Menu

Mode Gelap

Berita · 16 Des 2025 18:17 WIB

Jembatan Ambruk di Pandeglang, Warga Kreatif Buat Jalur Sementara


 Jembatan Ambruk di Pandeglang, Warga Kreatif Buat Jalur Sementara Perbesar

PROLOGMEDIA – Sudah lebih dari satu minggu sejak jembatan penghubung di Desa Keramatjaya, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, ambruk dan membuat akses utama warga terganggu. Ambruknya jembatan itu bukan sekadar berita biasa bagi masyarakat setempat, tetapi benar‑benar telah mengubah ritme keseharian mereka secara signifikan. Jembatan yang selama puluhan tahun menjadi urat nadi kehidupan desa kini hanya tinggal kenangan, sementara warga berjuang menghadapi realitas baru yang penuh tantangan.

 

Jembatan itu bukan sekadar struktur kayu atau besi; bagi warga, ia adalah penghubung kehidupan. Dari jembatan itu berawal aktivitas sehari‑hari: anak‑anak berangkat ke sekolah, petani mengangkut hasil panennya, pedagang mengantar barang jualan, hingga orang tua yang pergi bekerja pagi hari dan pulang sore. Ketika jembatan ambruk delapan hari lalu, seluruh ritme tersebut terhenti secara tiba‑tiba. Kini, aktivitas warga seolah berjalan di tempat, terputus oleh sebuah jurang kecil yang sulit dilintasi tanpa bantuan alat atau struktur apapun.

 

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya berkata bahwa musibah tersebut terjadi ketika sebuah kendaraan berat melintas dan struktur jembatan yang sudah rapuh tidak lagi mampu menahan beban. “Kami sudah tahu jembatan ini sudah tua dan banyak bagian kayunya yang lapuk, tapi kami tidak menyangka akan ambruk seperti itu,” ujar dia dengan nada sedih. Kehancuran itu membuat akses menuju tiga desa sekitar terputus total, meninggalkan ketidakpastian bagi ribuan warga yang bergantung pada jembatan tersebut.

 

Ketika jembatan tak lagi bisa digunakan, warga pun tidak tinggal diam. Dalam semangat gotong‑royong yang telah menjadi bagian dari budaya mereka, mereka mulai merancang solusi darurat. Ide sederhana namun penuh kreativitas muncul: membangun jembatan sementara dari batang kelapa. Batang kelapa yang kuat dan lentur dianggap sebagai pilihan terbaik untuk membuat jalur darurat yang bisa dilewati sepeda motor maupun pejalan kaki. Alat berat atau material modern mungkin tidak tersedia, namun semangat komunal warga mampu mengubah batang kelapa menjadi struktur sederhana yang cukup kokoh.

 

Warga berkumpul sejak pagi hari, membawa alat sederhana seperti parang, gergaji, dan tali. Satu per satu batang kelapa disusun melintang memenuhi lubang bekas jembatan. Anak‑anak ikut membantu, membawa batang kecil di pundak mereka, sementara orang dewasa menyusun dan menyeimbangkan setiap rangkaian kayu. Proses itu bukan hanya pekerjaan fisik, tetapi juga simbol solidaritas di masa krisis. Meski tak mudah dan membutuhkan tenaga ekstra, warga merasa bangga karena melalui usaha sendiri mereka berhasil kembali membuka akses.

 

“Saya bangga dengan kerja keras warga. Ini bukan hanya soal akses, tapi soal harga diri dan kebersamaan kita,” kata seorang tokoh masyarakat dengan mata berbinar melihat jembatan darurat yang mulai berfungsi perlahan. Jembatan ini, meskipun sederhana, kini menjadi pemandangan sehari‑hari di Desa Keramatjaya. Sepeda motor bergantian melintasi batang kelapa, anak sekolah dengan ransel di punggungnya berjalan hati‑hati, sementara orang tua menuntun becak dan gerobak dorong mereka menyeberang.

 

Baca Juga:
Berapa Butir Telur yang Aman Dikonsumsi Setiap Hari? Panduan Sarapan Sehat

Namun di balik semangat gotong‑royong itu, ada rasa frustasi dan pertanyaan yang tidak bisa diabaikan begitu saja: mengapa pemerintah daerah belum menangani masalah ini? Pemerintah Kabupaten Pandeglang sendiri telah beberapa kali dikabarkan mengetahui kondisi jembatan yang rusak tersebut. Bahkan Wakil Bupati Pandeglang sempat datang melihat langsung kondisi ambruknya jembatan beberapa hari setelah kejadian. Kehadiran wakil kepala daerah itu memberikan secercah harapan bagi warga. Namun harapan ini kembali memudar ketika hingga saat ini belum tampak tindak lanjut yang berarti dalam bentuk perbaikan permanen.

