PROLOGMEDIA – Di sebuah prosesi wisuda yang penuh haru dan suka cita akhir-akhir ini, sebuah nama yang selama ini mungkin jarang terdengar di luar lingkup pemerintahan lokal menjadi sorotan utama masyarakat Bangka. Dialah Chari Yulianto, seorang pria berusia 44 tahun yang selama ini dikenal sebagai Lurah di Kelurahan Matras, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka. Di usia yang tidak lagi muda dan jauh dari usia tipikal wisudawan pada umumnya, Chari berhasil menorehkan prestasi akademik luar biasa dengan meraih predikat cumlaude dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00 pada kelulusannya dari perguruan tinggi. Prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi inspirasi kuat bahwa proses belajar dan pencapaian akademik tidak mengenal batas usia atau latar belakang profesi.
Pada hari yang penuh emosional itu, Chari berdiri di antara deretan mahasiswa lainnya yang berseragam toga, menerima ijazah dengan senyum lebar dan mata yang berkaca-kaca, mencerminkan perjalanan panjang yang telah dilaluinya. Bagi banyak orang, meraih predikat cumlaude dengan IPK 4,00 adalah pencapaian luar biasa bagi mereka yang masih berstatus sebagai mahasiswa penuh waktu pada usia dua puluhan. Namun bagi Chari, yang selama ini menjalankan tugas-tugas pemerintahan sebagai lurah sekaligus harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan kuliah, capaian ini terasa jauh lebih berarti.
Perjalanan akademik Chari bukanlah sesuatu yang instan. Ia memulai pendidikan tinggi beberapa tahun lalu dengan tekad kuat untuk meningkatkan kapasitas dirinya sebagai aparatur pemerintah dan sekaligus untuk membuka peluang pengembangan karier di masa depan. Sejak awal, tekad itu bukan hanya tentang angka semata, tetapi tentang memperluas wawasan, kompetensi, serta membuktikan kepada masyarakat bahwa belajar adalah proses seumur hidup. Di tengah rutinitas sebagai lurah — yang menuntut dirinya untuk mengurus administrasi pemerintahan, pelayanan publik, serta berbagai tanggung jawab sosial di kelurahan — Chari tetap konsisten mengatur waktu antara pekerjaan dan studi.
Mengatur waktu adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Chari. Setiap harinya, ia harus bangun lebih pagi untuk menyelesaikan urusan administrasi pemerintahan, seperti berkoordinasi dengan staf kelurahan, menghadiri rapat dengan pihak kecamatan maupun kabupaten, serta memastikan layanan publik berjalan dengan baik. Setelah seluruh urusan kantor selesai, bukan berarti waktu istirahat tiba. Chari masih menyisihkan malam harinya untuk membaca materi kuliah, menyiapkan tugas-tugas akademik, berdiskusi dengan teman-teman seangkatan, maupun berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya.
Tidak sedikit orang terdekat bahkan sempat mempertanyakan keputusan Chari untuk mengejar pendidikan tinggi begitu lanjut usia, terlebih di tengah tanggung jawab besar sebagai lurah. Namun Chari memilih untuk membuktikan bahwa semangat belajar tidak dibatasi oleh usia. Menurutnya, proses pembelajaran adalah perjalanan pribadi yang justru semakin bermakna ketika dilalui dengan penuh kesungguhan dan dedikasi — bukan sekadar untuk mendapatkan gelar, tetapi untuk benar-benar memahami ilmu dan menerapkannya dalam kehidupan nyata, termasuk dalam pelayanan kepada masyarakat.
Hasil dari kerja keras dan komitmen itu akhirnya terbayar tuntas. Pada acara wisuda, saat nama Chari dipanggil dan predikat cumlaude dengan IPK sempurna 4,00 disebutkan oleh tim penguji, tepuk tangan riuh dari para tamu undangan dan peserta wisuda pun terdengar. Rekan-rekan seangkatan, keluarga, hingga tamu undangan berdiri memberikan apresiasi atas pencapaian itu. Momen itu adalah bukti bahwa perjuangan panjang tanpa henti akan menghasilkan kebanggaan yang tidak hanya dirasakan pribadi, tetapi juga oleh orang-orang yang selama ini menyaksikan perjalanan panjangnya.
