PROLOGMEDIA – Di kawasan Yishun, sebuah sudut di Singapura yang biasanya dikenal sebagai area pemukiman biasa, suasana berbeda terlihat pada suatu sore pekan lalu. Sejak pukul tiga sore, ketika matahari masih tinggi dan udara belum menyejuk, puluhan hingga ratusan lansia sudah mulai berkumpul di trotoar panjang yang membentang di depan kios durian Famous Durian. Mereka datang lebih awal dari jadwal acara yang akan dimulai pukul enam sore, membawa kursi lipat kecil, gelas air, payung, dan semangat tinggi untuk mendapatkan buah istimewa yang tengah jadi “primadona”: durian. Terlihat garis panjang antrean yang semakin memanjang, dari jalanan hingga ke lorong-lorong HDB (Housing & Development Board) setempat — bukti nyata betapa besarnya antisipasi masyarakat terhadap momen berbagi durian gratis ini.
Inisiatif ini bukan acara biasa. Famous Durian, kios durian yang berada di Blok 848 Yishun Street 81, telah menyiapkan stok besar — sekitar 1.200 kilogram durian, setara sekitar 1.000 buah — yang diperuntukkan khusus bagi para warga berusia 60 tahun ke atas. Jumlah durian yang dipersiapkan ini nilainya mencapai lebih dari S$10.000 (sekitar Rp 120 juta lebih jika dikonversi), sebuah jumlah yang tidak sedikit untuk sebuah kegiatan berbasis komunitas. Acara ini pun menarik lebih dari 500 lansia yang datang memenuhi panggilan buah tropis yang populer di kalangan Asia Tenggara ini.
Seorang wanita berusia 71 tahun, salah satu dari peserta antrean, mengaku sudah berada di tempat sejak pukul 3 sore, tiga jam sebelum durian dibagikan. Ia termasuk yang beruntung berada di posisi keempat antrean. Ketika ditanya, matanya berbinar mengenang momen itu: ini adalah pengalaman pertamanya mengikuti pembagian durian gratis semacam ini, dan kebahagiaannya terlihat jelas ketika membawa pulang durian yang dinantikannya itu.
Tujuan dari kegiatan tersebut menurut pemilik kios bukan semata untuk menarik perhatian publik, melainkan sebagai bentuk apresiasi terhadap komunitas dan kesempatan bagi para lansia untuk menikmati buah yang lazimnya berharga tinggi itu. Durian, yang sering disebut sebagai “raja buah” karena rasa dan aromanya yang kuat, memiliki harga yang relatif mahal di Singapura — khususnya varietas unggulan seperti Mao Shan Wang. Dengan menjelang akhir tahun dan musim durian sedang berlangsung, kesempatan ini dianggap sangat berharga, terutama bagi warga senior yang mungkin tidak selalu mampu membeli sendiri.
Antusiasme yang tinggi membuat suasana pagi itu mulai ramai sejak jauh hari sebelum pembagian secara resmi dimulai. Panitia dan relawan telah menyiapkan sistem antrean sedemikian rupa agar tetap tertib, termasuk pembagian nomor antrean dan pengaturan batch masuk ke area kios untuk menghindari kerumunan yang berlebihan. Meski begitu, tidak sedikit pula yang mencoba menyingkirkan aturan dengan menyelinap lebih dekat ke kios, namun relawan tetap menjaga agar setiap orang yang memenuhi syarat — yaitu usia 60 ke atas — mendapatkan kesempatan yang adil.
Awalnya, setiap lansia yang hadir berencana mendapatkan dua durian: satu buah Mao Shan Wang yang terkenal sebagai varietas premium, dan satu buah durian dari varietas lain. Namun karena antusiasme yang jauh melebihi ekspektasi penyelenggara, stok durian habis lebih cepat dari yang diperkirakan. Menyadari hal itu, pemilik kios kemudian menambahkan sekitar 100 buah durian ekstra dari persediaan internalnya, agar sebanyak mungkin lansia bisa ikut serta. Namun menjelang akhir acara, beberapa peserta hanya berhasil mendapatkan satu durian, yang membuat sebagian dari mereka merasa sedikit kecewa. Meski begitu, suasana tetap hangat dan penuh kegembiraan ketika mereka kembali ke rumah dengan buah durian di tangan.
Baca Juga:
In Memoriam: Pakubuwono XIII, Sang Pelestari Budaya Jawa
Seorang peserta yang datang bersama teman-temannya bercerita bahwa kegiatan semacam ini selain menjadi ajang mendapatkan makanan gratis, ternyata juga menjadi momen bersosialisasi yang menyenangkan bagi para lansia. Mereka saling bercerita, tertawa, dan berbagi kisah hidup sambil menunggu antrean mereka dipanggil. Bagi banyak dari mereka, rutinitas sederhana itu menjadi hiburan yang langka di tengah kesibukan hidup sehari-hari.
Kegiatan ini sebenarnya bukan yang pertama kali dilakukan oleh Famous Durian. Pemilik kios dan timnya telah mengadakan acara serupa beberapa kali sebelumnya, dengan tujuan yang sama: untuk memberi kembali kepada masyarakat setempat. Ide ini berakar pada pengalaman pribadi pemilik kios yang pernah dibantu oleh orang lain di masa sulitnya. Ia kemudian merasa terdorong untuk menyebarkan kebaikan tersebut kepada orang lain, terutama mereka yang lebih rentan dan mungkin kurang beruntung secara ekonomi.
Respon masyarakat dan tokoh setempat juga menunjukkan dukungan atas tindakan tersebut. Seorang anggota parlemen lokal dari Nee Soon GRC (Group Representation Constituency) turut hadir di lokasi acara, ikut membagikan durian dan menyapa para lansia yang antre. Kehadiran tokoh ini bukan hanya sebagai bentuk dukungan simbolis, tetapi juga sebagai pengingat bahwa kegiatan berbagi semacam ini memiliki dampak komunitas yang luas — mempererat hubungan antarwarga dan menanamkan semangat saling peduli dalam kehidupan urban yang serba cepat.
Selain nilai ekonomis buah durian itu sendiri, kegiatan pembagian ini juga memantik refleksi sosial yang menarik. Durian sering kali dianggap sebagai buah eksklusif dengan harga tinggi di banyak negara Asia, terutama di kota-kota besar seperti Singapura. Namun melalui kegiatan ini, durian menjadi simbol kebaikan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap generasi yang lebih tua. Momen seperti ini menunjukkan bahwa di balik kesibukan dan tekanan hidup modern, terdapat ruang bagi kebaikan sederhana yang bisa mempererat hubungan antarindividu.
Ketika acara berakhir sekitar pukul 7.20 malam, durian terakhir pun telah habis dibagikan. Para lansia akhirnya pulang dengan tangan memegang buah favorit mereka, wajah penuh senyum dan cerita untuk dibawa pulang. Sementara itu, para relawan mulai membereskan lokasi, yakin bahwa kegiatan seperti ini akan terus memberi dampak positif bagi komunitas setempat. Bagi banyak lansia yang hadir, hari itu bukan sekadar mendapatkan durian gratis — ia adalah hari di mana mereka merasa diperhatikan, dihargai, dan menjadi bagian dari sebuah tindakan kebaikan yang nyata.
Baca Juga:
Sensasi Kuliner 90-an di Warung Nasi Mak Eyot, Bandung
Secara keseluruhan, pembagian durian gratis ini bukan hanya soal buah, tetapi juga tentang nilai-nilai kemanusiaan: semakin kita memberi, semakin banyak kebahagiaan yang kembali kepada kita semua, terutama kepada mereka yang sering kali terlupakan.









