Menu

Mode Gelap

Berita · 16 Des 2025 16:34 WIB

Ketika Sampah Menyentuh Atap Pasar Cimanggis, Krisis Lingkungan Tak Terelakkan


 Ketika Sampah Menyentuh Atap Pasar Cimanggis, Krisis Lingkungan Tak Terelakkan Perbesar

PROLOGMEDIA – Pagi itu, matahari belum sepenuhnya menghangatkan kawasan Pasar Cimanggis di Tangerang Selatan, namun suasana yang menyambut siapa pun yang melintas sudah terasa berbeda dari biasanya. Aroma tajam yang menusuk hidung langsung menyergap, bukan bau rempah segar atau keringat pedagang yang mulai membuka lapaknya, melainkan bau busuk sampah yang sudah berhari-hari menumpuk di sudut-sudut pasar dan bahkan mencapai atap bangunan. Bukit-bukit sampah ini seperti dinding tak kasat mata yang membentang, merunduk di bawah langit pagi yang jernih, seolah menjadi panggung utama dari sebuah tragedi urban yang semakin mencemaskan.

Kondisi tumpukan sampah yang menggunung ini bukan sekadar kisah deskripsi visual belaka. Setiap kantong sampah yang sobek, setiap kertas dan plastik yang berserakan di jalan setapak pedagang, dan setiap tumpukan yang menjulang setinggi atap bangunan, menggambarkan sebuah problem lingkungan yang jauh lebih besar dan kompleks. Warga setempat, pedagang, hingga pengunjung pasar kini harus menahan diri dari bau busuk yang tak kunjung hilang, sementara aktivitas sehari-hari mereka menjadi terganggu oleh pemandangan yang tak sedap dipandang mata.

Sejumlah pedagang yang biasa berjualan di kawasan ini mengaku sudah terbiasa melihat tumpukan sampah, tetapi “menggunung hingga atap” merupakan sesuatu yang baru dan luar biasa. Di sela-sela aktivitas jual beli, beberapa pedagang bergantian memberikan komentar mengenai kondisi yang memburuk akhir-akhir ini. Mereka menceritakan bagaimana kantong-kantong sampah yang awalnya menumpuk di area khusus pembuangan sementara dalam pasar, kini sudah merambat ke area dagang mereka, bahkan menyentuh atap bangunan kios yang seharusnya melindungi produk dagangan mereka dari panas terik maupun hujan deras.

Salah satu pedagang sayur yang enggan disebutkan namanya dengan tegas mengatakan bahwa bau yang muncul dari gunungan sampah tersebut membuat banyak pelanggan enggan datang ke kiosnya. “Orang datang sekadar lihat lihat pun menutup hidung. Banyak yang bilang bau seperti ini tidak layak ada di pasar,” ujarnya sambil menunjuk tumpukan plastik dan organik yang mengeluarkan aroma busuk tak tertahankan. Situasi serupa dirasakan oleh pedagang lain yang menjual buah-buahan dan sayuran segar. Mereka menuturkan bahwa omzet penjualan menurun drastis karena pembeli memilih pergi ke pasar lain yang lebih bersih.

Menurut pengamatan warga dan pedagang, salah satu penyebab utama kondisi ini adalah overload atau kelebihan kapasitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, yang selama ini menjadi tempat utama pengolahan sampah di wilayah Tangerang Selatan. Akibatnya, truk-truk pengangkut sampah mengalami keterlambatan atau bahkan berhenti datang sama sekali untuk mengangkut sampah dari pusat-pusat aktivitas seperti pasar tradisional, perumahan, dan pusat keramaian lainnya. Warga setempat bahkan mengatakan bahwa tanpa jadwal tetap pengangkutan sampah, tumpukan menjadi semakin tinggi setiap harinya, dan tidak ada satu pun solusi cepat yang tampak di permukaan.

