Menu

Mode Gelap

Wisata · 2 Nov 2025 13:25 WIB

Yogyakarta Berbenah: 7 Kawasan Wisata Ikonik Ditata Jangka Panjang!


 Indeks Pariwisata - Kendaraan melintas di perempatan Tugu, Yogyakarta, Selasa (2/8). Bangunan cagar budaya Tugu yang juga dikenal dengan nama Tugu Pal Putih tersebut menjadi salah satu ikon pariwisata Yogyakarta.  Kompas/Ferganata Indra Riatmoko (DRA)
02-08-2016  -- untuk Indeks Pariwisata -- Perbesar

Indeks Pariwisata - Kendaraan melintas di perempatan Tugu, Yogyakarta, Selasa (2/8). Bangunan cagar budaya Tugu yang juga dikenal dengan nama Tugu Pal Putih tersebut menjadi salah satu ikon pariwisata Yogyakarta. Kompas/Ferganata Indra Riatmoko (DRA) 02-08-2016 -- untuk Indeks Pariwisata --

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dengan pesona budaya dan keindahan alamnya yang memikat, terus berupaya untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia. Pemerintah DIY baru-baru ini menetapkan tujuh kawasan pariwisata strategis sebagai kawasan perencanaan penataan jangka panjang.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya transformasi pariwisata berkualitas yang diharapkan dapat menjaga daya tarik utama Yogyakarta dan meningkatkan kunjungan wisata setiap tahunnya.

Ketujuh kawasan pariwisata yang menjadi fokus penataan jangka panjang ini adalah:

1. Kawasan Destinasi Gunung Merapi: Gunung Merapi, gunung berapi aktif yang menjadi ikon Yogyakarta, menawarkan keindahan alam yang memukau dan pengalaman wisata yang mendebarkan. Penataan kawasan ini akan meliputi pengembangan infrastruktur pendukung, peningkatan keselamatan wisatawan, serta pelestarian lingkungan dan budaya masyarakat setempat.

2. Kawasan Prambanan-Shiva Plateau: Kompleks Candi Prambanan, salah satu situs warisan dunia UNESCO, merupakan mahakarya arsitektur Hindu yang mempesona. Penataan kawasan ini akan meliputi peningkatan aksesibilitas, pengembangan fasilitas pendukung, serta pelestarian situs dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Shiva Plateau, dataran tinggi di sekitar Prambanan, juga akan dikembangkan sebagai destinasi wisata alam dan budaya yang menarik.

3. Kawasan Sumbu Filosofi: Sumbu Filosofi Yogyakarta, yang membentang dari Panggung Krapyak hingga Kraton Yogyakarta dan Tugu Yogyakarta, merupakan garis imajiner yang mengandung nilai-nilai filosofis Jawa yang mendalam. Penataan kawasan ini akan meliputi pelestarian bangunan-bangunan bersejarah, penataan ruang publik, serta pengembangan atraksi wisata yang mengangkat nilai-nilai filosofis tersebut.

4. Kawasan Poros Mataram: Poros Mataram, yang meliputi Kraton Yogyakarta, Kotagede, dan Imogiri, merupakan pusat kekuasaan dan kebudayaan Kerajaan Mataram Islam. Penataan kawasan ini akan meliputi pelestarian bangunan-bangunan bersejarah, pengembangan atraksi wisata budaya, serta peningkatan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat.

5. Geopark Gunung Sewu: Geopark Gunung Sewu, yang membentang di tiga kabupaten (Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan), merupakan kawasan karst yang unik dan memiliki nilai geologis, biologis, dan budaya yang tinggi. Penataan kawasan ini akan meliputi pengembangan infrastruktur pendukung, peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan, serta pengembangan atraksi wisata yang berbasis pada keunggulan geologis dan biologis kawasan tersebut.

6. Pantai Selatan: Pantai Selatan Yogyakarta, yang membentang dari Parangtritis hingga Wediombo, menawarkan keindahan alam yang mempesona dan pengalaman wisata yang beragam. Penataan kawasan ini akan meliputi peningkatan keselamatan wisatawan, pengembangan infrastruktur pendukung, serta pelestarian lingkungan dan budaya masyarakat setempat.

7. Perbukitan Menoreh: Perbukitan Menoreh, yang terletak di Kabupaten Kulon Progo, menawarkan keindahan alam yang asri dan pengalaman wisata yang menenangkan. Penataan kawasan ini akan meliputi pengembangan agrowisata, ekowisata, dan wisata budaya, serta peningkatan kualitas infrastruktur dan pelayanan.

Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menjelaskan bahwa transformasi tujuh kawasan wisata tersebut mencakup pembangunan destinasi budaya, penguatan industri kelembagaan pariwisata, pengembangan SDM, serta pemasaran inovatif. Semua upaya ini akan dilakukan dalam empat tahap pembangunan mulai tahun 2026 hingga 2045.

Pemerintah DIY pun telah mulai mengumpulkan lima kepala daerah dari lima kabupaten/kota pada pekan ini untuk membahas proses transformasi tersebut. Sejumlah pihak terkait, seperti pegiat budaya, wisata, hingga kalangan arsitek, turut dilibatkan untuk membahas persiapan perencanaan penataan.

