Menu

Mode Gelap

Blog · 10 Des 2025 21:06 WIB

Solusi Rumah Panggung di Karawang: Lantai Dua Aman Saat Banjir


 Solusi Rumah Panggung di Karawang: Lantai Dua Aman Saat Banjir Perbesar

PROLOGMEDIA – Saat banjir melanda Desa Karangligar, Karawang, air sungai yang meluap tak hanya membanjiri sawah dan jalan — rumah warga pun ikut terendam. Banyak rumah warga yang dulu aman kini kebanjiran, membuat aktivitas harian terganggu dan warga tinggal dalam kekhawatiran setiap hujan turun.

 

Melihat situasi itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turun langsung ke lapangan. Ia mengamati bahwa relokasi massal bagi warga terdampak sulit dilakukan karena banyak rumah sudah lama berdiri, dan masyarakat telah terbiasa hidup di sana. Daripada memaksa warga pindah, Dedi menawarkan solusi berbeda: membangun rumah panggung — rumah kolong — yang lantainya dinaikkan setinggi 2,5 meter. Dengan begitu, ketika banjir datang, lantai bawah bisa ditinggalkan, sementara lantai atas tetap aman.

 

Desain rumah ini memang bukan sembarang bangunan. “Rumah kolong atau rumah panggung,” kata Dedi, “bisa terbuat dari bambu atau kayu — cukup ringan — tapi dengan kolong 2,5 meter.” Konsepnya praktis: saat air naik, warga tidak perlu berenang atau naik atap — cukup turun ke kolong, dan menggunakan perahu untuk akses jalan.

 

Rencana ini tidak main-main. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan membangun hingga seribu rumah panggung untuk warga Karangligar yang kerap terdampak banjir. Dengan ini, diharapkan warga bisa kembali tenang selama musim hujan, bahkan bila sungai kembali meluap.

 

Senada dengan itu, Dedi juga menekankan bahwa solusi banjir tidak bisa hanya bermodal bantuan sementara — seperti logistik atau sembako — tetapi harus lewat infrastruktur berkelanjutan. Dia bahkan mendorong percepatan pembangunan Bendungan Cibeet dan atau bendungan serupa untuk mengendalikan debit air sungai yang sering meluap dan jadi sumber banjir di Karangligar.

 

Warga pun tampak menyambut baik ide ini. Ada yang berharap rumah panggung membantu mereka tetap bisa hidup di kampung sendiri meski banjir datang. Pendekatan ini terasa manusiawi — memberi pilihan: relokasi tidak wajib, tetapi jika bersedia, rumah panggung bisa jadi alternatif aman.

 

Baca Juga:
Forum TBM Way Kanan Luncurkan Buku Antologi Kisah Rakyat dan Budaya Lokal

Namun, seperti semua solusi besar, tantangan muncul di kenyataan. Meski janji digulirkan untuk membangun 1.000 unit, realisasinya belum sepenuhnya jelas. Dalam pemaparan terbaru, pihak terkait mengonfirmasi bahwa pada tahap awal hanya puluhan rumah yang akan dibangun dulu — jauh dari jumlah ideal.

 

Sebagian warga mengutarakan kekecewaan: dari seribu rumah yang dijanjikan, baru 35 rumah yang masuk daftar realisasi awal. Bagi mereka, itu belum cukup. Mereka khawatir akan muncul ketidakadilan — siapa yang kebagian rumah panggung, siapa yang tidak. Potensi kecemburuan sosial muncul, terutama jika penentuan penerima tidak transparan.

 

Di sisi lain, ada warga yang sudah sejak lama mengambil inisiatif sendiri — menaikkan lantai rumah mereka sendiri agar aman dari genangan. Misalnya, satu keluarga yang menutup lantai rumahnya dengan timbunan tanah setinggi satu meter, lalu memasang keramik dan menambahkan bambu di bagian atas sebagai tempat menyimpan barang jika air datang. Biayanya tak murah: mereka memperkirakan merogoh hingga puluhan juta rupiah. Tapi sayangnya, ketika banjir besar dengan tinggi air mencapai dua hingga tiga meter terjadi, tindakan tersebut tak selalu cukup — rumah tetap bisa kebanjiran, dan mereka harus mengungsi.

 

Dari pengalaman seperti itu, gagasan rumah panggung menjadi menarik — bukan hanya sebagai janji, tapi sebagai solusi nyata yang dirancang bersama pemerintah. Namun, keberhasilan gagasan ini sangat bergantung pada keseriusan eksekusi, alokasi anggaran, dan transparansi.

 

Dedi bahkan telah menyiapkan anggaran tambahan: tidak hanya untuk rumah kolong, tetapi juga untuk memperbaiki infrastruktur penting lain — seperti jembatan — agar akses warga tetap aman selama banjir. Pemerintah menyadari bahwa banjir tak hanya soal rumah, tapi juga soal akses jalan, jembatan, drainase — semua harus dipikirkan bersama.

 

Di tengah harapan dan skeptisisme, satu hal jelas: warga Karangligar tidak ingin hidup dengan rasa takut setiap hujan datang. Mereka ingin keamanan, ketenangan, dan kepastian — bahwa meski air Sungai Cibeet atau Cijurey naik, rumah tetap berdiri kokoh di atas panggung, perahu siap di kolong, dan mereka bisa bertahan. Ide rumah kolong bukan sekadar wacana: jika dilakukan dengan serius, bisa jadi bukti bahwa solusi kebijakan bisa lahir dari kebutuhan nyata dan hidup warga.

 

Baca Juga:
6 Destinasi Liburan Akhir Tahun 2025 di Labuan Bajo yang Menawarkan Keindahan Alam Terbaik

Semoga janji, rencana, dan harapan tersebut segera berubah menjadi nyata — bukan hanya untuk segelintir rumah, tetapi untuk seluruh keluarga di Karangligar. Dan semoga, di masa mendatang, cerita banjir bukan lagi soal air yang masuk ke rumah — tapi tentang bagaimana masyarakat dan pemerintah bersama melindungi rumah, masa depan, dan kehidupan.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Forum TBM Way Kanan Luncurkan Buku Antologi Kisah Rakyat dan Budaya Lokal

17 Januari 2026 - 19:40 WIB

Ancaman Spesies Asing Invasif Menggerus Ekosistem Baluran dan Ujung Kulon

3 Januari 2026 - 18:51 WIB

Peringati Hari Ibu, MY ACADEMY Perkuat Peran Ibu sebagai Entrepreneur Modern

24 Desember 2025 - 08:46 WIB

7 Sisa Bahan Makanan yang Bisa Diubah Jadi Kompos Bergizi untuk Tanaman

23 Desember 2025 - 14:56 WIB

Tips Aman Berkendara ke Puncak saat Libur Nataru, Hindari Mobil Mundur di Tanjakan

23 Desember 2025 - 00:59 WIB

Trending di Blog