Menu

Mode Gelap

Kesehatan · 14 Des 2025 22:04 WIB

Hati-hati Menyimpan Makanan di Plastik, Ini 5 Jenis yang Sebaiknya Dihindari


 Hati-hati Menyimpan Makanan di Plastik, Ini 5 Jenis yang Sebaiknya Dihindari Perbesar

PROLOGMEDIA – Praktik menyimpan makanan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas rumah tangga. Hampir setiap dapur di rumah-rumah modern dilengkapi dengan tumpukan wadah plastik dalam berbagai ukuran. Material ini begitu populer karena terlihat praktis, ringan, dan mudah dibersihkan. Dari menyimpan sisa makan malam hingga menyiapkan bekal untuk hari berikutnya, wadah plastik sering menjadi pilihan utama untuk menampung beragam jenis makanan. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, terdapat risiko kesehatan yang sering kali diabaikan oleh banyak orang. Tidak semua makanan aman disimpan dalam wadah plastik, dan jika salah memilih, hal itu bisa berdampak buruk bagi kualitas makanan maupun kesehatan konsumen.

 

Banyak dari kita tidak menyadari bahwa makanan tertentu bisa bereaksi dengan plastik sehingga menyebabkan kualitasnya menurun atau bahkan memungkinkan zat berbahaya berpindah ke dalam makanan. Reaksi-reaksi ini bisa dipicu oleh sifat makanan seperti tingkat keasaman, suhu, kadar lemak, hingga proses fermentasi yang terjadi di dalamnya. Ketika kondisi yang tidak tepat bertemu dengan wadah yang tidak tepat, konsekuensinya bisa lebih dari sekadar rasa yang berubah — potensi paparan zat kimia dalam plastik bisa meningkat dan berdampak pada kesehatan dalam jangka panjang.

 

Salah satu kelompok makanan yang paling sering disalahgunakan adalah makanan hangat atau panas. Tak sedikit orang langsung memasukkan sisa makanan yang baru saja dihangatkan atau dimasak ke dalam wadah plastik. Kebiasaan ini memang tampak efisien, namun sebenarnya sangat tidak dianjurkan. Ketika makanan masih dalam kondisi panas, uap air dan panas itu sendiri akan terjebak di dalam wadah plastik yang tertutup rapat. Kondisi ini menciptakan lingkungan lembap yang ideal bagi pertumbuhan bakteri dan mikroba lain yang merusak makanan. Lebih jauh lagi, panas dapat mempercepat proses chemical leaching — yaitu perlepasan partikel kimia dari plastik ke makanan, yang tentu tidak kita inginkan. Karena itu, para ahli menyarankan agar makanan didinginkan terlebih dulu sebelum dipindahkan ke dalam wadah, atau sebaiknya memilih wadah alternatif seperti kaca atau stainless steel yang lebih tahan terhadap suhu panas.

 

Selain makanan panas, bahan makanan mentah seperti daging dan produk laut juga perlu mendapat perhatian khusus. Daging ayam, daging merah, ikan, dan makanan laut lainnya secara alami membawa sejumlah bakteri yang bisa menyebabkan penyakit bila tidak ditangani dengan benar. Menyimpannya di wadah plastik dapat menjebak kelembapan dan cairan dari protein mentah tersebut, sehingga meningkatkan risiko cross-contamination atau kontaminasi silang di dalam lemari es. Ini berarti bakteri dari daging mentah bisa berpindah ke makanan lain yang disimpan di dekatnya, terutama jika wadah plastiknya bocor atau tidak rapat. Sebagai alternatif, menyimpan protein mentah dalam wadah kaca atau setidaknya di dalam kemasan asli sambil ditempatkan di baki di bagian bawah lemari es bisa membantu meminimalkan risiko penyebaran bakteri.

 

Baca Juga:
Kebiasaan Minum Sambil Berdiri yang Sering Dianggap Sepele, Ternyata Berdampak Besar bagi Kesehatan Tubuh

Kategori makanan berikutnya yang sering salah disimpan adalah buah dan sayuran bersifat asam. Buah jeruk, tomat, buah beri, bahkan produk olahan seperti saus tomat semuanya memiliki kadar keasaman yang cukup tinggi. Keasaman ini dapat bereaksi dengan plastik, yang pada gilirannya bisa memengaruhi rasa dan aroma asli makanan tersebut serta memungkinkan zat kimia dari plastik larut ke dalam makanan. Kondisi ini bahkan dapat mempercepat proses pembusukan, membuat buah dan sayuran tersebut tidak lagi layak untuk dikonsumsi. Buah-buahan segar juga lebih baik disimpan dalam wadah yang memiliki sirkulasi udara, seperti kantong berlubang atau wadah kaca dengan ventilasi yang tepat, untuk menjaga kesegarannya lebih lama.