Baca Juga:
OTT KPK di Banten Ungkap Dugaan Korupsi yang Libatkan Aparat Hukum dan Pihak Swasta

Di sela-sela tumpukan sampah yang kian tinggi dan bau yang terus menyebar, kekhawatiran lain yang muncul adalah potensi dampak kesehatan. Sejumlah warga menuturkan bahwa belatung dan serangga lain sudah mulai terlihat di beberapa titik sampah, terutama pada kantong sampah yang menyimpan sisa-sisa makanan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan risiko penyebaran bakteri dan penyakit di kawasan yang padat penduduk tersebut. Para ibu yang biasa membawa anak-anak mereka ke pasar untuk belanja kebutuhan rumah tangga kini enggan membawa serta buah hati mereka, karena takut menyentuh sampah atau terkena udara tercemar yang tidak sehat.

Di tengah kegelisahan masyarakat, kritik terhadap penanganan persoalan ini mengalir deras, tidak hanya dari pedagang dan warga lokal, tetapi juga dari tokoh masyarakat dan figur publik. Melalui unggahan di media sosial, seorang komedian lokal terkenal menyuarakan ketidakpuasan dan keprihatinannya terhadap kondisi yang disebutnya sebagai “darurat sampah”. Dalam video yang viral, ia mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi di Tangerang Selatan, sebuah kota yang selama ini dikenal dengan kawasan elit dan fasilitas modernnya, namun kini harus berurusan dengan persoalan mendasar seperti sanitasi lingkungan yang memburuk. Ia menyoroti bagaimana sampah tidak hanya menumpuk di pasar, tetapi juga di area lain seperti bawah jembatan penyeberangan dan ruas jalan utama. Kritikus ini menilai bahwa masalah ini tidak bisa hanya dianggap remeh dan menuntut supaya pemerintah daerah bertindak lebih tegas dan transparan dalam menyelesaikannya.

Menanggapi situasi ini, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan memberikan komentar resmi mengenai langkah-langkah yang sedang diambil oleh pemerintah kota. Ia menyatakan bahwa tindakan penutupan dan penyemprotan area dengan bahan khusus adalah bagian dari penanganan sementara untuk mengurangi dampak langsung dari bau busuk dan potensi kerusakan lingkungan. Selain itu, ia memastikan bahwa proses pengangkutan dan pengelolaan sampah tengah diupayakan secara optimal agar persoalan ini dapat segera diatasi.

Langkah-langkah strategis dalam jangka menengah hingga panjang juga sedang digalakkan oleh pemerintah kota. Beberapa program yang disebutkan antara lain adalah penataan landfill dengan metode terasering di anak Kali Cipeucang untuk mencegah terjadinya longsor, pembangunan bronjong di area landfill, serta pembukaan akses jalan menuju landfill 4. Selain itu, terdapat upaya untuk pembebasan lahan yang diperuntukkan sebagai Material Recovery Facility (MRF), tempat di mana sampah dapat dikelola dan dipilah lebih efisien sebelum masuk ke tempat pembuangan akhir.

Meskipun upaya-upaya itu menjanjikan suatu perubahan, warga masih menunggu implementasi nyata dari kebijakan tersebut. Bagi mereka, setiap hari adalah perjuangan melawan sampah yang tidak kunjung diangkat, yang semakin tinggi dan semakin meluas. Ada rasa frustrasi yang tumbuh, tetapi juga harapan bahwa kerjasama antara masyarakat dan pemerintah akan membuahkan solusi yang lebih permanen. Beberapa warga bahkan berharap agar edukasi tentang pemilahan sampah di tingkat rumah tangga dan pelibatan aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan pasar turut ditingkatkan, karena menurut mereka, upaya penanganan sampah tak bisa hanya dibebankan pada pihak pemerintah saja.

Baca Juga:
Juicefriend Resmi Buka Cabang ke-14 di Bekasi, Hadirkan Minuman Sehat Lebih Dekat ke Masyarakat

Kondisi Pasar Cimanggis kini seperti cermin dari persoalan lingkungan yang lebih luas di tengah kota modern: apakah kemajuan sebuah kota dapat diukur hanya dari infrastruktur megah dan fasilitas modern, sementara persoalan dasar seperti pengelolaan sampah pun masih menjadi tantangan besar? Jawaban atas pertanyaan itu masih terus dicari oleh pemerintah dan masyarakat Tangsel, di tengah tumpukan sampah yang tak kunjung surut di pasar tradisional yang setiap hari menjadi denyut nadi kehidupan warga.

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita