PROLOGMEDIA – Di tengah hamparan hijau lahan pertanian di Komune Tan Phu Dong, Provinsi Dong Thap, suasana panen serai pada akhir musim ini tampak lebih semarak daripada biasanya. Senyum lebar menghiasi wajah para petani yang tengah sibuk memanen batang-batang serai yang tumbuh subur di kebun mereka. Berbeda dengan periode sebelumnya, kali ini mereka merasakan hasil jerih payahnya berlipat ganda karena harga serai yang melonjak signifikan di pasar lokal, memberikan keuntungan yang nyata bagi kehidupan keluarga petani.
Selama beberapa hari terakhir, harga jual serai mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Dari hanya sekitar 5.000–5.500 VND per kilogram beberapa pekan lalu, kini pedagang membeli serai dari petani dengan harga sekitar 6.000 VND per kilogram, bahkan ada yang membayar lebih tinggi lagi ketika membeli dalam jumlah besar. Lonjakan harga ini hampir menyentuh pertumbuhan sekitar seribu dong per kilogram dibandingkan bulan sebelumnya, sebuah kenaikan yang sangat berarti bagi petani yang selama ini bergantung pada hasil tanaman ini sebagai sumber utama pendapatan mereka.
Keluarga Nguyen Thanh Hung, yang mengelola lebih dari satu hektar lahan serai di Dusun Ly Quan 1, menjadi salah satu yang merasakan dampak positif dari kenaikan harga tersebut. Pak Hung bercerita bagaimana harga yang lebih tinggi membuat keluarganya bisa memanen dan menjual produknya ke pedagang dengan hasil yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan musim-musim sebelumnya. Dengan harga pembelian sekitar 8 juta VND per petak kecil (sekitar 650 meter persegi), keuntungan yang diperoleh pada musim panen kali ini jauh lebih baik daripada sekadar menutup biaya produksi.
“Biaya produksi serai biasanya sekitar 3.000 VND per kilogram,” ujarnya sambil menunjuk batang serai yang baru saja dipotong. “Dengan harga jual sekarang sekitar 6.000 VND per kilogram, kami memperoleh keuntungan sekitar 3.000 VND per kilogram. Itu sangat menggembirakan dan memberi napas baru bagi kehidupan masyarakat di sini,” tambahnya dengan semangat yang tak disembunyikan.
Tak jauh dari situ, Ibu Tran Thi Thao, petani yang mengelola lahan seluas lima hektar di Dusun Ly Quan 2, juga tengah sibuk memanen serai dari sebagian lahannya. Ia baru saja memanen serai dari dua hektar lahan dan menjualnya dengan harga sekitar 6.200 VND per kilogram. Meski masih tersisa tiga hektar lagi yang akan dipanen dalam beberapa hari mendatang, Ibu Thao merasa optimis bahwa kenaikan harga ini akan terus membantu mereka meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Masyarakat sangat senang dengan harga serai saat ini,” katanya sambil menatap arah ladang yang hijau. “Setiap hektar lahan bisa menghasilkan beberapa juta dong keuntungan, yang benar-benar membantu kehidupan keluarga kami di desa.”
Serai sendiri merupakan tanaman utama yang dibudidayakan di komune ini. Kondisi alam setempat yang cocok serta ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan salinitas membuat budidaya serai semakin berkembang. Selama beberapa tahun terakhir, luas lahan budidaya serai di daerah ini meningkat secara signifikan, membantu banyak keluarga keluar dari garis kemiskinan dan menstabilkan kehidupan mereka.
Menurut Bui Thai Son, Sekretaris Komite Partai dan Ketua Dewan Rakyat Komune Tan Phu Dong, total luas lahan tanaman serai mencapai lebih dari 4.020 hektar. Jumlah ini menunjukkan betapa pentingnya tanaman tersebut bagi ekonomi lokal. “Saat ini kami tengah menerapkan berbagai solusi untuk mendorong mekanisasi dalam budidaya serai agar efisiensi produksi meningkat,” ujarnya. Inisiatif ini tidak hanya membantu mengurangi beban kerja petani tetapi juga berpotensi meningkatkan hasil produksi secara keseluruhan.