 

Tak kalah penting adalah makanan yang tinggi lemak atau berminyak, seperti keju, mentega, selai kacang, dan saus-saus berlemak lainnya. Kandungan lemak yang tinggi ini cenderung dapat menyerap bahan kimia dari plastik seiring waktu. Bukan hanya itu, lemak juga bisa menempel pada permukaan plastik sehingga membuatnya lebih sulit dibersihkan dan meninggalkan bau atau noda yang sulit hilang. Wadah kaca di sini menjadi pilihan yang jauh lebih ideal, karena tidak bereaksi dengan lemak dan permukaannya mudah dibersihkan tanpa meninggalkan residu berbahaya.

 

Terakhir, kelompok makanan yang sering terlupakan namun juga penting adalah produk makanan fermentasi atau berkarbonasi, seperti kimchi, acar, atau minuman bersoda. Selama proses fermentasi, gas akan terbentuk dan terperangkap di dalam wadah. Jika gas ini terakumulasi dalam wadah plastik yang tertutup rapat, tekanan di dalam wadah bisa meningkat secara signifikan, yang berpotensi menyebabkan wadah bocor atau melembung dan bahkan berubah bentuk. Selain itu, lingkungan bertekanan tinggi di dalam wadah plastik bisa mempercepat degradasi plastik itu sendiri, dengan konsekuensi zat-zat kimia bisa masuk ke dalam makanan. Stoples atau wadah kaca yang dirancang khusus untuk produk fermentasi sering kali memiliki sistem ventilasi atau dapat dibuka sedikit untuk melepas tekanan, menjadikannya solusi yang jauh lebih aman.

 

Memahami jenis makanan yang tidak sebaiknya disimpan di plastik adalah langkah awal yang penting, namun kesadaran akan keseluruhan isu yang lebih luas tentang plastik juga tidak kalah penting. Studi dan penelitian dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan bahwa paparan terhadap bahan kimia plastik seperti BPA, ftalat, dan partikel mikroplastik dapat berkontribusi terhadap gangguan hormonal, peradangan, dan bahkan risiko penyakit kronis bila paparan ini terjadi terus-menerus dari waktu ke waktu. Karena itu, selain menghindari makanan tertentu dalam wadah plastik, banyak ahli kesehatan juga mendorong penggunaan wadah alternatif seperti kaca, keramik, atau stainless steel — terutama untuk makanan yang akan disimpan dalam jangka waktu lama atau yang sering dipanaskan kembali.

 

Baca Juga:
Dari Simbol Kejayaan Komunis Menjadi Reruntuhan di Puncak Balkan

Kesimpulannya, meskipun wadah plastik sering kali tampak seperti pilihan yang paling sederhana dan convenient di dapur, keputusan untuk menggunakannya secara sembarangan dapat membawa konsekuensi yang signifikan terhadap kualitas makanan dan bahkan kesehatan kita sendiri. Mulai dari makanan panas, bahan mentah, makanan asam dan berminyak, hingga makanan fermentasi — semuanya memiliki alasan kuat mengapa tidak cocok disimpan dalam wadah plastik. Dengan sedikit pengetahuan tambahan dan kesadaran akan alternatif yang lebih aman, setiap rumah tangga bisa lebih bijak dalam menyimpan makanan mereka, menjaga kesegaran, cita rasa, serta kesehatan para anggota keluarga dalam jangka panjang.

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Respons Cepat Pemkab Serang, Sartini Warga Petir Dapat Bantuan dan Penanganan Medis

27 Januari 2026 - 12:15 WIB

Latihan Beban Bukan Sekadar Otot: Rahasia Tubuh Sehat dan Kuat bagi Wanita

2 Januari 2026 - 17:41 WIB

Deretan Makanan Kaya Vitamin B12 yang Penting untuk Energi, Saraf, dan Kesehatan Tubuh

1 Januari 2026 - 01:35 WIB

6 Latihan Upper Body Efektif untuk Membentuk Tubuh Kuat dan Proporsional

1 Januari 2026 - 01:26 WIB

Gaya Makan Sehat Milenial: Tren, Tips, dan Langkah Awal Menuju Hidup Lebih Fit

26 Desember 2025 - 19:55 WIB

8 Jenis Karbohidrat Tinggi Kalori yang Sebaiknya Dihindari Saat Diet

26 Desember 2025 - 19:32 WIB

Trending di Kesehatan