Dalam kesempatan wawancara usai acara, Chari terlihat sangat emosional ketika berbicara tentang perasaannya. Ia bercerita bahwa semangatnya untuk belajar timbul dari keinginan kuat untuk memberi contoh nyata kepada generasi muda di lingkungannya bahwa pendidikan adalah kunci untuk perubahan diri dan masyarakat. “Belajar tak kenal usia,” ucapnya sambil tersenyum. Kalimat sederhana itu mencerminkan filosofi hidup yang selama ini menjadi landasan kuat bagi dirinya.
Baca Juga:
Teh Jadi Alternatif Cuka untuk Mengempukkan Daging, Hasilnya Lebih Lembut dan Kaya Rasa
Chari menyadari bahwa tantangan yang ia hadapi jauh lebih kompleks dibandingkan mahasiswa biasa. Selain beban akademik, ia harus pula memenuhi tanggung jawab sosial dan profesional sebagai lurah yang selalu diharapkan hadir dalam berbagai kegiatan dan solusi masalah di kelurahan. Akan tetapi, ia tidak pernah melihat itu sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari proses belajar kehidupan yang memberikan pelajaran berharga tentang manajemen waktu, ketekunan, dan kematangan berpikir.
Bagi banyak pemuda dan pemudi di Matras dan daerah lain di Bangka, kisah Chari menjadi refleksi kuat bahwa tidak ada kata terlambat untuk mengejar cita-cita dan meningkatkan kemampuan diri. Ia sering membagikan pengalaman belajarnya kepada warga yang hendak melanjutkan pendidikan atau yang tengah berjuang di bangku kuliah. Tak jarang ia juga memberikan motivasi kepada rekan-rekan kerja di pemerintahan untuk terus mengembangkan diri melalui pendidikan formal maupun pelatihan keterampilan lainnya.
Keberhasilan ini juga memberi dampak positif di lingkup pemerintahan lokal. Banyak rekan aparatur pemerintahan yang termotivasi untuk melanjutkan studi atau mengambil program pelatihan yang dapat mendukung kompetensi mereka dalam bekerja. Hal ini pada akhirnya diharapkan dapat memperkuat kualitas pelayanan publik di daerah, karena aparatur pemerintah yang berpendidikan tinggi cenderung memiliki perspektif yang lebih luas dalam menghadapi dinamika administrasi dan kebutuhan masyarakat.
Di sisi lain, pencapaian Chari juga menimbulkan diskusi positif di kalangan masyarakat luas tentang pentingnya kebijakan pendidikan yang mendukung pemerataan kesempatan belajar bagi semua kalangan usia. Pendidikan tidak seharusnya menjadi milik mereka yang muda semata, tetapi harus dapat diakses oleh siapa saja yang memiliki tekad dan semangat untuk belajar, tanpa hambatan usia maupun status sosial.
Refleksi atas keberhasilan ini mendorong diskusi yang lebih mendalam tentang bagaimana sistem pendidikan dan beasiswa di Indonesia dapat lebih responsif terhadap kebutuhan para pekerja profesional yang ingin melanjutkan studi di usia matang. Banyak yang berpendapat bahwa fleksibilitas dalam sistem pendidikan, seperti kuliah paruh waktu atau program pembelajaran hybrid, dapat menjadi solusi bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu akibat tanggung jawab kerja dan keluarga.
Meski demikian, perjalanan Chari tidak berhenti di sini. Ia berencana melanjutkan kontribusinya dalam bidang pemerintahan dan ingin membagikan ilmu yang ia dapatkan melalui pelatihan-pelatihan atau seminar yang berkaitan dengan administrasi publik dan pelayanan masyarakat. Menurutnya, gelar cumlaude bukan akhir dari perjalanan, tetapi awal dari tanggung jawab baru untuk mengimplementasikan ilmu demi kemajuan masyarakat.
Baca Juga:
BGN Minta Warga Bertani & Beternak: Solusi Atasi Inflasi Program Makan Bergizi Gratis?
Dengan kisahnya sebagai Lurah Matras yang berhasil meraih predikat cumlaude di usia 44 tahun dengan IPK 4,00, Chari telah menanamkan benih inspirasi yang kuat bagi masyarakat, khususnya generasi muda dan para pekerja yang ingin terus berkembang. Ia adalah bukti nyata bahwa proses belajar adalah perjalanan seumur hidup — tidak memandang usia, jabatan, atau tantangan apa pun. Belajar benar-benar tidak mengenal usia, dan semangat itulah yang kini terus menyebar luas di lingkungan tempat ia bertugas.









