Menu

Mode Gelap

Berita · 11 Des 2025 16:30 WIB

Air Jakarta Tercemar Berat, Bakteri Koli Tinja Ditemukan di Sungai dan Air Tanah


 Air Jakarta Tercemar Berat, Bakteri Koli Tinja Ditemukan di Sungai dan Air Tanah Perbesar

PROLOGMEDIA – Air di banyak wilayah Jakarta saat ini menghadapi kondisi yang sangat memprihatinkan. Hasil pemantauan tahun 2025 mengungkap bahwa kualitas air, baik di sungai, situ, waduk, maupun air tanah, sebagian besar dikategorikan sebagai tercemar berat. Dalam air sungai dan situ atau waduk, tim peneliti menemukan keberadaan bakteri koli dan bakteri koli tinja, dua indikator biologis yang seharusnya tidak hadir dalam air yang layak. Selain itu, parameter kimia seperti fenol, total fosfat, total nitrogen, serta tingkat kebutuhan oksigen biologis atau BOD juga terdeteksi melampaui ambang batas aman. Temuan ini diperoleh dari kolaborasi antara Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, IPB University melalui Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Universitas Indonesia melalui Lemtek, dan Institut Teknologi Bandung.

 

Menurut wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, penyebab utama pencemaran ini adalah limbah domestik, terutama grey water, yaitu air buangan dari mandi, cuci pakaian, dan wastafel, yang selama ini belum dikelola dengan benar dan dibuang langsung ke sistem drainase atau saluran air. Kebiasaan membuang sampah sembarangan serta buruknya manajemen limbah dari pemukiman dan pelaku usaha seperti UMKM dan industri kecil turut memperburuk kondisi air di Jakarta.

 

Lebih jauh, tim riset memperingatkan bahwa sistem septic tank yang tidak sesuai standar turut menyumbang pencemaran bakteri tinja ke dalam air tanah. Dalam proses studi, ditemukan bakteri koli tinja dalam air tanah warga, kondisi yang melanggar standar sanitasi menurut regulasi kesehatan. Yang makin memperparah kondisi ini adalah saluran grey water kadang tercampur dengan saluran buang air kecil atau BAK. Kombinasi tersebut seharusnya tidak terjadi. Keberadaan bakteri ini menunjukkan bahwa air tanah pun tak lepas dari risiko pencemaran serius.

 

Peneliti juga mengungkap bahwa masalah tidak hanya berhenti pada pengolahan air limbah, tetapi juga perilaku sanitasi di masyarakat. Di beberapa titik, masyarakat masih membuang air besar secara sembarangan termasuk ke situ atau waduk. Di lokasi seperti Waduk Rawa Kepa, banyak saluran grey water dan black water dari rumah langsung dibuang ke badan air melalui pipa rumah tangga. Akibatnya, bakteri berbahaya seperti koli dan koli tinja dapat menyebar luas ke sungai, situ, atau waduk.

 

Baca Juga:
Resep Rahasia Asinan Bogor! Kuah Pedas Manisnya Bikin Ketagihan!

Untuk menangani krisis ini, para peneliti mendesak penerapan septic tank komunal dan sistem pengelolaan limbah secara terpadu di pemukiman. Langkah ini dianggap penting agar pencemaran tidak terus meluas sehingga air sungai, situ, dan tanah air dapat kembali memenuhi standar kualitas lingkungan.

 

Tidak semua sungai di Jakarta tercemar dengan derajat yang sama, sehingga peneliti membagi sungai-sungai tersebut ke dalam enam klaster prioritas berdasarkan karakteristik fisik seperti lebar, kedalaman, kelokan, kecepatan arus, serta tingkat polusi. Salah satu ruas sungai dengan pencemaran berat adalah Kali Cideng. Sungai ini memiliki aliran lambat dan sumber air utamanya berasal dari saluran grey water warga. Kombinasi itu membuat Kali Cideng sangat rentan terhadap polusi limbah domestik.

 

Para peneliti berharap bahwa dengan data ini, perhatian dari pemerintah, pemangku kebijakan, dan masyarakat bisa meningkat, mulai dari membenahi instalasi sanitasi sampai merubah perilaku sehari-hari terkait pembuangan limbah dan sampah. Jika tidak ada tindakan cepat dan masif, risiko kesehatan dan kerusakan lingkungan akan terus meningkat.

 

Situasi ini tidak bisa dianggap remeh. Pencemaran bakteri dan limbah kimia seperti fosfat dan nitrogen dalam air bisa memicu penyakit, merusak ekosistem perairan, dan menyulitkan pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga. Mengandalkan sistem pembuangan air limbah seadanya jelas tidak cukup. Dibutuhkan pengelolaan sanitasi secara menyeluruh dan konsisten, dari rumah tangga sampai kebijakan publik.

 

Baca Juga:
Pemkot Serang Kirim Ribuan Pencaker ke Korsel & Jepang 2026: Peluang Emas untuk Warga

Lebih dari sekadar angka dan parameter, hasil penelitian ini adalah alarm bahwa kesehatan lingkungan dan masyarakat Jakarta kini berada di ujung tanduk. Diperlukan gerakan kolektif untuk membalikkan kondisi sebelum terlambat.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Peringatan HAB Kemenag ke-80 di Serang, Bupati Soroti Tantangan Moral dan Era AI

3 Januari 2026 - 21:23 WIB

Trending di Berita