 

Warga mengaku heran dan kecewa karena selama delapan hari sejak jembatan ambruk, belum terlihat alat berat atau tandanya proyek perbaikan berjalan. Waktu terus berjalan, tetapi kehidupan masyarakat masih berjalan di atas batang kelapa yang dirakit seadanya. Aktivitas ekonomi tetap berjalan, tetapi penuh keterbatasan dan risiko. Setiap orang yang melintas harus ekstra hati‑hati, karena struktur sementara ini jelas jauh dari standar keselamatan ideal.

 

Kepala Bidang Bina Marga pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pandeglang sempat memberikan penjelasan singkat kepada wartawan. Menurutnya, pihaknya sudah dalam proses pengiriman bahan material dan alat yang diperlukan. Namun, terdapat sejumlah kendala yang membuat proses itu berjalan lebih lambat dari yang diharapkan. Salah satunya adalah ketersediaan jembatan Bailey atau jembatan besi sementara yang diperoleh dari bantuan Dinas PUPR Provinsi Banten. Sayangnya, kendala tenaga ahli yang bisa merangkai jembatan Bailey itu sendiri menjadi satu halangan yang harus diatasi.

 

Dalam penjelasan itu juga disebutkan bahwa tim teknis diharapkan tiba di lokasi dalam beberapa hari mendatang untuk memulai perakitan jembatan jenis Bailey tersebut. “Kami mohon kepada masyarakat untuk bersabar,” ujar perwakilan pejabat tersebut. Ia menambahkan bahwa pemasangan jembatan semacam ini tidak bisa dilakukan asal‑asalan karena jika struktur baru itu tidak kuat, justru akan menimbulkan masalah baru dan lebih besar bagi warga yang menggunakannya.

 

Waktu yang berjalan lambat membuat warga semakin resah, apalagi saat ini musim hujan tiba dan intensitas hujan yang tinggi cukup sering terjadi. Kekhawatiran akan keselamatan pun meningkat. Tak sedikit warga yang membandingkan kondisi ini dengan pengalaman sebelumnya ketika siswa sekolah di daerah lain harus menyeberangi sungai akibat jembatan yang rusak dan tak kunjung diperbaiki—sebuah contoh nyata bagaimana kelalaian dalam infrastruktur dapat berdampak luas terhadap kehidupan sehari‑hari masyarakat. Mereka tahu bahwa kejadian semacam itu bukan saja berdampak pada mobilitas, tapi juga pada ekonomi dan pendidikan generasi muda.

 

Meski demikian, kehidupan tetap berjalan. Setiap pagi, deru motor dan langkah kaki anak sekolah kembali memenuhi jalur sementara yang telah dibuat. Warga saling memberi semangat satu sama lain, berbagi tawa meskipun di tengah perjuangan. Mereka tahu bahwa kerja sama dan kesabaran adalah kunci agar hari‑hari ke depan bisa dilewati dengan lebih ringan.

 

Baca Juga:
Jantung Pisang Naik Kelas: Trik Anti Hitam, Cepat Empuk + Resep Super Lezat!

Dalam benak mereka, satu hal yang tak akan pernah hilang adalah harapan: harapan bahwa jembatan permanen akan segera terwujud, bahwa anak‑anak bisa melintas dengan aman, bahwa petani tak perlu lagi khawatir membawa hasil panen mereka, dan bahwa kehidupan bisa kembali normal seperti dahulu. Hingga saat itu tiba, batang kelapa yang disusun dengan penuh perjuangan akan terus menjadi saksi bisu betapa kuatnya semangat dan ketangguhan warga Desa Keramatjaya dalam menghadapi ujian hidup.

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemkab Serang Terima Penghargaan Nasional APDESI di Rakernas 2026

16 Februari 2026 - 13:33 WIB

Pemkab Way Kanan Gelar Musrenbang Kecamatan Negeri Agung, Infrastruktur Jalan Jadi Fokus Utama

10 Februari 2026 - 20:24 WIB

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo, Pasar Km 02 Way Kanan Dibersihkan Lewat Kurve Gabungan

5 Februari 2026 - 14:08 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Kapolres Way Kanan Salurkan Bansos untuk Warga Blambangan Umpu

31 Januari 2026 - 12:10 WIB

TMMD ke-127 Tahun 2026 di Cikeusal Fokus Infrastruktur, UMKM, dan Ketahanan Pangan

29 Januari 2026 - 20:28 WIB

Wakili Bupati, Kadis Sosial Resmikan Temu Karya Daerah Karang Taruna Way Kanan Tahun 2026

26 Januari 2026 - 16:10 WIB

Trending di Berita