Made mengungkapkan bahwa sektor pariwisata menjadi tulang punggung perekonomian DIY sehingga didesain agar menjadi sektor yang kuat menghadapi krisis dan perubahan di masa mendatang.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengatakan bahwa salah satu hal yang perlu menjadi perhatian industri pariwisata saat ini adalah menjaga tren positif kunjungan, agar tetap stabil baik saat masa high season maupun low season.

Sebab, kondisi ini sangat dipengaruhi beragam faktor, seperti persaingan ketat dan kondisi perekonomian.

Menurutnya, satu pihak yang paling berperan dalam menggerakkan wisata tak lain adalah para pelaku industri pariwisata.

“Pelaku industri pariwisata ini yang perlu terus berinteraksi langsung dengan masyarakat, bagaimana membuat kunjungan itu tetap tinggi, baik pada high season maupun low season,” kata dia.

Dalam waktu dekat, Pemerintah Kota Yogyakarta akan menggelar event yang dapat dimanfaatkan pelaku industri wisata, yaitu Tourism Exhibition 2025 yang digelar 8 November 2025 nanti.

Baca Juga:
Curug 3 Helipad: Liburan Singkat di Tengah Keindahan Alam Sukabumi

Event ini berupa pameran pariwisata (travel fair) yang melibatkan pelaku industri hotel, restoran, biro perjalanan wisata, layanan transportasi (maskapai penerbangan dan kereta api), pengelola destinasi wisata, hingga pusat oleh-oleh dan atraksi rekreasi.

Transformasi pariwisata di Yogyakarta merupakan upaya komprehensif untuk menciptakan pariwisata yang berkelanjutan, berkualitas, dan berdaya saing. Dengan melibatkan berbagai pihak terkait, pemerintah DIY berharap dapat menjaga daya tarik Yogyakarta sebagai destinasi wisata utama di Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Strategi Penataan Jangka Panjang: Mewujudkan Pariwisata yang Berkelanjutan dan Berkualitas

Penataan jangka panjang tujuh kawasan wisata di Yogyakarta akan dilakukan melalui strategi yang komprehensif dan terintegrasi, meliputi:

– Pengembangan Infrastruktur: Peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur pendukung pariwisata, seperti jalan, jembatan, transportasi publik, akomodasi, dan fasilitas umum.

– Peningkatan Kualitas Produk Wisata: Pengembangan atraksi wisata yang inovatif, kreatif, dan berbasis pada keunggulan lokal, serta peningkatan kualitas pelayanan dan pengalaman wisatawan.

– Pelestarian Lingkungan dan Budaya: Penerapan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi, serta pelestarian warisan budaya dan nilai-nilai tradisional masyarakat setempat.

– Peningkatan Kualitas SDM: Peningkatan kompetensi dan profesionalisme tenaga kerja pariwisata melalui pelatihan, pendidikan, dan sertifikasi.

– Pemasaran yang Efektif: Peningkatan promosi dan pemasaran pariwisata Yogyakarta melalui berbagai media dan saluran, serta pengembangan kerjasama dengan berbagai pihak terkait.

– Partisipasi Masyarakat: Pelibatan masyarakat setempat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan pariwisata, serta peningkatan manfaat ekonomi yang diperoleh masyarakat dari sektor pariwisata.

Dampak Positif bagi Masyarakat dan Perekonomian Yogyakarta

Transformasi pariwisata di Yogyakarta diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat dan perekonomian daerah, antara lain:

– Peningkatan Kunjungan Wisata: Peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

– Peningkatan Pendapatan Daerah: Peningkatan pendapatan daerah dari sektor pariwisata, yang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan di berbagai sektor.

– Penciptaan Lapangan Kerja: Penciptaan lapangan kerja baru di sektor pariwisata, yang dapat mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

– Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat: Peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui peningkatan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

– Pelestarian Lingkungan dan Budaya: Pelestarian lingkungan dan budaya Yogyakarta, yang merupakan aset berharga bagi daerah dan bangsa.

Dengan visi yang jelas, strategi yang komprehensif, dan komitmen yang kuat, Yogyakarta siap untuk mentransformasikan sektor pariwisatanya menjadi lebih berkualitas, berkelanjutan, dan berdaya saing.

Baca Juga:
Intensif 6 Hari: 53 Calon Bintara Polri Tempa Diri di Polresta Tangerang, Hadapi Tantangan Nyata!

Transformasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dan perekonomian Yogyakarta, serta melestarikan keindahan alam dan kekayaan budaya yang menjadi kebanggaan daerah ini.

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dorong Ekonomi Desa, Ratu Zakiyah Jadikan BUMDes Cibojong Model Pertanian Modern

12 Februari 2026 - 08:35 WIB

Suasana Berbeda di Palabuhanratu, Tahun Baru 2026 Tanpa Lautan Manusia

2 Januari 2026 - 10:29 WIB

7 Pulau Terindah di Asia 2025 yang Jadi Destinasi Impian Wisatawan Dunia

1 Januari 2026 - 01:38 WIB

Jelang Tahun Baru 2026, Bupati Serang dan Mendes PDT Tinjau Kesiapan Wisata Pantai Anyer–Cinangka

31 Desember 2025 - 20:10 WIB

Libur Nataru Aman, Polres Way Kanan Gelar Patroli di Objek Wisata

27 Desember 2025 - 12:16 WIB

Liburan Seru ke Pulau Dolphin: Paket Open Trip dari Pulau Harapan di Kepulauan Seribu

26 Desember 2025 - 19:59 WIB

Trending di Wisata