PROLOGMEDIA – Bencana banjir dan longsor yang melanda beberapa wilayah di Sumatera masih menyisakan kepanikan dan duka mendalam bagi masyarakat terdampak. Di tengah situasi yang menegangkan itu, muncul kisah heroik yang menyentuh hati, memperlihatkan dedikasi luar biasa aparat keamanan dan semangat kemanusiaan yang tak tergoyahkan. Salah satu momen paling dramatis terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, di mana seorang anggota Brimob Polda Sumatera Utara mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan seorang bayi yang terjebak banjir, sekaligus membantu warga lainnya menyeberangi jembatan darurat yang nyaris roboh.
Peristiwa itu berlangsung di Kecamatan Batang Toru, sebuah wilayah yang selama beberapa hari terakhir dilanda hujan deras dan longsor. Arus sungai yang deras membanjiri kawasan pemukiman, merusak infrastruktur, dan mengisolasi sejumlah warga. Di tengah kepanikan yang melanda, seorang personel Brimob terlihat gagah berani menggendong seorang bayi sambil menyeberangi jembatan darurat yang terbuat dari kayu rapuh. Dengan setiap langkah yang diambil, suara gemericik air deras di bawah kaki menambah ketegangan. Namun, ketenangan dan kehati-hatian sang anggota Brimob menjadi penentu keselamatan sang bayi.
“Aksi ini bukan hanya menyelamatkan satu nyawa, tapi juga menjadi simbol keberanian dan kepedulian bagi seluruh warga yang terjebak di tengah banjir,” kata seorang saksi mata. Video singkat yang beredar di media sosial menunjukkan ekspresi penuh fokus sang anggota Brimob, menegaskan bahwa keberanian manusia dapat menjadi penopang di saat-saat genting. Warga yang dievakuasi bersama bayi itu pun terlihat lega dan menangis haru, menyadari betapa nyawa mereka berhasil diselamatkan oleh dedikasi satu individu.
Di sisi lain, pemerintah pusat tidak tinggal diam dalam menanggapi bencana yang berulang di Tapanuli Selatan. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofi, mengeluarkan langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional tiga perusahaan besar yang berada di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru. Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Agin Court Resources, PT Perkebunan Nusantara 3, dan PT North Sumatera Hydro Energi. Menurut Menteri Hanif, tindakan ini dilakukan untuk mencegah potensi pelanggaran lingkungan yang dapat memperparah bencana banjir dan longsor. Selain itu, pemerintah akan melakukan audit lingkungan yang ketat untuk memastikan bahwa praktik industri di wilayah tersebut tidak membahayakan ekosistem dan keselamatan warga.
Fokus penanganan bencana juga meluas ke wilayah Sumatera Barat, khususnya Kecamatan Palembayan di Kabupaten Agam. Memasuki hari kesembilan operasi pencarian dan penyelamatan, tim Brimob Polda Sumatera Barat terus menembus wilayah terisolir yang sulit dijangkau. Dua tim anjing pelacak K9 diterjunkan untuk membantu menyisir sektor-sektor krusial yang diduga masih terdapat korban terdampak. Hingga laporan terakhir, sebanyak 69 jenazah telah berhasil dievakuasi, namun diperkirakan masih ada sekitar 50 orang yang belum ditemukan, menambah kecemasan masyarakat dan tim SAR.
Baca Juga:
Medan Kembalikan Bantuan Beras 30 Ton dari Uni Emirat Arab, Ikuti Aturan Pemerintah Pusat
Selain fokus pada pencarian korban, Brimob Polda Sumbar juga aktif menyalurkan logistik dan membangun fasilitas pendukung untuk masyarakat terdampak. Pemasangan solar panel atau panel matahari menjadi solusi darurat untuk penerangan listrik di pemukiman warga yang terisolasi. Langkah ini sangat membantu warga yang harus bertahan di tengah kondisi darurat, terutama saat malam tiba dan akses listrik masih terputus.
Kondisi serupa juga terlihat di Kota Padang dan Padang Panjang. Di kawasan Batu Busuak, Kelurahan Lambung Bukit, Kota Padang, tercatat sebanyak 320 Kepala Keluarga masih menggunakan obor sebagai sumber penerangan akibat terputusnya aliran listrik. PLN terus bekerja keras untuk menormalkan jaringan listrik, dengan target menyala kembali di sekitar 150 unit rumah pada hari pelaporan. Meskipun proses pemulihan ini berjalan lambat, warga tetap bersabar dan berterima kasih atas bantuan yang terus mengalir dari aparat dan relawan.
Akses jalan yang rusak menjadi tantangan tersendiri bagi tim relawan dan aparat. Di Lembah Anai, jalur utama penghubung Padang-Bukittinggi terputus, memaksa relawan untuk melakukan dropping bantuan secara manual. Mereka harus berjalan kaki sambil mengangkat logistik melewati titik jalan yang rusak dan licin akibat banjir. Semangat gotong royong terlihat nyata di sini, ketika warga setempat turut membantu tim relawan mengangkut bahan makanan, air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan darurat lainnya ke lokasi yang paling terdampak.
Pemerintah daerah, aparat keamanan, dan berbagai elemen relawan terus bersinergi untuk mempercepat proses pemulihan. Distribusi bantuan logistik dilakukan secara merata, sementara evakuasi korban tetap menjadi prioritas utama. Berbagai fasilitas darurat juga disiapkan untuk memastikan warga mendapatkan tempat aman, makanan, dan layanan kesehatan. Di banyak titik, posko-posko darurat dibangun untuk memfasilitasi koordinasi antara pemerintah, relawan, dan masyarakat terdampak.
Kisah heroik seorang anggota Brimob yang menggendong bayi menyeberangi jembatan nyaris roboh menjadi simbol nyata bahwa di tengah bencana, keberanian dan kepedulian manusia mampu menembus rasa takut dan menghadirkan harapan. Bagi masyarakat Tapanuli Selatan dan wilayah terdampak lainnya, momen ini bukan sekadar berita heroik, melainkan pengingat bahwa solidaritas dan keberanian menjadi fondasi penting dalam menghadapi bencana.
Baca Juga:
7 Kuliner Malam Sukabumi yang Wajib Dicoba: Hangat, Nikmat, dan Bikin Kangen Setelah Pulang
Bencana memang membawa kepedihan, tetapi di balik itu, terlihat jelas bagaimana kolaborasi, dedikasi, dan semangat kemanusiaan mampu menjadi jembatan keselamatan bagi banyak nyawa. Dari Tapanuli Selatan hingga Sumatera Barat, aksi aparat keamanan, dukungan pemerintah, dan partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa dalam setiap krisis, ada cahaya harapan yang terus menyala, meski air banjir dan tanah longsor mencoba menenggelamkan segalanya.