Baca Juga:
Setelah Disiram Air Mendidih, WNI Berani Kabur dari Lantai 29 Malaysia Melalui Pipa – Diselamatkan Damkar
Upaya kolaboratif juga dilakukan antara komune dan institusi pendidikan tinggi. Mereka bekerja sama dengan Universitas Pertanian dan Kehutanan Kota Ho Chi Minh untuk menerapkan proyek percontohan penggunaan mesin dalam budidaya serai. Program ini memiliki tujuan untuk memperkenalkan teknologi yang dapat mempermudah proses tanam hingga panen, sekaligus meningkatkan kualitas hasil panen. Penggunaan pupuk organik juga diperkenalkan sebagai bagian dari strategi pertanian berkelanjutan yang diharapkan bisa meningkatkan produktivitas tanah serta menjaga lingkungan.
Bagi banyak petani di Tan Phu Dong, hasil dari budidaya serai bukan hanya sekadar pendapatan sesaat. Ini adalah bagian penting dari strategi jangka panjang mereka dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Selama ini, serai dikenal sebagai komoditas yang memiliki permintaan stabil di pasar domestik dan internasional, terutama karena digunakan sebagai bahan baku dalam industri makanan, minuman, parfum, serta produk kesehatan. Dengan permintaan yang tetap kuat, para petani memiliki harapan bahwa harga akan tetap kompetitif.
Kisah semacam ini menjadi cermin perubahan ekonomi yang dialami pedesaan Vietnam dalam beberapa tahun terakhir. Di banyak wilayah, pertanian tidak lagi hanya identik dengan hasil panen yang pas-pasan atau bergantung sepenuhnya pada kondisi cuaca. Kebijakan pemerintah yang mendukung, meningkatnya akses pasar, serta adopsi teknologi pertanian modern turut memainkan peran penting dalam membantu petani meningkatkan produktivitas serta profitabilitas usaha mereka.
Selain itu, adanya tren permintaan komoditas pertanian yang meningkat di pasar global turut memberikan dampak pada harga di tingkat lokal. Contohnya, di sejumlah komoditas lain seperti lada hitam, peningkatan harga di pasar internasional telah memberikan keuntungan kepada para petani di wilayah penghasil utama. Lada hitam Vietnam bahkan sempat meraih harga tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, yang turut mengubah strategi budidaya serta ekspor dari negara tersebut. Tren semacam ini menunjukkan bagaimana faktor global bisa berimbas pada dinamika harga yang dinikmati petani lokal.
Namun demikian, para petani juga menyadari bahwa tantangan tetap ada. Fluktuasi harga, perubahan iklim, serta persaingan pasar menjadi faktor risiko yang harus mereka antisipasi secara cermat. Oleh karena itu, selain fokus pada peningkatan hasil produksi, banyak petani kini mulai memperhatikan aspek keberlanjutan seperti penggunaan metode organik, diversifikasi tanaman, hingga pendekatan pemasaran yang lebih modern agar dapat tetap kompetitif.
Di Komune Tan Phu Dong sendiri, suasana petani yang optimis tidak hanya terasa pada saat panen. Mereka mulai membicarakan rencana untuk memperluas area tanam, memperbaiki sistem irigasi, hingga mengikuti pelatihan pertanian intensif yang diselenggarakan secara berkala. Diskusi tentang kualitas hasil panen hingga cara menarik pembeli dari luar daerah pun menjadi topik hangat di warung-warung kopi atau di sela-sela istirahat kerja di ladang.
Lebih jauh, perbaikan ekonomi yang dialami para petani juga berdampak pada kehidupan sosial di komunitas. Dengan pendapatan yang meningkat, keluarga petani dapat mengalokasikan lebih banyak untuk pendidikan anak, kesehatan keluarga, serta investasi kecil lain seperti perbaikan rumah atau pembelian peralatan baru. Dampak positif ini terasa tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga memperkuat struktur sosial di desa.
Secara keseluruhan, lonjakan harga serai memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana komoditas pertanian yang tepat, didukung oleh kondisi pasar yang baik, dapat menjadi sumber perubahan ekonomi yang signifikan. Bagi para petani di Tan Phu Dong, momen ini menjadi sebuah bukti bahwa kerja keras, dukungan teknologi, serta peluang pasar yang tepat bisa membuka jalan menuju kesejahteraan yang lebih baik.
Baca Juga:
Gubernur Andra Soni Buka Kita Indonesia RRI Fest 2025, Tegaskan Banten sebagai Daerah Kaya Sejarah dan Peradaban
Dan ketika matahari mulai condong ke barat, para petani masih terus bergerak di kebun mereka, merapikan batang-batang serai yang telah dipanen, berbagi cerita tentang rencana masa depan, serta menatap hari esok dengan harapan yang semakin kuat — sebuah kisah sederhana tentang kerja keras, optimisme, dan perubahan yang tumbuh dari ladang hijau di jantung pedesaan Vietnam.









