i>Pasar Mester Jatinegara</i>, Jakarta Timur. Awalnya diracik oleh peracik kopi tradisional, dan kini diteruskan oleh generasi berikutnya, kopi bubuk “Kopi Bis Kota” tetap setia pada cara tradisional — memakai biji kopi Jawa, digiling secara manual, menghasilkan aroma dan rasa khas yang sulit ditiru. Meski tampil sederhana, toko ini tetap jadi rujukan bagi mereka yang mencari kopi lokal berkarakter kuat. Untuk bubuk kopi per kilogram dibanderol sekitar Rp 70.000, dan ada juga varian Arabika seharga sekitar Rp 200.000 per kilogram.

Baca Juga:
Malaysia Tak Pernah Bosan: Wisatawan RI Tetap Jatuh Hati pada Kuala Lumpur & Belanja!

 

Ada juga Toko Dunia Kopi — kios yang berlokasi di <i>Pasar Santa</i>, Jakarta Selatan. Meski terbilang “baru” dibanding toko lain (beroperasi sejak 2007), toko ini dengan cepat mendapatkan tempat di hati para penikmat kopi — terutama mereka yang penasaran dengan ragam varian Nusantara. Di tempat ini tersedia Arabika, Robusta, Liberika, hingga Excelsa, dan berbagai metode pengolahan: full wash, natural, honey, bahkan wine. Kalau kamu datang dengan budget sekitar Rp 100.000, bisa membawa pulang empat sampai lima jenis kopi berbeda. Minatnya meningkat terutama setelah sejumlah tokoh ternama, termasuk pejabat, diketahui pernah mampir dan membeli kopi di sana.

 

Tak ketinggalan, Toko Kopi Matahari — sebuah kios sederhana di Bekasi yang telah berdiri sejak 1960-an dan tetap eksis sampai sekarang. Meskipun tak glamor, toko itu tetap dipenuhi pelanggan setia. Matahari menawarkan varian kopi dari seluruh penjuru Nusantara: dari Gayo, Toraja, Flores, Papua, hingga Bali. Robusta dari Lampung, bahkan kopi luwak asli pun tersedia — dengan pembelian minimal 100 gram. Harga mulai dari sekitar Rp 7.000 untuk Robusta per 100 gram — hingga sekitar Rp 145.000 untuk kopi luwak. Keberagaman pilihan dengan harga yang bersahabat menjadikannya destinasi tepat bagi siapa saja yang ingin menikmati kopi lokal berkualitas tanpa harus merogoh kocek besar.

 

Kelima toko ini menunjukkan bahwa di balik gemerlapnya kafe modern dan roastery gaya rooftop, ada warisan kopi Indonesia yang menetap di tengah pasar tradisional — sederhana, merakyat, dan tetap relevan. Meski lokasi mereka terkadang tersembunyi di balik los penjual sayur atau kios kelontong, aroma kopi sangrai, suara mesin giling manual, dan deretan toples berisi biji kopi Nusantara mampu menghadirkan atmosfer nostalgia. Banyak pembeli datang bukan hanya untuk membeli kopi, tapi juga untuk merasakan kembali suasana “jaman dulu” — sesuatu yang tidak bisa dibeli dari cangkir latte berharga mahal.

 

Selain itu, keberadaan toko‑toko ini menunjukkan sisi lain dari sejarah perkopian di Indonesia. Dahulu, roastery dan penjual kopi tradisional lebih sering berada di pasar, bersama pedagang bahan makanan lainnya. Kopi tidak dianggap barang mewah, melainkan bagian dari kebutuhan sehari-hari. Seiring perkembangan zaman, kafe modern menjamur, namun para toko kopi legendaris tetap bertahan — karena mereka menjaga kualitas, mempertahankan metode tradisional, dan selalu beradaptasi terhadap selera konsumen.

 

Baca Juga:
Prabowo Resmikan Akad 50.030 KPR Subsidi, Ribuan Keluarga Dapat Rumah Baru

Bagi pencinta kopi sejati, menjelajahi deretan toko seperti ini bisa menjadi aktivitas penuh makna — bukan sekadar mencari kopi dengan cita rasa otentik, tapi juga menelusuri jejak sejarah dan budaya ngopi di Indonesia. Entah kamu mencari kopi kiloan untuk dibawa pulang, atau sekadar ingin menyeruput secangkir kopi tubruk hangat sambil membaur dengan keramaian pasar — pengalaman itu menawarkan sensasi yang sulit tergantikan.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Forum TBM Way Kanan Luncurkan Buku Antologi Kisah Rakyat dan Budaya Lokal

17 Januari 2026 - 19:40 WIB

Ancaman Spesies Asing Invasif Menggerus Ekosistem Baluran dan Ujung Kulon

3 Januari 2026 - 18:51 WIB

Peringati Hari Ibu, MY ACADEMY Perkuat Peran Ibu sebagai Entrepreneur Modern

24 Desember 2025 - 08:46 WIB

7 Sisa Bahan Makanan yang Bisa Diubah Jadi Kompos Bergizi untuk Tanaman

23 Desember 2025 - 14:56 WIB

Tips Aman Berkendara ke Puncak saat Libur Nataru, Hindari Mobil Mundur di Tanjakan

23 Desember 2025 - 00:59 WIB

Trending di Blog