PROLOGMEDIA – Korsabhara Baharkam Polri kembali menunjukkan komitmennya dalam penanganan bencana alam dengan menerjunkan 100 personel Detasemen Perintis untuk membantu pengamanan sekaligus evakuasi korban longsor yang terjadi di Sibolga, Sumatera Utara. Kehadiran pasukan khusus ini merupakan bagian dari rangkaian BKO Operasi Aman Nusa II, sebuah operasi yang memang dirancang sebagai respons cepat Polri terhadap berbagai kondisi darurat yang memerlukan penanganan terpadu. Melalui operasi ini, Polri memastikan seluruh jajaran siap bergerak ke titik-titik rawan bencana, memberikan bantuan secara sigap dan terkoordinasi.
Di Sibolga, operasi ini dipusatkan di wilayah hukum Polres Sibolga, Polda Sumut. Fokus utamanya adalah menstabilkan situasi keamanan di area terdampak, mempercepat proses evakuasi, serta memastikan masyarakat yang menjadi korban longsor mendapatkan penanganan secara maksimal. Penanganan bencana tidak hanya dilakukan melalui kegiatan teknis seperti pembersihan material longsor atau pemindahan korban, namun juga termasuk memastikan kondisi kamtibmas tetap terkendali agar tidak muncul persoalan baru di tengah situasi darurat.
Operasi ini dipimpin langsung oleh KOMPOL TRIE SIS BIANTORO, S.Pd., S.I.K., M.H., yang bertindak sebagai Penanggung Jawab. Sejak pukul 07.00 WIB pada Rabu, 10 Desember 2025, seluruh personel telah bersiap di titik-titik yang telah ditentukan. Instruksi-instruksi disampaikan dengan tegas dan terukur untuk memastikan setiap anggota memahami tugas dan perannya masing-masing di lapangan. Dengan adanya koordinasi yang baik sejak awal, ratusan personel dapat bergerak serentak dan efektif sesuai kebutuhan di lokasi.
Menurut Kompol Trie Sis Biantoro, penempatan personel Detasemen Perintis dilakukan secara terarah di beberapa titik strategis. Tidak hanya di lingkungan Polres Sibolga, tetapi juga di sejumlah Polsek yang berada di wilayah rentan. Langkah ini bertujuan mempertebal lapisan pengamanan agar potensi gangguan kamtibmas dapat dieliminasi sejak dini. Ia menegaskan bahwa dalam situasi bencana, potensi kerawanan seperti penjarahan atau penumpukan massa yang tidak terkontrol harus diantisipasi karena mampu menghambat kerja tim evakuasi maupun proses penanganan lainnya.
Selain tugas pengamanan, sebanyak 40 personel khusus diturunkan sebagai tim evakuasi. Mereka bergerak cepat menuju lokasi longsor yang berada di Kelurahan Pancoran Gerobak, tepatnya di kawasan belakang Masjid Budi Sehati, Sibolga. Kondisi medan yang cukup berat tidak menyurutkan langkah tim untuk segera melakukan pencarian korban sekaligus pembersihan material longsor. Peralatan pun disiapkan secara lengkap dan terstandar, mulai dari Cutter, Spreader, Chainsaw, Rescue Kit, hingga 30 kantong mayat untuk mengantisipasi skenario terburuk. Perlengkapan rescue tersebut menjadi elemen penting karena memungkinkan petugas bekerja dengan lebih cepat dan aman dalam kondisi tanah yang masih labil.
Sejak pagi hingga siang hari, kegiatan evakuasi berlangsung dengan intens. Petugas harus berhati-hati mengangkat material tanah dan batuan yang menimbun akses jalan maupun area permukiman warga. Beberapa area dinilai membutuhkan penanganan ekstra karena ketebalan material yang cukup ekstrem. Kontur tanah yang basah dan tidak stabil juga menyebabkan proses pembersihan harus dilakukan perlahan demi menghindari risiko longsor susulan yang bisa membahayakan seluruh petugas.
Baca Juga:
Buah dan Sayur Supermarket Paling Tercemar Pestisida, Ini Cara Aman Konsumsinya
Meski menghadapi tantangan tersebut, sejumlah capaian berhasil diraih pada hari pertama operasi. Pembersihan material longsor di Jalan SM Raja menjadi salah satu target utama yang dapat terselesaikan dengan aman, tertib, dan lancar. Setelah material utama berhasil dipindahkan, jalur tersebut dapat difungsikan kembali, meski dengan pengaturan yang ketat untuk mencegah kendaraan melintas sembarangan. Tim gabungan juga berhasil mengendalikan arus lalu lintas di sekitar lokasi. Tidak ditemukan kemacetan signifikan, suatu hal yang cukup penting mengingat jalur tersebut merupakan akses vital bagi kendaraan bantuan dan tim medis.
Dari sisi keamanan, situasi di lokasi bencana tetap kondusif sepanjang hari. Tidak ditemukan adanya upaya memanfaatkan situasi bencana untuk melakukan tindak kriminal seperti penjarahan. Masyarakat juga cukup kooperatif dan mematuhi arahan petugas ketika diminta menjauh dari area rawan atau menyesuaikan arus lalu lintas. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan personel Detasemen Perintis benar-benar memberikan efek positif terhadap stabilitas situasi di lapangan.
Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa tim menghadapi sejumlah kendala praktis. Salah satunya adalah ketebalan dan luasnya material longsor yang membuat proses pembersihan membutuhkan waktu yang lebih lama. Selain itu, masih ada pengguna jalan yang mencoba memaksakan diri melintas, padahal kondisi jalur belum sepenuhnya aman. Situasi seperti ini memaksa petugas untuk melakukan pengaturan intensif, mengingat setiap upaya melintas tanpa koordinasi bisa menimbulkan bahaya dan mengganggu kelancaran operasi.
Di balik segala tantangan tersebut, pelaksanaan operasi pada hari itu dinilai cukup berhasil. Operasi berjalan lancar dan berada dalam kondisi yang kondusif, sesuai dengan standar yang ditetapkan Polda Sumut. Hal ini sejalan dengan semangat “Siap Terlihat dan Bermanfaat” yang terus dikedepankan Polri dalam setiap operasi penanganan bencana. Prinsip tersebut menekankan bahwa keberadaan polisi harus benar-benar dirasakan kehadirannya oleh masyarakat, terutama ketika terjadi situasi darurat yang mengancam keselamatan banyak orang.
Kompol Trie Sis Biantoro menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya mencerminkan tugas Polri sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai bagian dari elemen negara yang bertanggung jawab memberikan bantuan kemanusiaan. Bagi masyarakat yang terdampak bencana, hadirnya aparat yang sigap dan profesional tentu memberikan rasa aman sekaligus harapan bahwa kondisi akan pulih dan kehidupan dapat kembali berjalan normal.
Baca Juga:
Kopi Turki Diakui UNESCO, Warisan Budaya yang Memikat Dunia
Dengan personel yang bekerja penuh dedikasi, didukung peralatan lengkap dan sistem operasi yang terkoordinasi, penanganan bencana di Sibolga diharapkan dapat terus berjalan efektif hingga seluruh area terdampak kembali aman. Kehadiran 100 personel Detasemen Perintis di lapangan menjadi bukti nyata bahwa Polri hadir tanpa ragu ketika masyarakat membutuhkan pertolongan. Operasi ini masih akan berlangsung hingga situasi benar-benar pulih, dan Polri memastikan seluruh langkah yang diambil akan selalu berorientasi pada keselamatan masyarakat.









